Headline.co.id, Demak ~ Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) meninjau penanganan abrasi ekstrem dan penurunan muka tanah di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Senin (20/10/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat penerapan solusi berbasis alam atau Nature-Based Solutions (NbS) dalam memperkuat perlindungan pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa. AHY bersama Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) Didit Herdiawan Ashaf memantau penggabungan pemulihan mangrove dan pembangunan struktur pemecah gelombang. Desa Timbulsloko menjadi lokasi percontohan karena wilayah itu menghadapi abrasi, banjir rob, dan penurunan muka tanah.
Kunjungan AHY menyoroti pendekatan penanganan abrasi pesisir Demak yang memadukan solusi berbasis alam dengan rekayasa teknis. Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak gelombang, membantu menangkap sedimen, serta memulihkan ekosistem pesisir yang mengalami degradasi.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Bupati Demak Eisti’anah, Wali kota Semarang, dan Bupati Kendal turut mendampingi peninjauan. Dalam kegiatan itu, penerapan pendekatan hibrida di Desa Timbulsloko menjadi bagian dari strategi perlindungan kawasan pesisir Pantura Jawa.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Abrasi Pesisir Demak Mencapai 279 Meter per Tahun
Perubahan bentang alam Desa Timbulsloko berlangsung selama beberapa dekade. Wilayah yang sebelumnya didominasi sawah, kebun, tambak, dan kawasan mangrove tersebut perlahan kehilangan daratan akibat abrasi, banjir rob, serta penurunan muka tanah.
Berdasarkan dokumen kondisi wilayah yang menjadi acuan penanganan pesisir, laju abrasi di kawasan terdampak disebut mencapai rata-rata 279 meter per tahun. Sementara itu, penurunan muka tanah di sejumlah wilayah Kecamatan Sayung dilaporkan berada pada kisaran 10–20 sentimeter per tahun.
Kerusakan tersebut berdampak terhadap kawasan tambak, permukiman, dan ekosistem mangrove. Genangan rob yang terjadi bersamaan dengan banjir sungai turut memperberat kondisi lingkungan dan aktivitas masyarakat.
Tantangan di Desa Timbulsloko mencerminkan persoalan yang dihadapi kawasan Pantura Jawa. Selain abrasi, banjir rob, dan penurunan muka tanah, tekanan pembangunan serta perubahan iklim juga meningkatkan risiko terhadap lingkungan pesisir dan kehidupan masyarakat.
Perlindungan Pesisir Demak Menggunakan Pendekatan Hibrida
Pemerintah menyiapkan strategi perlindungan pesisir melalui BOPPJ. Lembaga tersebut dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 77 Tahun 2025 dan bertugas mengelola persiapan, perencanaan, pembangunan, serta pengembangan kawasan pesisir Pantura.
Rencana perlindungan pesisir itu mencakup 15 segmen dari Serang hingga Gresik. Pelaksanaannya menggunakan pendekatan hibrida, yakni memadukan rekayasa teknis dengan pemulihan ekosistem alam.
Dalam penerapan di Desa Timbulsloko, pemulihan mangrove dipadukan dengan pembangunan struktur pemecah gelombang. Kombinasi tersebut menjadi bagian dari solusi berbasis alam yang ditinjau AHY bersama BOPPJ dalam kunjungan ke pesisir Demak.
Struktur yang digunakan dalam pendekatan ini bersifat permeabel. Struktur tersebut dirancang untuk mengurangi energi gelombang dan membantu menangkap sedimen. Sedimen yang terkumpul diharapkan mendukung pembentukan daratan sekaligus menciptakan kondisi yang lebih sesuai bagi pertumbuhan mangrove.
Hybrid Engineering Diterapkan Sejak 2013
Pendekatan rekayasa hibrida atau Hybrid Engineering di Desa Timbulsloko telah diterapkan sejak 2013. Kawasan tersebut kemudian menjadi bagian dari program Building with Nature pada 2015–2020.
Penerapan pendekatan itu ditujukan untuk menghadapi tekanan terhadap wilayah pesisir melalui kombinasi infrastruktur dan pemulihan lingkungan. Struktur permeabel membantu mengurangi energi gelombang serta menangkap sedimen, sedangkan mangrove berperan dalam pemulihan ekosistem pesisir.
Desa Timbulsloko ditetapkan sebagai lokasi percontohan penerapan pendekatan tersebut. Program ini diharapkan membantu mengurangi dampak gelombang, mendukung penangkapan sedimen, dan memulihkan ekosistem pesisir yang terdegradasi.
Melalui solusi berbasis alam yang dipadukan dengan rekayasa teknis, perlindungan pesisir diharapkan dapat dilakukan secara lebih terpadu. Strategi tersebut diarahkan untuk menghadapi abrasi, banjir rob, dan penurunan muka tanah yang mengancam kawasan Pantura Jawa.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.





















