Headline.co.id ~ Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin mengajak santri dan pesantren mengambil peran nyata dalam menjawab persoalan masyarakat. Ajakan itu disampaikan dalam Pidato Kebudayaan pada acara Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (30/10/2026), dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026. Gus Kikin menilai agama dan ilmu pengetahuan menjadi kunci untuk menghadapi tantangan bangsa, mulai dari ketimpangan ekonomi hingga perubahan teknologi. Ia mendorong santri meningkatkan kualitas ilmu, memahami perkembangan zaman, dan terlibat dalam pemberdayaan ekonomi.
“Santri harus terus meningkatkan kualitas ilmu, memahami perkembangan teknologi, terlibat dalam pemberdayaan ekonomi, dan menghadirkan agama sebagai pegangan yang kokoh. Agama harus menjadi fondasi dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan baru sesuai dengan kebutuhan zaman,” ucap Gus Kikin.
Gus Kikin Soroti Ketimpangan Kesejahteraan
Dalam pidatonya, Gus Kikin menyinggung isi buku Presiden Prabowo berjudul Paradoks Indonesia. Menurut dia, buku tersebut mengajak melihat persoalan besar Indonesia yang memiliki kekayaan sumber daya alam dan potensi manusia yang luar biasa, tetapi kesejahteraan belum dinikmati secara merata.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Saya pernah menerima buku Paradoks Indonesia dari Bapak Presiden ketika beliau berkunjung ke Tebuireng. Di dalam buku itu beliau mengajak kita melihat suatu persoalan besar, yaitu Indonesia memiliki kekayaan alam yang begitu banyak dan potensi manusia yang luar biasa, tetapi kesejahteraan belum dinikmati secara merata,” ungkapnya.
Gus Kikin mengatakan ketimpangan ekonomi, pendidikan, kesempatan kerja, kerusakan lingkungan, dan perubahan teknologi merupakan persoalan yang harus dijawab bersama. Karena itu, santri dan pesantren dinilai perlu hadir dengan meningkatkan kapasitas pengetahuan serta mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan kekayaan alam untuk kepentingan rakyat Indonesia. Menurut Gus Kikin, sumber daya alam yang sejak dahulu menjadi daya tarik bangsa-bangsa lain harus dikelola dengan baik agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
“Kekayaan alam yang dahulu diperebutkan oleh bangsa lain harus dapat kita kelola dengan baik untuk kepentingan rakyat Indonesia sendiri,” tegasnya.
Ilmu dan Ukhuwah Jadi Kekuatan Bersama
Gus Kikin menilai persoalan bangsa tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan besarnya sumber daya alam. Upaya tersebut membutuhkan ilmu pengetahuan, kemampuan bekerja sama, dan kesediaan seluruh elemen masyarakat untuk mengutamakan kepentingan bersama.
Menurut dia, ilmu diperlukan agar masyarakat mampu memahami persoalan secara tepat dan menemukan jalan keluar. Sementara itu, ukhuwah dapat menyatukan perbedaan kemampuan dan latar belakang menjadi kekuatan bersama untuk membangun negeri.
“Kita harus meyakini bahwa ilmu dan ukhuwah adalah dua hal yang harus kita kuatkan. Dengan ilmu kita dapat memahami persoalan dan mencari jalan keluar yang tepat. Dengan ukhuwah, kemampuan yang berbeda-beda dapat disatukan menjadi kekuatan bersama,” ujarnya.
Pesan tersebut melanjutkan penekanannya agar agama tidak hanya menjadi pegangan, tetapi juga fondasi dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Santri juga didorong memahami perkembangan teknologi dan terlibat dalam pemberdayaan ekonomi.
Ajakan Mengurangi Perselisihan
Menutup pidato kebudayaannya, Gus Kikin mengajak para santri mengurangi perselisihan yang tidak perlu dan mengarahkan kemampuan untuk kemajuan bangsa. Ia mengingatkan agar kekayaan Indonesia dapat dikelola untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
“Kita kerahkan kemampuan untuk membangun negeri dan kita kurangi perselisihan yang tidak perlu. Jangan sampai kita mewariskan negeri yang kaya, tetapi rakyatnya masih kesulitan untuk menikmati hasil kekayaannya,” tutupnya.
Acara Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal tersebut dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi, serta Sekretaris Jenderal dan jajaran Eselon I dan II Kementerian Agama.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















