Catat! Ini Tanggal Niat dan Bacaan Doa Puasa Nisfu Syaban 2022

Gravatar Image
Keutamaan dan Niat Puasa Malam Nisfu Syaban
Keutamaan dan Niat Puasa Malam Nisfu Syaban

Catat! Ini Tanggal Niat dan Bacaan Doa Puasa Nisfu Syaban 2022 ~ Headline.co.id (Islam). Malam Nisfu Syaban merupakan bulan yang penuh keberkahan, tetapi tidak banyak diketahui. Perlu diketahui bahwa, Syaban merupakan bulan kedelapan dalam 12 bulan penanggalan Islam, sedangkan Nisfu memiliki arti pertengahan.

Baca juga: Bagaimana Hukum Ngupil dan Mengorek Telingga, Apakah Membatalkan Puasa atau tidak?

Sehingga, Nisfu Syaban memiliki arti pertengahan bulan Syaban. Bulan Syaban sendiri merupakan waktu terbaik untuk meningkatkan amalan dan perbuatan baik, termasuk berpuasa sunah.

Di Indonesia, malam Nisfu Syaban sering diperingati dengan ibadah khusus, karena kurang lebih setengah bulan lagi akan bertemu dengan bulan Ramadhan. Nisfu Syaban ini diperingati setiap tanggal 15 bulan kedelapan dari kalender Islam.

Baca juga: Bacaan Niat Puasa Senin Kamis dan Doa Berbuka Arab Latin dan Artinya

Pada malam Nisfu Syaban dikatakan bahwa Allah SWT akan mengampuni umat-Nya kecuali golongan orang musyrik atau orang yang bersitegang/bersengketa, sebagaimana Abu Musa Al-Asyari dari rasulullah SAW bersabda:

إن الله ليطلع في ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Sesungguhnya Allah melihat waktu malam pertengahan Sya’ban, maka (Allah) mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bersengketa,” (HR. Ibnu Majah).

Baca juga: Bacaan Niat Puasa Senin Kamis Sekaligus Membayar Hutang Puasa Ramadhan

Lalu, kapan nisfu Syaban jatuh pada tahun 2022 ini?

Jika mengacu pada kalender masehi, Nisfu Syaban tahun 2022 di Indonesia akan bertepatan pada Jumat, 18 Maret 2022 mendatang. Nisfu Syaban kali ini pun bertepatan dengan bulan purnama yang diperhitungkan akan terjadi pada Jumat, 18 Maret 2022 pukul 14.28 WIB.

Pada malam nisfu Syaban, umat muslim berdoa kepada Allah SWT untuk panjang umur, murah rezeki, dan tetap iman. Umat Muslim juga biasanya membaca 3 kali Surat Yasin di sela doa tersebut.

Baca juga: Susunan Bacaan Dzikir dan Doa Setelah Sholat Fardhu Lengkap Arab, Latin dan Artinya

Niat Puasa Nisfu Syaban

Bulan Syaban merupakan salah satu bulan baik dalam islam, salah satu ibadah pada bulan ini adalah puasa Syaban. Bagi yang ingin melaksanakan puasa Syaban, berikut niat dalam tulisan Arab, Latin, dan terjemahan bahasa Indonesia:

نويت صوم غد عن شهر شعبان سنة لله تعالى.

Nawaitu shauma ghadin ‘an syahri sya’ban sunnatan lillaahi ta’ala.

Artinya: Saya niat berpuasa besok dari bulan Syaban sunnah karena Allah Ta’ala.

Selain melakukan puasa pada siang ahrinya, umat Islam juga dianjurkan melaksanakan sholat malam Nisfu Syaban.

Baca juga: Lirik Sholawat Al Fatih Arab, Latin dan Terjemahan Viral di Tik Tok

Meskipun hukum melaksanakannya adalah sunnah, namun Allah SWT akan melimpahkan pahala bagi yang mengerjakannya.

Adapun tata cara melakukan ibadah sholat malam Nisfu Syaban adalah dimulai dengan membaca niat berikut ini:

اُصَلِّىْ سُنَّةً نِصْفُ شَعْبَانَ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Usholli sunnatan nisfu sya’baana rak’ataini lillahi ta’ala

Artinya: “Saya salat sunnat Nisfu Sya’ban dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

Baca juga: Tips Sukses Menabung untuk Beli Hewan Qurban

Rakaat pertama membaca membaca Al-Fatihah dan dianjurkan membaca surat Al-Kafirun, sementara rakaat kedua membaca surat Al-Ikhlas sesudah Al-Fatihah.

