Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) membekali guru dan tenaga kependidikan dengan kemampuan mitigasi bencana serta layanan dukungan psikososial pascabencana. Pelatihan tatap muka tersebut dilaksanakan di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan melibatkan unit pelaksana teknis (UPT) Kemendikdasmen. Program ini ditujukan untuk memperkuat kesiapan warga sekolah menghadapi bencana, mulai dari memahami risiko, melakukan evakuasi, melindungi murid, hingga mendukung pemulihan psikologis setelah bencana. Upaya itu juga menjadi bagian dari penguatan budaya sadar bencana di lingkungan pendidikan dalam rangka memperingati Hari Internasional Pengurangan Risiko Bencana.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Nunuk Suryani mengatakan kesiapsiagaan bencana perlu menjadi bagian dari kompetensi guru. Menurut dia, guru harus memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menjaga keselamatan murid sekaligus memastikan pembelajaran dapat berlanjut ketika situasi darurat terjadi.
“Guru perlu memiliki kesadaran bahwa risiko bencana dapat terjadi kapan saja dan berdampak pada keselamatan murid serta keberlangsungan pembelajaran. Karena itu, guru perlu memahami langkah mitigasi dan kesiapsiagaan, mampu bertindak dengan tenang dan tepat dalam situasi darurat, serta memberikan pendampingan sesuai kebutuhan murid,” ujar Nunuk dalam keterangan tertulis yang diterima , Senin (19/10/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Menurut Nunuk, pembentukan guru yang sadar bencana merupakan langkah penting untuk mewujudkan satuan pendidikan yang aman dan tangguh. Guru diharapkan mampu menerapkan perlindungan sebelum, saat, dan setelah bencana berdasarkan potensi bahaya serta kebutuhan satuan pendidikan masing-masing.
Dua Materi Utama Pelatihan
Pelatihan Kemendikdasmen mencakup dua materi utama, yaitu Kesiapsiagaan Bencana bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) serta Layanan Dukungan Psikososial Pascabencana bagi PTK.
Materi kesiapsiagaan memberikan pemahaman tentang mitigasi risiko, prosedur keselamatan, evakuasi, dan tindakan yang perlu dilakukan ketika bencana terjadi. Adapun materi dukungan psikososial membantu guru mendampingi murid dan rekan kerja yang mengalami tekanan emosional akibat bencana.
Direktur Guru Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Nonformal (PAUD dan PNF) Kemendikdasmen Saiful Bari mengatakan guru memiliki posisi strategis dalam membangun kesiapsiagaan karena berinteraksi langsung dengan murid setiap hari. Pernyataan itu disampaikannya dalam sosialisasi bertema “Guru Tangguh, Sekolah Tangguh: Bersama Membangun Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana”.
“Guru yang tangguh bukan hanya memahami prosedur keselamatan, tetapi juga mampu bersikap tenang, responsif, dan mengambil tindakan yang tepat ketika bencana terjadi. Kesiapsiagaan perlu dibangun sejak dini dengan melibatkan seluruh warga sekolah serta memperhatikan karakteristik dan kebutuhan setiap murid, termasuk murid yang membutuhkan pendampingan khusus,” ungkap Saiful.
Untuk mendukung penerapan pelatihan, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan mengembangkan Modul Kesiapsiagaan Bencana dan Modul Layanan Dukungan Psikososial Pascabencana bagi PTK. Kedua modul tersebut menjadi sumber pembelajaran bagi guru dalam memahami penanganan bencana sesuai kondisi dan kebutuhan satuan pendidikan.
Sekolah Diminta Perkuat Latihan Evakuasi
Rina Utami dari Save the Children mengatakan pemahaman mengenai risiko bencana harus diikuti latihan dan prosedur keselamatan yang dapat diterapkan seluruh warga sekolah. Sekolah, menurut dia, perlu memastikan jalur evakuasi serta titik kumpul diketahui warga sekolah dan prosedur keselamatan dilatih secara berkala.
Perencanaan tersebut juga perlu memperhatikan kebutuhan murid yang memerlukan pendampingan khusus. Dengan begitu, seluruh warga sekolah dapat memperoleh perlindungan ketika keadaan darurat terjadi.
“Kesiapsiagaan bencana tidak cukup hanya dengan mengetahui risiko yang mungkin terjadi, tetapi juga harus disertai pemahaman tentang langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk melindungi diri dan warga sekolah,” ujar Rina.
Selain latihan evakuasi, kesiapan perlengkapan darurat menjadi bagian dari mitigasi. Sekolah dapat menyiapkan tas siaga bencana yang berisi air minum, makanan tahan lama, obat-obatan pribadi, alat penerangan, sarana komunikasi, dan dokumen penting. Perlengkapan tersebut perlu diperiksa secara berkala agar dapat digunakan saat dibutuhkan.
Guru Juga Membutuhkan Dukungan Psikososial
Pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga dampak psikologis yang dialami murid dan guru. Yuria Ekalitani dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) mengatakan guru yang mendampingi murid terdampak bencana juga dapat mengalami tekanan emosional dan kehilangan.
“Guru bukan hanya sebagai penolong, tetapi juga sebagai individu yang membutuhkan pertolongan. Layanan Dukungan Psikososial perlu memastikan bahwa guru yang mendampingi murid juga mendapatkan kesempatan untuk didampingi,” ungkap Yuria.
Menurut dia, dukungan psikososial perlu memberikan ruang bagi guru untuk memulihkan kondisi emosional sebelum kembali menjalankan perannya secara optimal. Keterlibatan Save the Children dan HIMPSI dalam penyusunan modul pelatihan menjadi bagian dari penguatan materi kesiapsiagaan dan pendampingan psikososial bagi guru.
Manfaat pelatihan dirasakan Nur Fajar Amalia, guru SMK Negeri 1 Meulaboh, Aceh. Ia mengatakan pemahaman mengenai risiko bencana harus diikuti rencana tindakan yang jelas agar sekolah tidak kebingungan ketika keadaan darurat terjadi.
“Setelah mengikuti pelatihan, kami semakin memahami bahwa mengetahui risiko bencana saja belum cukup. Kami juga harus tahu apa yang perlu dilakukan ketika bencana terjadi. Langkah pertama yang kami lakukan di sekolah adalah membentuk tim siaga bencana dengan melibatkan kepala sekolah, guru, komite sekolah, murid, dan wali murid,” tutur Nur Fajar.
Sementara itu, Linggana Tesya, guru SMAN 1 Candung, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, menilai edukasi kebencanaan penting karena wilayah tersebut memiliki potensi gempa bumi dan erupsi gunung api.
“Bagi kami, penting untuk membekali diri terlebih dahulu sebelum melakukan pendampingan kepada murid. Pemahaman mengenai risiko gempa bumi dan erupsi gunung api membantu guru mempersiapkan langkah yang tepat serta memberikan informasi yang dibutuhkan murid untuk menjaga keselamatan,” ujar Linggana.
Pengalaman tersebut menunjukkan kesiapsiagaan membutuhkan keterlibatan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, murid, dan orang tua. Melalui pelatihan, modul, serta dukungan psikososial, Kemendikdasmen mendorong sekolah membangun budaya sadar bencana yang berkelanjutan.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















