Headline.co.id, Jakarta ~ Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mendorong media arus utama memperkuat perannya sebagai sumber informasi tepercaya di tengah maraknya hoaks, disinformasi, dan misinformasi di media sosial. Nezar menyampaikan hal itu saat bertemu awak media seusai peringatan HUT ke-3 Sin Po TV di Jakarta Barat, Minggu (18/10/2026). Menurut dia, media profesional diperlukan karena masyarakat semakin banyak menerima informasi melalui media sosial tanpa penyaringan yang memadai. Media arus utama dapat menjalankan peran tersebut dengan menerapkan kode etik dan prinsip jurnalisme profesional.
Nezar menilai perkembangan teknologi telah mengubah lanskap komunikasi. Masyarakat tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga dapat berperan sebagai produsen informasi melalui berbagai platform media sosial.
Perubahan itu, kata Nezar, membuat keberadaan media yang menjalankan tugas jurnalistik secara profesional semakin penting. Media arus utama dinilai perlu menjaga kualitas informasi publik dengan melakukan penjernihan informasi dan tetap berpegang pada prinsip kebenaran.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Sin Po TV dan media-media arus utama yang lain bisa berdiri dengan tegak untuk bisa menjadi rumah penjernih informasi,” ujar Nezar.
Media arus utama hadapi disrupsi media sosial
Nezar mengatakan disrupsi teknologi, terutama kehadiran platform media sosial, telah masuk ke dalam lanskap komunikasi masyarakat. Dalam kondisi tersebut, setiap orang dapat memproduksi sekaligus mengonsumsi informasi.
Situasi itu memerlukan media yang tetap menjalankan tugas jurnalistik sesuai kode etik. Menurut Nezar, profesionalisme media menjadi salah satu unsur penting untuk menjaga ekosistem informasi agar tetap sehat.
“Di tengah disrupsi teknologi media, terutama platform media sosial, yang masuk ke lanskap komunikasi kita saat ini, di mana semua orang bisa menjadi produsen informasi sekaligus juga konsumen informasi, kita tetap membutuhkan media yang menjalankan tugas-tugas jurnalistik sesuai kode etik secara profesional agar kita bisa menjaga lanskap informasi yang sehat,” jelasnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Nezar dalam konteks meningkatnya paparan masyarakat terhadap informasi yang beredar di media sosial. Informasi yang diterima tanpa proses penyaringan dapat meningkatkan kerentanan terhadap kabar yang tidak benar atau menyesatkan.
Risiko hoaks, disinformasi, dan misinformasi
Wamenkomdigi menyoroti kebiasaan masyarakat yang semakin banyak menerima informasi dari media sosial tanpa filter. Ia menyebut kondisi itu telah menimbulkan korban hoaks dan membuat sebagian masyarakat rentan menjadi korban disinformasi serta misinformasi.
“Masyarakat lebih banyak menerima informasi dari media sosial tanpa filter sehingga kita melihat ada banyak korban hoaks, ada juga yang rentan menjadi korban disinformasi dan misinformasi,” ungkapnya.
Karena itu, media arus utama didorong untuk tetap menghadirkan informasi yang dapat dipercaya. Peran tersebut dijalankan melalui kerja jurnalistik yang mengikuti kode etik, sekaligus dengan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi dan perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi.
Nezar minta media tetap mengedepankan kebenaran
Nezar juga meminta Sin Po TV dan Sin Po Media Grup membaca perubahan zaman serta perkembangan teknologi tanpa meninggalkan prinsip-prinsip jurnalisme profesional. Adaptasi teknologi, menurut dia, perlu berjalan beriringan dengan komitmen terhadap kebenaran.
“Tantangan untuk Sin Po TV dan Sin Po Media Grup adalah bagaimana bisa membaca gerak zaman ini dan gerak teknologi ini dengan tetap menerapkan prinsip-prinsip jurnalisme yang profesional. Hidupkan terus jurnalisme yang mengedepankan kebenaran,” pungkasnya.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.