Setelah itu dilanjutkan dengan membaca Surat Yasin sebanyak tiga kali sembari memohon pengampunan, perlindungan, dan kelimpahan rezeki kepada Allah SWT.

Usai berdoa, lanjutkan dengan membaca doa malam Nisfu Syaban yang tertulis di bawah ini dalam bahasa Arab, Latin, dan Indonesia.

Doa Malam Nifsu Syaban

Dikutip dari situs Nahdlatul Ulama (NU), berikut doa yang dibaca saat malam nisfu Syaban:

اَللّٰهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الخَائِفِيْنَ اللّٰهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِيْ عِنْدَكَ فِيْ أُمِّ الكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُومًا أَوْ مُقْتَرًّا عَلَيَّ فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللّٰهُمَّ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِي وَاقْتِتَارَ رِزْقِيْ، وَاكْتُبْنِيْ عِنْدَكَ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِيْ كِتَابِكَ المُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ “يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ” وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَــالَمِيْنَ

Allâhumma yâ dzal manni wa lâ yumannu ‘alaik, yâ dzal jalâli wal ikrâm, yâ dzat thawli wal in‘âm, lâ ilâha illâ anta zhahral lâjîn wa jâral mustajîrîn wa ma’manal khâ’ifîn. Allâhumma in kunta katabtanî ‘indaka fî ummil kitâbi syaqiyyan aw mahrûman aw muqtarran ‘alayya fir rizqi, famhullâhumma fî ummil kitâbi syaqâwatî wa hirmânî waqtitâra rizqî, waktubnî ‘indaka sa‘îdan marzûqan muwaffaqan lil khairât. Fa innaka qulta wa qawlukal haqqu fî kitâbikal munzal ‘alâ lisâni nabiyyikal mursal, “yamhullâhu mâ yasyâ’u wa yutsbitu, wa ‘indahû ummul kitâb” wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammad wa alâ âlihî wa shahbihî wa sallama, walhamdu lillâhi rabbil ‘alamîn.

Artinya:

“Wahai Tuhanku yang maha pemberi, engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemberi segala kekayaan dan segala nikmat. Tiada tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut.

Baca juga: Lirik Sholawat Ya Sayyidi Ya Rasulullah Arab, Latin dan Terjemahan

Tuhanku, jika Kau mencatatku di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezekiku.

Catatlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufiq untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata–sementara perkataan-Mu adalah benar–di kitabmu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, ‘Allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki.

Di sisi-Nya Lauh Mahfuzh.’ Semoga Allah memberikan shalawat kepada Sayyidina Muhammad SAW dan keluarga beserta para sahabatnya. Segala puji bagi Allah SWT”.

Doa ini tertera dalam Kitab Maslakul Akyar karya Mufti Betawi Sayyid Utsman bin Yahya, (Lihat Sayid Utsman, Maslakul Akhyar, [Jakarta, Al-Aidrus: tanpa catatan tahun], halaman 78-80).

Dhamir mufrad pada doa ini dapat diganti menjadi dhamir jamak bila dibaca berjamaah.

Baca juga: Doa Sapu Jagat Latin Dan Artinya Beserta Kegunaannya

Dalil Puasa Syaban Dalil pelaksanaan puasa Sya’ban adalah hadits shahih dari Nabi Muhammad saw: “Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra, ia berkata: ‘Rasulullah saw sering berpuasa sehingga kami katakan: ‘Beliau tidak berbuka’; beliau juga sering tidak berpuasa sehingga kami katakan: ‘Beliau tidak berpuasa’; aku tidak pernah melihat Rasulullah saw menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadlan; dan aku tidak pernah melihat beliau dalam sebulan (selain Ramadhan) berpuasa yang lebih banyak daripada puasa beliau di bulan Sya’ban’.” (Muttafaqun ‘Alaih. Adapun redaksinya adalah riwayat Muslim). Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra, ia berkata: “… Rasulullah saw sering berpuasa Sya’ban seluruhnya; beliau sering berpuasa Sya’ban kecuali sedikit saja’.” (HR Muslim).

