Headline.co.id, Jakarta ~ Sebanyak 3.551 peserta mengikuti Humas Level Up edisi ke-17 di Jakarta pada Rabu (14/10/2026). Kegiatan bertema “Menganalisis Lanskap Media Sosial, Merancang Strategi Komunikasi yang Efektif” tersebut menghadirkan Ketua Iprahumas Fachrudin Ali sebagai pembicara. Humas Level Up digelar untuk membekali praktisi kehumasan dalam memahami perubahan media sosial dan menyusun strategi komunikasi publik yang terarah, akurat, serta dapat diukur.
Dalam kegiatan itu, Fachrudin menjelaskan pentingnya Strategic Communication atau komunikasi strategis bagi profesional kehumasan. Menurut dia, kemampuan tersebut tidak hanya dibutuhkan untuk memastikan komunikasi instansi berjalan secara teratur, tetapi juga menjadi salah satu syarat portofolio dalam pemeriksaan kompetensi untuk kenaikan jabatan Pranata Humas Madya.
Stratkom Jadi Bagian Penting Kompetensi Pranata Humas
Fachrudin mengatakan, penguasaan strategi komunikasi diperlukan oleh pranata humas yang ingin mengikuti uji kompetensi untuk naik ke jenjang Madya. Keahlian itu sekaligus membantu lembaga memastikan setiap pekerjaan humas memiliki arah yang jelas dan hasil yang dapat dievaluasi.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Stratkom merupakan salah satu bagian penting yang akan dihadapi pada saat ujian kompetensi Pranata Humas Madya. Oleh karena itu, untuk mengembangkan karier, pranta humas harus menguasai hal ini jika ingin mengikuti uji kompetensi guna naik ke jenjang Madya,” tutur Fachrudin, Rabu (14/10/2026).
Ia menambahkan, strategi komunikasi juga berperan dalam menjaga agar komunikasi instansi berjalan sesuai tujuan, akurat, dan terukur.
“Di luar hal tersebut, strategi komunikasi memiliki peran penting karena diperlukan untuk memastikan bahwa pekerjaan humas dan komunikasi instansi berjalan dengan arah yang tepat, akurat, dan yang terpenting, dapat diukur,” sambung Fachrudin.
Fachrudin membuka sesi pembelajaran dengan mengajak peserta mencermati kebiasaan masyarakat dalam menggunakan media sosial. Ia mencontohkan perilaku seseorang yang langsung memeriksa ponsel setelah bangun tidur. Semula, orang tersebut mungkin hanya bermaksud melihat pesan WhatsApp, tetapi kemudian beralih menggunakan TikTok.
Contoh itu digunakan untuk menunjukkan bahwa media sosial telah terintegrasi dalam aktivitas harian masyarakat. Kondisi tersebut turut memengaruhi cara publik mengonsumsi informasi sehingga praktisi humas perlu memahami kebiasaan serta karakter audiens sebelum menyusun komunikasi.
Strategi Komunikasi Dimulai dari Profil Digital Audiens
Menurut Fachrudin, langkah awal dalam merumuskan strategi komunikasi adalah memahami profil digital komunitas. Dengan merujuk informasi dari APJII 2026, ia menyebut Facebook dan TikTok bersaing ketat sebagai platform yang paling banyak digunakan oleh berbagai kelompok generasi.
Karena itu, pemilihan kanal komunikasi tidak seharusnya hanya didasarkan pada preferensi pengelola media sosial sebuah instansi. Kanal yang dipilih perlu disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan audiens agar pesan yang disampaikan dapat diterima secara lebih tepat.
Dalam penyusunan rencana komunikasi, Fachrudin memaparkan sembilan langkah kunci. Tahapan tersebut meliputi analisis situasi, analisis organisasi, analisis audiens, penentuan tujuan dan target, perumusan tindakan dan respons, strategi pesan, pemilihan metode, pelaksanaan, serta penilaian.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan komunikasi tidak cukup diukur dari jumlah materi yang dipublikasikan. Pengukuran perlu melihat perubahan yang terjadi pada audiens setelah komunikasi dilakukan. Dengan pendekatan tersebut, kegiatan kehumasan diharapkan memiliki tujuan, sasaran, dan indikator keberhasilan yang jelas.
Peserta Diingatkan Menjaga Batas Informasi
Sesi Humas Level Up berlangsung secara interaktif. Fachrudin mengajak peserta berdiskusi mengenai kebiasaan membagikan aktivitas pekerjaan dan program unit kerja melalui akun media sosial pribadi.
Dalam diskusi tersebut, salah satu peserta menyampaikan pengalamannya yang kerap membagikan aktivitas dan program dari unit kerja. Menanggapi hal itu, Fachrudin mengingatkan pentingnya memahami batas informasi yang dapat diumumkan kepada publik.
“Jika berhubungan dengan kerahasiaan perusahaan, mungkin lebih baik dihindari, atau kebijakan yang belum dibuat publik walaupun kita sudah mendapatkannya terlebih dahulu, karena itu merupakan bagian dari program kita,” terangnya.
Melalui Humas Level Up edisi ke-17, para peserta diharapkan tidak hanya mengenali perubahan lanskap media sosial, tetapi juga mampu menerapkan rencana komunikasi yang lebih terstruktur, konsisten, dan terukur. Peningkatan kapasitas tersebut menjadi bagian dari upaya memperbaiki mutu komunikasi publik Kementerian Agama, terutama dalam menyampaikan informasi dan program lembaga serta membangun kepercayaan masyarakat di tengah perubahan ekosistem digital.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















