Headline.co.id, Jakarta ~ Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) telah menyalurkan bantuan non-Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai Rp96 miliar kepada sekitar 1,3 juta penerima manfaat. Program yang diinisiasi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) itu menyasar keluarga berisiko stunting di berbagai wilayah Indonesia. Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji menyampaikan capaian tersebut dalam GENTING Collaboration Summit 2026 di Jakarta, Kamis (5/11/2026). Bantuan disalurkan langsung oleh para mitra kerja berdasarkan data sasaran kementerian untuk mempercepat intervensi bagi keluarga yang belum terjangkau program reguler.
Wihaji menjelaskan, GENTING dirancang untuk memangkas hambatan birokrasi dalam penanganan keluarga berisiko stunting. Melalui kolaborasi pemerintah dan pemangku kepentingan, kebutuhan masyarakat dapat ditangani tanpa sepenuhnya bergantung pada prosedur anggaran negara.
“Kadang-kadang untuk membantu rumah saja, syaratnya harus ada sertifikatnya. Pertanyaannya, sampai kapan orang yang belum beruntung itu harus menunggu? Di situlah GENTING menjadi salah satu jawaban untuk mempercepat negara hadir, pemerintah hadir, dan stakeholder hadir,” ujar Wihaji.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
GENTING Menjangkau Keluarga Berisiko Stunting
Gerakan GENTING lahir dari kebutuhan untuk mendampingi sekitar 8,1 juta keluarga berisiko stunting (KRS) di Indonesia. Dukungan yang diberikan tidak diseragamkan, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan riil keluarga penerima di lapangan.
Bentuk intervensi tersebut mencakup pemenuhan nutrisi, penyediaan rumah layak huni, pembangunan jamban, serta akses terhadap air bersih. Dengan cakupan bantuan yang beragam, program ini tidak hanya berfokus pada aspek pangan dan gizi, tetapi juga kondisi tempat tinggal dan sanitasi keluarga.
Dukungan GENTING dihimpun melalui kolaborasi berbagai pihak, termasuk sektor perbankan, badan usaha, dan lembaga swasta. Para mitra menyalurkan bantuan secara langsung dengan mengacu pada data sasaran yang disediakan kementerian.
Skema tersebut memungkinkan intervensi dilakukan lebih cepat karena tidak harus menunggu seluruh proses dalam mekanisme anggaran negara. Wihaji menyebut bantuan yang terkumpul melalui GENTING dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan data penerima dan jenis kebutuhan yang dipenuhi.
Jenis bantuan itu meliputi dukungan nutrisi, rumah layak huni, sanitasi, dan akses air bersih. Atas keterlibatan berbagai pihak, Wihaji menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra yang berpartisipasi membantu keluarga yang membutuhkan.
Penanganan Stunting Jadi Investasi SDM
Menurut Wihaji, penanganan stunting merupakan bagian dari investasi pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang hasilnya membutuhkan waktu. Dampak program tidak selalu terlihat dalam waktu singkat, tetapi menentukan kualitas generasi mendatang.
Urgensi intervensi tersebut terlihat dari prevalensi stunting di Indonesia yang masih berada pada angka 19,8 persen. Pada saat yang sama, tingkat kelahiran mencapai sekitar 4,8 juta anak setiap tahun.
Karena itu, pemenuhan gizi dan pendampingan keluarga sejak dini menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan stunting. Gerakan GENTING digunakan untuk memperkuat dukungan terhadap keluarga yang memerlukan intervensi sesuai kondisinya.
Pemerintah juga menerapkan pendekatan pembangunan keluarga berdasarkan siklus kehidupan dari hulu ke hilir. Pendekatan itu mencakup calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, balita, remaja, hingga lanjut usia.
Kolaborasi Menjawab Tantangan Demografi
Pendekatan sepanjang siklus kehidupan tersebut diterapkan untuk menjawab tantangan demografi nasional. Saat ini, populasi lanjut usia mencapai 11,9 persen, sedangkan jumlah populasi remaja mencapai 66 juta jiwa.
Melalui penanganan terpadu dalam Gerakan GENTING, pemerintah berharap kolaborasi lintas sektor terus diperkuat. Penguatan kerja sama itu ditujukan agar dukungan dapat menjangkau seluruh keluarga yang membutuhkan.
Program tersebut diharapkan mempercepat pencegahan stunting sekaligus mendukung peningkatan kualitas SDM di Indonesia. Ketika bantuan disalurkan berdasarkan data sasaran dan kebutuhan keluarga, intervensi dapat diarahkan pada masalah yang dihadapi penerima, mulai dari gizi hingga kondisi rumah dan sanitasi.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.
















