Headline.co.id, Raja Ampat ~ Festival Pesona Raja Ampat 2026 resmi ditutup di Pantai Waisai Torang Cinta (WTC), Kota Waisai, Kabupaten Raja Ampat, pada Sabtu (17/10/2026). Festival yang digelar pada 15–17 Oktober 2026 itu ditutup melalui pemukulan tambur bersama oleh Bupati Raja Ampat Orideko I. Burdam, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata Reza Pahlevi, unsur Forkopimda, serta Pejabat Kantor Regional XIV BKN Manokwari, Jatmiko. Penutupan tersebut menjadi penanda berakhirnya rangkaian kegiatan bertema “Harmoni Bahari dan Budaya Maritim” yang mengangkat seni, budaya, kuliner, dan potensi pariwisata Raja Ampat.
Orideko mengatakan keberhasilan Festival Pesona Raja Ampat 2026 tidak terlepas dari kerja sama berbagai pihak. Ia menyampaikan apresiasi kepada panitia, pelaku seni dan budaya, pelaku usaha pariwisata dan UMKM, tokoh adat, masyarakat, tokoh agama, insan media, tenaga kesehatan, aparat keamanan, serta petugas kebersihan.
Menurut Orideko, keterlibatan seluruh unsur tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan festival merupakan hasil kerja bersama. Ia mengaitkan sejumlah atraksi dalam festival dengan nilai kebersamaan dan keberlanjutan budaya masyarakat Raja Ampat.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Perahu hias mengajarkan bahwa keindahan lahir dari kerja sama. Suling tambur mengajarkan bahwa suara yang beragam jika dipadukan akan menghasilkan irama yang indah. Kuliner tradisional menyadarkan kita bahwa kearifan leluhur tetap relevan hingga hari ini,” ujar Orideko.
Komitmen menjaga alam setelah festival
Orideko menegaskan, berakhirnya rangkaian kegiatan tidak boleh dimaknai sebagai berakhirnya tanggung jawab untuk menjaga alam dan melestarikan budaya. Ia meminta seluruh pihak mempertahankan komitmen terhadap laut, lingkungan, budaya, dan kerajinan yang diwariskan kepada generasi mendatang.
“Festival sesungguhnya justru dimulai setelah panggung ini dibongkar. Mari kita semua pulang dari tempat ini dengan komitmen menjaga laut dan alam serta melestarikan budaya dan kerajinan kepada generasi mendatang,” kata dia.
Pesan tersebut disampaikan setelah festival menghadirkan berbagai atraksi seni dan budaya, termasuk Lomba Perahu Hias, Suling Tambur, Tari Gale-Gale, serta kuliner tradisional. Rangkaian kegiatan itu menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan bahari dan budaya Raja Ampat.
Orideko juga menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pariwisata atas dukungan dan pendampingan dalam pengembangan pariwisata Raja Ampat. Ia berharap pendampingan tersebut dapat terus diberikan pada penyelenggaraan kegiatan berikutnya.
“Kami berharap Kementerian Pariwisata dapat terus mendampingi Raja Ampat dalam event-event selanjutnya,” ujar dia.
Revalidasi Geopark Raja Ampat
Dalam kesempatan yang sama, Reza Pahlevi menyinggung proses revalidasi UNESCO Global Geopark Raja Ampat. Ia berharap proses tersebut memberikan hasil terbaik sehingga Raja Ampat dapat mempertahankan status Green Card.
Reza menegaskan, laut tidak hanya menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Raja Ampat, tetapi juga berkaitan erat dengan identitas, adat istiadat, tradisi, dan budaya setempat. Karena itu, keberlanjutan lingkungan laut dinilai memiliki hubungan langsung dengan keberlangsungan budaya masyarakat.
“Jikalau terjaga, budaya tetap hidup. Jikalau budaya lestari, identitas masyarakat tetap kuat,” ujar Reza.
Menurut Reza, pengelolaan alam dan budaya secara bijaksana dapat mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan. Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan, memperluas promosi destinasi, serta memperkuat perekonomian masyarakat lokal.
Festival diharapkan menjadi agenda tahunan
Festival Pesona Raja Ampat 2026 diharapkan terus berkembang sebagai agenda tahunan yang mendukung promosi pariwisata dan pelestarian budaya. Selain itu, festival tersebut diarahkan untuk berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Dengan mengusung tema “Harmoni Bahari dan Budaya Maritim”, festival mempertemukan berbagai unsur masyarakat melalui kegiatan seni, budaya, usaha pariwisata, UMKM, serta kuliner tradisional. Penutupan festival menjadi momentum untuk menegaskan kembali pentingnya kerja sama dalam menjaga potensi alam dan warisan budaya Raja Ampat.
(MC Raja Ampat/Penta Nila Juwita)
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.















