Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat mengenai bahaya kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan mata. Paparan partikel asap dapat menyebabkan mata merah dan perih karena memicu iritasi atau reaksi alergi. Peringatan itu disampaikan Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI Siti Nadia Tarmizi pada Rabu (14/10/2026), di tengah risiko paparan kabut asap di wilayah terdampak karhutla. Untuk mengurangi dampaknya, masyarakat disarankan menggunakan kacamata dan membilas mata dengan air bersih jika mengalami iritasi.
Kabut Asap Karhutla Picu Mata Merah dan Perih
Nadia mengatakan, kabut asap karhutla tidak hanya mengganggu sistem pernapasan, tetapi juga dapat mengenai mata. Partikel asap yang berukuran cukup besar berpotensi menimbulkan iritasi ketika masuk atau mengenai permukaan mata.
“Kalau karhutla, karena ada partikel-partikel asap yang pasti cukup besar, itu bisa juga pada orang-orang yang terkena matanya, ya. Itu [kabut asap] menimbulkan mata merah, mata perih,” ujar Nadia, dikutip dari Detik.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Menurut Nadia, gangguan mata akibat kabut asap umumnya berkaitan dengan iritasi atau reaksi alergi terhadap partikel yang masuk. Meski demikian, masalah kesehatan mata akibat paparan asap disebut tidak sebanyak gangguan pernapasan, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan asma.
Perbedaan dampak tersebut tidak berarti paparan terhadap mata dapat diabaikan. Partikel asap yang terus mengenai mata dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan, apabila iritasi tidak ditangani, berisiko berkembang menjadi gangguan yang lebih serius.
Kemenkes Sarankan Menggunakan Kacamata
Untuk melindungi mata dari paparan kabut asap karhutla, Nadia menyarankan masyarakat di wilayah terdampak menggunakan kacamata. Menurut dia, kacamata dapat membantu mengurangi kontak langsung mata dengan partikel asap maupun serpihan berukuran besar.
Nadia menjelaskan, kacamata hitam tidak hanya berfungsi melindungi mata dari paparan sinar ultraviolet (UV). Dalam kondisi karhutla, perlengkapan tersebut juga dapat memberikan perlindungan tambahan ketika mata berisiko terkena serpihan atau partikel asap berukuran besar.
“Selain melindungi dari paparan ultraviolet (UV), [kacamata hitam] juga pada kasus-kasus karhutla, kalau terkena serpihan ataupun karena partikel-partikel besar, itu bisa melindungi mata,” jelasnya.
Anjuran tersebut ditujukan kepada masyarakat yang berada di wilayah terdampak kabut asap. Perlindungan mata menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan langsung partikel yang dapat memicu mata merah, perih, serta reaksi iritasi atau alergi.
Jangan Mengucek Mata Saat Teriritasi
Nadia juga mengimbau masyarakat tidak mengucek mata ketika mengalami iritasi akibat paparan kabut asap. Sebagai gantinya, mata disarankan dibilas menggunakan air bersih untuk membantu membersihkan partikel yang menjadi pemicu iritasi.
Langkah tersebut penting dilakukan agar iritasi tidak menjadi lebih parah. Mata yang terasa perih atau merah setelah terkena kabut asap sebaiknya tidak digosok karena tindakan itu dapat memperburuk kondisi iritasi.
Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), Profesor Budu, mengatakan iritasi yang dibiarkan dapat memicu peradangan pada mata.
“Kalau mata kita teriritasi, mudah terjadi peradangan mata,” tutur Prof. Budu.
Iritasi Berkelanjutan Berisiko Picu Mata Kering
Prof. Budu menjelaskan, peradangan akibat iritasi dapat mengganggu bagian mata yang berperan dalam produksi cairan dan komponen lapisan air mata. Gangguan tersebut berpotensi memicu kondisi mata kering.
Selain mata kering, iritasi yang berlangsung dalam jangka panjang juga dapat meningkatkan risiko pterigium. Pterigium merupakan pertumbuhan jaringan menyerupai selaput pada permukaan mata.
Dengan demikian, dampak kabut asap karhutla terhadap mata tidak hanya berupa keluhan sementara seperti mata merah dan perih. Apabila paparan dan iritasi berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi peradangan, mengganggu lapisan air mata, serta meningkatkan risiko pertumbuhan jaringan pada permukaan mata.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















