Headline.co.id ~ Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mendorong penguatan kesadaran ekonomi syariah di tingkat akar rumput melalui langkah yang lebih konkret. Pesan itu disampaikan saat menerima audiensi Korps Alumni Forum Silaturahim Studi Ekonomi Syariah (FoSSEI) di kantor pusat Kementerian Agama, Jakarta, Kamis (5/11/2026). Menag meminta FoSSEI berperan dalam mengoptimalkan potensi ekonomi syariah berbasis masjid dan pesantren, termasuk melalui pendirian unit usaha ritel. Upaya tersebut dinilai penting untuk memperluas kontribusi ekonomi syariah sekaligus meningkatkan pangsa pasar perbankan syariah nasional yang saat ini baru sekitar 7,4%.
“Kesadaran berekonomi Islam di tingkat akar rumput perlu terus ditingkatkan secara konkret. Kita tidak boleh hanya berhenti pada kegiatan FGD atau workshop. Tantangan utama kita hari ini adalah siapa yang mengeksekusi gagasan-gagasan tersebut,” tegas Menag.
Ekonomi Syariah Berbasis Masjid dan Pesantren
Dalam pertemuan yang dipimpin Ketua Korps Alumni FoSSEI Ahmad Fauzie Nur, Nasaruddin menyoroti tantangan pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Menurut dia, meskipun Indonesia memiliki populasi muslim terbesar, pangsa pasar perbankan syariah nasional masih berada di kisaran 7,4% dan tertinggal dibandingkan negara tetangga.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Menag yang juga Ketua DPP Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) periode 2025-2030 itu mengatakan, tren kesadaran syariah di kalangan generasi muda dapat menjadi kekuatan bagi FoSSEI. Organisasi tersebut diharapkan mampu memperkokoh perannya sebagai mediator dalam ekosistem ekonomi Islam.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Menag meminta FoSSEI mengoptimalkan potensi yang terdapat di rumah ibadah dan lembaga pendidikan keagamaan. Indonesia, kata dia, memiliki 800.000 masjid dan 40.000 pondok pesantren yang dapat menjadi bagian dari penguatan ekonomi umat.
Salah satu gagasan yang disampaikan ialah pendirian unit usaha ritel berbasis masjid dan pesantren. Bentuknya dapat berupa Masjid Mart atau koperasi masjid dengan memanfaatkan lahan yang tersedia.
“Jika 70% dari masjid di Indonesia yang memiliki lahan memadai difasilitasi dengan mini-supermarket berbasis koperasi masjid dan pesantren, kebutuhan pokok masyarakat dapat terpenuhi secara mandiri sekaligus membangkitkan ekonomi umat di tingkat lokal,” jelas Menag.
Menurut Menag, langkah tersebut dapat menjadi cara untuk merebut pangsa pasar ritel masyarakat yang mencapai puluhan triliun rupiah per tahun. Selain memenuhi kebutuhan pokok secara mandiri, pengembangan unit usaha itu diarahkan untuk membangkitkan kegiatan ekonomi umat di tingkat lokal.
FoSSEI Diminta Mendorong Eksekusi
Menag menyambut positif posisi FoSSEI sebagai forum independen yang dapat menjembatani berbagai lembaga ekonomi Islam di Indonesia. Dengan wadah yang fleksibel, FoSSEI dinilai dapat memediasi peran IAEI di ranah konsep dan regulasi dengan peran Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) di tingkat operasional.
Pesan tersebut menekankan pentingnya pelaksanaan gagasan ekonomi syariah, bukan hanya pembahasan melalui forum diskusi atau lokakarya. Menag menilai tantangan utama saat ini berada pada tahap eksekusi agar gagasan yang telah disusun dapat memberi dampak di masyarakat.
FoSSEI diharapkan turut menghubungkan potensi berbagai pihak untuk memperkuat ekosistem ekonomi Islam. Peran itu mencakup pengembangan ekonomi berbasis masjid dan pesantren serta penguatan kerja sama dengan lembaga-lembaga yang bergerak dalam aspek konseptual, regulasi, dan operasional.
Lebih dari 100.000 Alumni FoSSEI
Ketua Korps Alumni FoSSEI Ahmad Fauzie Nur mengatakan, organisasi tersebut telah berdiri sejak 2000 dan menghimpun lebih dari 100.000 alumni. Para alumni tersebar di berbagai sektor strategis, mulai dari direksi badan usaha milik negara (BUMN), akademisi, hingga pengusaha sektor riil.
Fauzie menyebut potensi utama alumni berada pada kapasitas individu yang menjadi pengambil kebijakan. Kapasitas tersebut dinilai dapat diarahkan untuk meningkatkan pangsa pasar ekonomi syariah melalui pembiayaan berbagai proyek, seperti kawasan industri, manufaktur, dan infrastruktur.
“Kekuatan FoSSEI bukan sekadar pada plang nama organisasinya, melainkan pada ekosistem individu yang bergerak secara nyata. Kami siap mensinergikan potensi alumni dengan lembaga konseptual seperti Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) dan lembaga operasional seperti Masyarakat Ekonomi Syariah (MES),” ujar Fauzie.
Fauzie juga menjabat sebagai Direktur Keuangan PT Danareksa (Persero). Ia menegaskan kesiapan FoSSEI untuk menyinergikan potensi alumninya dengan IAEI dan MES guna mendukung penguatan ekonomi syariah di Indonesia.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.
















