Headline.co.id ~ Headline.co.id, Jakarta (Kemenag) — Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyebut ekonomi syariah Indonesia memiliki potensi besar yang belum tergarap secara optimal. Potensi itu ditopang oleh sekitar 250 juta penduduk muslim, kekayaan sumber daya alam, serta keberadaan ratusan ribu masjid di berbagai wilayah Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan Nasaruddin saat membuka Indonesia Ekonomi Syariah Forum and Expo (IESF) 2026 di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (29/10/2026).
Dalam pembukaan forum tersebut, Menag menyoroti peran masjid sebagai bagian dari ekosistem ekonomi syariah. Ia menilai jaringan masjid dapat dikembangkan secara profesional agar tidak hanya berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi kerakyatan melalui usaha, akses permodalan syariah, dan pengelolaan wakaf produktif.
Ekonomi Syariah Disebut sebagai “Raksasa Tidur”
Nasaruddin mengibaratkan ekonomi syariah Indonesia sebagai “raksasa tidur”. Menurut dia, Indonesia memiliki kekuatan pasar domestik yang besar karena ditopang oleh populasi muslim yang mencapai sekitar 250 juta orang.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Selain jumlah penduduk, Menag menyebut berbagai kebutuhan dasar masyarakat dapat dipenuhi dari sumber daya yang tersedia di dalam negeri. Kondisi tersebut dinilai menjadi kekuatan bagi Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
“Kalau kita hitung dari potensi-potensi keumatan yang kita miliki, pertama adalah potensi umat. Sekitar 250 juta umat Islam di Indonesia ini adalah pasar yang luar biasa. Kedua, Semua sumber kehidupan yang membuat kita bertahan hidup ada di dalam negeri kita sendiri,” tegas Menag, Jumat (29/10/2026).
Ia menjelaskan, ketahanan ekonomi Indonesia ditunjang oleh kekayaan bahan pangan, hasil laut, serta keanekaragaman sumber daya alam yang melimpah. Berbagai potensi tersebut, kata dia, menjadi bagian dari kekuatan yang dapat mendukung pengembangan ekonomi syariah di dalam negeri.
Masjid Didorong Mengembangkan Usaha
Menag secara khusus menyoroti peluang pemanfaatan ekosistem masjid di Indonesia. Ia menyebut jaringan masjid dapat memiliki unit usaha, termasuk minimarket, yang dikelola untuk mendukung kemakmuran masjid dan jamaah.
Menurut Nasaruddin, pengelolaan usaha masjid secara profesional memungkinkan keuntungan dikembalikan untuk kepentingan masjid dan jamaah. Pengembangan tersebut juga dinilai dapat memperkuat ekonomi umat, terutama kaum ibu dan pedagang kecil, apabila disertai akses terhadap permodalan syariah.
“Kalau semua masjid itu punya usaha atau minimarket sendiri, keuntungannya dapat kembali untuk kemakmuran masjid dan jamaah. Kekuatan ekonomi umat, khususnya kaum ibu dan pedagang kecil, sangat besar jika kita fasilitasi dengan akses permodalan syariah,” lanjut Menag.
Selain usaha masjid, pengelolaan wakaf produktif menjadi salah satu peluang yang disoroti. Potensi tersebut disebut dapat dikembangkan sebagai bagian dari upaya memperluas manfaat ekonomi syariah bagi masyarakat.
Perguruan Tinggi Diminta Siapkan Lulusan Kompeten
Dalam kesempatan itu, Menag juga menyampaikan pesan kepada perguruan tinggi dan fakultas ekonomi Islam. Ia meminta lembaga pendidikan mencetak lulusan yang tidak hanya memahami teori fikih muamalah, tetapi juga memiliki keahlian teknis.
Keahlian tersebut, menurut Menag, perlu disesuaikan dengan kebutuhan industri perbankan syariah dan pasar global. Dengan demikian, pendidikan ekonomi Islam tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi juga mempersiapkan lulusan untuk memiliki kemampuan yang kompatibel dengan perkembangan industri.
IESF 2026 Diikuti 46 Stan
Direktur Zakat dan Wakaf Badan Pengelola Masjid Istiqlal, Budi Utomo, menyampaikan bahwa penyelenggaraan forum dan pameran tersebut merupakan upaya menjadikan Istiqlal sebagai pusat ekosistem ekonomi syariah nasional.
“Kegiatan ini merupakan upaya kami menerjemahkan ide Imam Besar Istiqlal untuk menghadirkan Istiqlal sebagai pusat kegiatan pengembangan ekonomi syariah, sekaligus merangkum sinergi luar biasa mulai dari Kanwil Kemenag, perguruan tinggi Islam, perbankan, hingga perusahaan swasta,” ungkap Budi.
Budi melaporkan, pameran dalam IESF 2026 diikuti 46 stan. Kegiatan tersebut mengusung visi Istiqlal Ecotourism dalam Green Economy.
Melalui forum dan pameran itu, Budi berharap dapat muncul satu model pengembangan ecotourism berbasis masjid. Gagasan tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan Masjid Istiqlal sebagai pusat kegiatan pengembangan ekonomi syariah sekaligus merangkum sinergi Kementerian Agama, perguruan tinggi Islam, perbankan, dan perusahaan swasta.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