Melansir dari laman NU Online, merujuk Imam an-Nawawi, para ulama menjelaskan bahwa redaksi kedua: “Beliau sering berpuasa Sya’ban kecuali sedikit saja”, merupakan penjelas bagi redaksi pertama, yaitu: “Rasulullah saw sering berpuasa Sya’ban seluruhnya”. Maksudnya, redaksi kedua itu menjelaskan, maksud Rasulullah saw sering berpuasa Sya’ban seluruhnya adalah berpuasa pada sebagian besarnya. (Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmû’ Syarhul Muhaddzab, juz VI, h. 386).

Dikutip dari laman yang sama, ada hadis yang mengharamkan puasa pada separuh kedua bulan Sya’ban, “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, sungguh Rasullah saw bersabda: ‘Ketika Sya’ban sudah melewati separuh bulan, maka janganlah kalian berpuasa.” (HR Imam Lima: Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Baca juga: Dialog Lintas Agama di Manado dihadiri 4 Perwakilan Negara Sahabat

Puasa Sya’ban sendiri dilaksanakan mulai dari tanggal 1 atau paling maksimal tanggal 15. Dikutip dari laman NU Online, permasalahan ini secara lebih detail as-Sayyid al-Bakri menjelaskan tiga pengecualian keharaman puasa separuh kedua bulan Sya’ban. Pertama, ​​​​​​disambung dengan puasa pada hari-hari sebelumnya, meskipun dengan puasa tanggal 15 Sya’ban. Semisal orang puasa pada tanggal 15 Sya’ban, kemudian terus berpuasa pada hari-hari berikutnya, maka tidak haram. Kedua, bertepatan dengan kebiasaan puasanya. Semisal orang biasa puasa Senin Kamis atau puasa Dawud, maka meskipun telah melewati separuh Sya’ban ia tetap tidak haram berpuasa sesuai kebiasaannya. Ketiga, merupakan puasa nazar atau puasa qadha’, meskipun qadha dari puasa sunnah. Bila demikian maka tidak haram. (Zainuddin bin Abdil Aziz al-Malibari, Fathul Mu’în pada I’ânatut Thâlibîn, [Beirut, Dârul Fikr], juz II, h. 273-274).

Baca juga: Kementerian Agama Gelar Kemah Moderasi Lintas Agama

Keutamaan Puasa Nisfu Syaban

Puasa sunah pada bulan Syaban memiliki keutamaan. Mengutip dari laman NU Online, keutamaan pertama, yakni agar umat muslim tidak lalai. Bulan Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia sebab terjepit di antara dua bulan mulia yaitu Rajab dan Ramadhan, sehingga disunnahkan puasa Sya’ban agar tidak lalai. Selain itu, bulan Syaban merupakan bulan ketika amal ibadah manusia dilaporkan kepada Allah Subhanu wa Ta’ala sehingga disunnahkan puasa Sya’ban agar saat laporan tahunan tersebut orang dalam keadaan berpuasa.

Kedua, mendapatkan syafaat dari Rasulullah. Keutamaan ini telah dijelaskan dalam sebuah hadis: “Puasa sunnah yang keduabelas adalah Puasa Sya’ban, karena kecintaan Rasulullah saw terhadapnya. Karenanya, siapa saja yang memuasainya, maka ia akan mendapatkan syafaat belau di hari kiamat.” (Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi, Nihâyatuz Zain fi Irsyâdil Mubtadi-în, [Bairut, Dârul Fikr], h. 197).

Baca juga: Pemkab Berencana Terapkan Program Gerakan Sekolah Mengaji untuk Jenjang SD dan SMP di Lumajang

Ketiga, bulan melatih diri sebelum berhadapan dengan bulan Ramadan. Dilansir dari laman PN Cilacap, bulan Sya’ban adalah bulan latihan, pembinaan dan persiapan diri agar menjadi orang yang sukses beramal shalih di bulan Ramadhan. Hendaknya bulan Sya’ban diisi dengan amalan-amalan sunah agar siap menyambut bulan suci Ramadhan.

Keempat, menyirami amal salih. Dilansir ari laman PN Cilacap, saat bulan Ramadhan kita dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunah seperti membaca Alquran, berdzikir, beristighfar, salat tahajud dan witir, shalat dhuha, dan sedekah. Kita perlu berlatih agar mampu melakukan hal itu semua dengan ringan dan istiqamah.

Baca juga: Kemenag: Label Baru Halal Indonesia Tidak Jawa Sentris

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *