Headline.co.id, Belu ~ Pemerintah Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), menggelar napak tilas massal untuk mengangkat kembali sejarah perpindahan pusat pemerintahan dari Atapupu ke Atambua. Kegiatan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-110 Kota Atambua itu berlangsung pada Jumat (16/10/2026). Napak tilas yang diselenggarakan melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Belu tersebut dimulai pukul 06.00 WITA dari depan Gudang DOLOG Atapupu dan berakhir di Pelataran Mal Pelayanan Publik (MPP) Timor Atambua. Ratusan peserta mengikuti kegiatan itu dengan menyusuri sejumlah lokasi yang memiliki nilai sejarah dan geografis.
Napak Tilas Atambua Melewati Sejumlah Titik Bersejarah
Peserta napak tilas menempuh rute dari Atapupu menuju Atambua. Perjalanan tersebut melewati Namon Ulun, Fatukaduak, Kase Anan, Besak Lerek, Perkampungan Salala, hingga Kuneru sebelum mencapai garis finis di pusat Kota Atambua.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Belu memperkenalkan kembali sejarah perkembangan Kota Atambua kepada masyarakat. Selain aktivitas olahraga, napak tilas digunakan sebagai sarana edukasi mengenai perpindahan pusat pemerintahan dari Atapupu ke Atambua.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Bupati Belu Willybrodus Lay mengatakan, Atapupu memiliki peran penting dalam sejarah perdagangan dan pemerintahan di wilayah tersebut. Salah satu peninggalan yang berkaitan dengan sejarah itu ialah bangunan bekas karantina sapi.
Bangunan tersebut menjadi bagian dari sejarah ekspor sapi ke Hong Kong pada 1960-an. Willybrodus menjelaskan, kawasan itu dahulu digunakan untuk keperluan angkutan dan karantina sapi sebelum hewan ternak dikirim melalui jalur laut.
“ Kita berkumpul di tempat yang dulu dikenal sebagai kawasan karantina. Rumah inilah yang menjadi saksi dimulainya ekspor sapi ke Hong Kong pada tahun 1960-an. Bangunan ini didirikan khusus untuk keperluan angkutan dan karantina sapi sebelum dikirim melalui jalur laut yang sebentar lagi akan kita lewati bersama,” ujar Willybrodus.
Sejarah Pemindahan Pusat Pemerintahan ke Atambua
Menurut Willybrodus, pemindahan pusat pemerintahan dari Atapupu ke Atambua berlangsung pada masa pemerintahan Belanda sekitar 110 tahun lalu. Pemindahan tersebut bertujuan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat di wilayah pedalaman, termasuk Lamaknen dan daerah sekitarnya.
Atambua dinilai memiliki letak yang lebih strategis untuk menjangkau wilayah-wilayah tersebut. Karena itu, perjalanan dari Atapupu ke Atambua dalam kegiatan napak tilas diarahkan untuk menggambarkan kembali proses perpindahan pusat pemerintahan yang menjadi bagian dari sejarah Kota Atambua.
Willybrodus juga mengungkapkan informasi mengenai Pelabuhan Atapupu berdasarkan arsip lama yang ditelitinya di Eropa bersama sang istri. Ia mengatakan, nama Pelabuhan Atapupu telah tercatat dalam peta navigasi sejak 1550.
Pemerintah Kabupaten Belu berencana membuat replika peta kuno tersebut. Replika itu nantinya akan dipajang di museum daerah yang akan dibangun di Atambua.
“Hari ini, kita adalah pelaku sejarah dari napak tilas yang pertama. Anggap saja kita hidup di masa 110 tahun lalu saat proses pemindahan ibu kota sedang berlangsung,” kata Willybrodus.
Napak Tilas Diusulkan Menjadi Agenda Tahunan
Willybrodus meminta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Belu memasukkan napak tilas tersebut ke dalam agenda tahunan peringatan HUT Kota Atambua. Ia juga membuka kemungkinan agar kegiatan itu diatur melalui peraturan daerah.
Menurut dia, penyelenggaraan napak tilas secara berkelanjutan dapat memperkuat edukasi sejarah bagi masyarakat. Kegiatan tersebut juga diharapkan mendorong pengembangan potensi wisata sejarah di Kabupaten Belu.
Selain menyampaikan pesan mengenai sejarah, Willybrodus mengingatkan peserta untuk menjaga kebersihan sepanjang rute. Ia meminta masyarakat tidak membuang sampah sembarangan selama mengikuti perjalanan dari Atapupu menuju Atambua.
Pemerintah Kabupaten Belu turut merencanakan program penghijauan di sepanjang jalur napak tilas. Penanaman pohon direncanakan dimulai tahun depan dengan melibatkan masyarakat.
“Tahun ini kita membuka rutenya terlebih dahulu. Mulai tahun depan, saya bersama masyarakat akan menanam pohon di sepanjang jalur ini,” pungkasnya.
Melalui napak tilas tersebut, Pemerintah Kabupaten Belu berharap sejarah perpindahan pusat pemerintahan dan perkembangan Kota Atambua semakin dikenal. Kegiatan itu juga diarahkan untuk mendukung pelestarian lingkungan serta pengembangan wisata sejarah daerah.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.
















