Headline.co.id ~ Banda Aceh (Kemenag) — Wakil Menteri Agama mendorong Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) bertransformasi menjadi universitas berbasis riset yang menghasilkan karya ilmiah sekaligus memberi dampak nyata bagi masyarakat. Dorongan itu disampaikan saat menghadiri Milad ke-63 Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry di Aceh, Kamis (5/11/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia memaparkan lima kebijakan riset PTKIN, mulai dari penguatan tradisi penelitian berbasis STEM hingga perluasan kolaborasi internasional.
Wamenag menilai, pengembangan riset PTKIN perlu dilakukan dengan mengintegrasikan ilmu agama dan sains. Menurutnya, tradisi penelitian harus diperkuat agar perguruan tinggi keagamaan tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat dan memberi masukan bagi penyusunan kebijakan pemerintah.
Lima kebijakan riset PTKIN
Kebijakan pertama adalah mentransformasikan PTKIN menjadi Research Intensive University. Melalui arah tersebut, kegiatan penelitian diharapkan menjadi ruh utama aktivitas akademik di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Kedua, Wamenag mendorong penguatan riset berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Pada 2026, penguatan kajian keagamaan diharapkan berjalan seiring dengan riset STEM untuk menjawab tantangan zaman dan amanat Presiden.
Ia menegaskan, ilmu agama tidak seharusnya dipisahkan secara dikotomis dari ilmu pengetahuan yang berkembang melalui pengamatan terhadap alam semesta.
“Islam itu tidak pernah secara dikotomi membedakan ayat-ayat Allah, baik yang dalam kitab maupun yang ada di alam ini,” ujar Wamenag.
Menurut dia, matematika, biologi, fisika, hingga kedokteran juga merupakan bagian dari upaya memahami dan mengamalkan ajaran agama. Karena itu, cara pandang yang memisahkan pendidikan agama dari ilmu pengetahuan umum perlu dievaluasi.
“Maka ilmu itu adalah bagian daripada din (agama). Dan din itu adalah amanah yang harus kita tunaikan dalam kehidupan,” tegasnya.
Kebijakan ketiga ialah meningkatkan kolaborasi internasional melalui pengembangan riset bersama perguruan tinggi dan lembaga dunia. Wamenag menyebut sejumlah inisiatif kerja sama yang telah berjalan maupun sedang dikembangkan, di antaranya dengan Leiden University, British Council, Deakin University, dan Rochester University.
Bidang kajian yang menjadi perhatian dalam kerja sama tersebut mencakup ekoteologi, kesehatan, dan ilmu alam. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas penelitian sekaligus meningkatkan pengakuan terhadap karya ilmiah akademisi Indonesia di tingkat internasional.
Kebijakan keempat adalah mendorong impactful research atau riset yang memberikan dampak. Wamenag mengatakan, peningkatan kapasitas peneliti diperlukan agar karya ilmiah tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
“Kapasitas para peneliti terus kita tingkatkan agar karya ilmiah yang lahir tidak sekadar menjadi fosil perpustakaan melainkan memberi solusi nyata bagi masyarakat,” ungkap Wamenag.
Kebijakan kelima berupa perluasan akses dan berbagi sumber pustaka melalui jejaring literatur antar-PTKIN. Langkah tersebut diharapkan memperluas akses publikasi serta mendukung peningkatan pengakuan terhadap karya ilmiah akademisi Indonesia di tingkat internasional.
PTKIN didorong berperan dalam kebijakan pemerintah
Selain memaparkan lima kebijakan riset PTKIN, Wamenag mendorong perguruan tinggi keagamaan mengambil peran lebih besar dalam memberikan masukan bagi penyusunan kebijakan pemerintah. Ia mencontohkan praktik di Kanada, ketika pemerintah melibatkan universitas untuk melakukan kajian dan menyusun naskah akademik sebelum sebuah program dijalankan.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki kapasitas keilmuan yang dapat dimanfaatkan untuk mengkaji berbagai program pemerintah. Kajian tersebut, kata dia, dapat dilakukan dari perspektif agama secara menyeluruh dengan melibatkan beragam disiplin ilmu.
Wamenag juga mengusulkan agar forum rektor PTKIN menjadi ruang bersama untuk mengkaji kebijakan pemerintah dan menyampaikan rekomendasi berbasis keilmuan.
“Maksud saya bisa nggak dibuat ini kan ada forum rektor mengkaji semua kebijakan presiden secara Islam, secara agama. Itu kalau saya bilang secara agama itu sudah matematika, sudah statistika, sudah semua dikaji secara utuh,” tuturnya.
Ia berharap hasil kajian perguruan tinggi dapat menjadi salah satu rujukan pemerintah dalam merumuskan dan melanjutkan program-program pembangunan. Dengan demikian, perguruan tinggi keagamaan tidak hanya berperan dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga berkontribusi dalam proses penyusunan kebijakan.
Apresiasi untuk UIN Ar-Raniry
Dalam arahannya, Wamenag mengapresiasi berbagai capaian UIN Ar-Raniry, mulai dari akreditasi unggul hingga sejumlah prestasi akademik dan kelembagaan lainnya.
Ia berharap UIN Ar-Raniry terus meningkatkan kualitas akademik, memperkuat tradisi riset, serta memperluas kontribusinya bagi masyarakat dan pembangunan bangsa. Semangat tersebut sejalan dengan dorongan agar PTKIN menghasilkan penelitian yang menghubungkan kajian keagamaan, sains, dan kebutuhan nyata masyarakat.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















