Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk infrastruktur Pipa Transmisi Gas Bumi ruas Dumai-Sei Mangkei (Dusem) Segmen 2 telah mencapai 32 persen hingga akhir Juli 2026. Pencapaian ini melampaui target yang telah direncanakan berkat kontribusi 447 tenaga kerja terampil di lapangan. Progres signifikan ini diharapkan dapat memperkuat integrasi infrastruktur gas bumi nasional guna mendukung ketahanan energi Indonesia.
Informasi tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, dalam keterangan resminya saat melakukan peninjauan lapangan pada Kamis (30/7/2026). Laode menegaskan bahwa percepatan pembangunan infrastruktur ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan pemerintah untuk memperkuat jaringan gas bumi nasional. Menurutnya, kerja keras tim lapangan menunjukkan bahwa integrasi energi dari wilayah Sumatera Utara hingga Riau berjalan sesuai rencana.
“Alhamdulillah, progres lapangan untuk Segmen 2 saat ini sudah menyentuh angka 32 persen,” ujar Laode. Proyek transmisi pipa gas ini memiliki panjang sekitar 535,4 kilometer, membentang dari SKG Belawan hingga Fasilitas Duri, dan dilaksanakan dengan standar keselamatan yang tinggi. Hingga saat ini, proyek tersebut telah mencatatkan 300 ribu jam kerja aman tanpa kecelakaan kerja.
Pekerjaan proyek pipa gas Dusem dibagi menjadi dua segmen yang dikerjakan secara paralel. Segmen 1 menghubungkan wilayah Belawan hingga Stasiun Labuhan Batu, sementara Segmen 2 menghubungkan Stasiun Labuhan Batu hingga Fasilitas Duri. Seluruh rangkaian konstruksi besar ini ditargetkan selesai sepenuhnya pada akhir tahun 2027 hingga awal 2028.
Meskipun deviasi progres fisik menunjukkan tren positif, Kementerian ESDM menekankan agar percepatan pembangunan tidak mengabaikan aspek kualitas teknis dan keselamatan. Laode mengingatkan semua pihak, baik kontraktor maupun tim teknis, agar tidak cepat berpuas diri demi menjaga keandalan jaringan pipa dalam jangka panjang. “Standar kedalaman ini penting tidak hanya untuk keamanan jangka panjang pipa, tetapi juga menjadi poin krusial saat uji kelayakan teknis maupun audit pemeriksaan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK),” kata Laode.


















