Headline.co.id ~ Penanganan banjir Pidie Jaya, Aceh, dipercepat Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui pekerjaan tanggap darurat serta rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab rekon). Hingga 2 November 2026, sejumlah pekerjaan darurat telah selesai, sedangkan pembangunan infrastruktur permanen masih berlangsung di sejumlah sungai dan muara. Langkah ini dilakukan Kementerian PU untuk memulihkan fungsi sungai, mengurangi risiko banjir berulang, serta menjaga layanan irigasi dan air baku masyarakat.
Penanganan tersebut dilaksanakan di Kabupaten Pidie Jaya melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatra I. Selain mengendalikan aliran sungai, program itu mencakup pengelolaan sedimen, perlindungan tebing, penanganan muara, pemulihan jaringan irigasi air tanah, dan pembangunan sarana air baku.
Penanganan Banjir Pidie Jaya pada Tahap Darurat
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan penanganan bencana hidrometeorologi dilakukan melalui kombinasi langkah tanggap darurat dan persiapan penanganan jangka panjang. Menurut dia, kesiapsiagaan diperlukan karena kondisi Aceh yang memiliki curah hujan tinggi.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Aceh sebenarnya hampir tidak pernah kering dan selalu hujan, sehingga tim kita selalu siaga dan sudah melakukan persiapan khususnya di beberapa wilayah yang penah bencana,” kata Dody dalam keterangannya di Jakarta, seperti dilansir Kamis (5/11/2026).
Pada tahap tanggap darurat, BWS Sumatra I telah menyelesaikan normalisasi sungai sepanjang 1.000 meter di Dayah Husen. Pekerjaan lainnya berupa pembangunan tanggul darurat sepanjang 100 meter, pemasangan bronjong sepanjang 152 meter di Seunong, serta normalisasi dan pembangunan tanggul sepanjang 500 meter di Blang Awee.
Penanganan darurat juga meliputi pemulihan jaringan irigasi dan sejumlah infrastruktur sumber daya air lainnya. Adapun pengerukan muara Krueng Meureudu sepanjang 500 meter masih berlangsung untuk memperlancar aliran air menuju laut.
Rehabilitasi Sungai dan Pengerukan Muara
Dalam program rehab rekon, Kementerian PU menangani pengendalian banjir di Krueng Meureudu dan Krueng Ulim melalui Paket Satu dan Paket Dua. Pekerjaan tersebut dilengkapi pengerukan muara Krueng Meureudu dan Krueng Beuracan, serta pembangunan jetty dan pengerukan muara Krueng Panteraja.
Penanganan muara Krueng Meureudu dan Krueng Beuracan masing-masing memiliki outcome seluas 5 hektare. Progres pekerjaan di kedua lokasi itu tercatat 43,38 persen dan 29,50 persen.
Kepala BWS Sumatra I Asyari mengatakan pihaknya akan meningkatkan kesiapsiagaan dan merespons cepat setiap kejadian banjir serta tanah longsor di seluruh kabupaten dan kota di Aceh. Pernyataan itu disampaikan sesuai arahan Menteri PU dan Direktur Jenderal Sumber Daya Air.
“Selain penanganan darurat, langkah selanjutnya difokuskan pada percepatan penanganan permanen melalui pembangunan sabodam, perkuatan tebing sungai, serta normalisasi sungai dan muara. Upaya ini dilakukan sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam mengurangi risiko bencana, meningkatkan perlindungan masyarakat, serta mewujudkan infrastruktur sumber daya air yang lebih tangguh dan berkelanjutan,” ujar Asyari.
Empat Sabo Dam Disiapkan di DAS Meureudu
Penanganan Daerah Aliran Sungai (DAS) Meureudu direncanakan dengan menggabungkan pekerjaan sungai dan pengendalian sedimen. Rencana pekerjaan sungai memiliki total panjang 13.706 meter, yang terdiri atas 6.731 meter di sisi kiri dan 6.975 meter di sisi kanan.
Selain pekerjaan sungai, pemerintah merencanakan pengerukan sedimen sebanyak 871.067 meter kubik. Kementerian PU juga menyiapkan pembangunan empat sabo dam dengan total kapasitas tampungan 1,4 juta meter kubik.
Sabo dam tersebut dirancang untuk menahan material debris, mengendalikan pergerakan sedimen, dan menjaga kestabilan dasar sungai. Perlindungan tebing menggunakan struktur batu juga menjadi bagian dari rencana untuk mengurangi risiko limpasan dan gerusan.
Seluruh pekerjaan itu disusun sebagai penanganan terpadu yang menghubungkan pengendalian aliran sungai, pengelolaan sedimen, hingga penanganan muara.
Pemulihan Irigasi dan Sarana Air Baku
Program rehab rekon di Pidie Jaya tidak hanya berfokus pada pengendalian banjir. Kementerian PU juga memulihkan jaringan irigasi air tanah (JIAT) serta membangun 12 unit sarana air baku dengan total debit 0,024 meter kubik per detik.
Kementerian PU melanjutkan pekerjaan tanggap darurat dan rehab rekon secara bertahap sesuai kondisi lapangan. Perpaduan pemulihan segera dan pembangunan infrastruktur permanen ditujukan untuk memperkuat perlindungan kawasan terdampak, memulihkan layanan sumber daya air, dan mengurangi risiko bencana serupa pada masa mendatang.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.
















