Deddy Corbuzier Sempat Kritis Karena Badai Sitokin, Ini Pemicu dan Gejalanya

  • Whatsapp
Dedy Corbuzier
Dedy Corbuzier

Headline.co.id (Jakarta) ~ Teka-teki dari rehatnya metalis sekaligus youtuber Deddy Corbuzier dari dunia sosmed dan hiburan terjawab. Melalui kanal podcastnya, Dedy Corbuzier mengatakan jika dirinya terkena badai sitokin pada Sabtu, (21/8).

baca juga: Haul Gus Dur ke-12, Muhaimin: Perjuangan Gus Dur Menjadi Inspirasi Untuk Hadapi Pandemi

Read More

“Saya sakit.. Kritis, hampir meninggal karena badai Cytokine, lucunya dengan keadaan sudah negatif. Yes it’s COVID,” katanya di chanel podcastnya.

Meski dirinya menjaga pola hidup sehat dengan menerapkan pola makan yang baik dan rajin berolahraga, hal tersebut tidak menjadikan ia kebal terhadap pandemi yang sedang melanda di seluruh pelosok dunia ini.

Tanpa gejala apapun, ia mengalami badai sitokin dan paru-parunya rusak 60% dalam 2 hari.

baca juga: Pasar Kembang Kebakaran, 70 Persen Pasar dilalap Si Jago Merah

“Yes it’s a life and death situation. Hebatnya oksigen darah saya tidak turun bahkan diam di 97-99 karena pola hidup sehat saya selama ini hingga saya bisa selamat walau dengan kerusakan paru yang parah,” ucapnya.

Apa Itu Badai Sitokin?

Melansir situs Alodokter, badai sitokin merupakan salah satu komplikasi yang bisa dialami oleh penderita Covid-19. Kondisi ini perlu diwaspadai dan perlu segera ditangani secara intensif. Bila tanpa penanganan intensif, badai sitokin dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ hingga kematian.

Baca juga: Samsung Galaxy J2 Prime: Review, Spesifikasi, Harga Kelebihan dan Kekurangannya

Sitokin merupakan salah satu protein yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Dalam kondisi normal, sitokin membantu sistem imun berkoordinasi dengan baik dalam melawan bakteri atau virus penyebab infeksi.

Terjadinya badai ini karena kondisi respons imun tubuh yang berlebihan, biasanya dipicu oleh infeksi. Sitokin adalah protein yang mengkomunikasikan sinyal-sinyal tubuh untuk merespons infeksi.

Sejatinya, sistem kekebalan berfungsi untuk membantu penderita melawan infeksi. Namun, terkadang sistem imunitas ini memberikan respons yang tidak semestinya dan justru memperparah kondisi penyakit.

baca juga: Sahabat Ganjar Dari 34 Provinsi Deklarasikan Dukung Ganjar Pranowo Nyapres 2024-2029

Setiap kali tubuh yang sehat melawan infeksi, ada respons sistem kekebalan alami yang terjadi.

Apa Gejala dan Pemicu Badai Sitokin?

Melansir klikdokter.com, dr. Devia Irine Putri menjelaskan, badai sitokin merupakan reaksi dari sistem imunitas tubuh yang abnormal.

Baca juga: Pemprov Bengkulu Teruna Bantuan Oksigen dari Kemenkes RI Sebanyak 169 Unit

“Kondisi ini bisa terjadi akibat tubuh terlalu banyak memproduksi protein kekebalan yang disebut sitokin. Kalau sudah begitu, proses peradangan di dalam tubuh malah jadi meningkat,” jelasnya.

“Biasanya, orang yang berisiko tinggi mengalami badai sitokin adalah mereka yang sedari awal punya masalah daya tahan tubuh, seperti penyakit autoimun. Lalu, orang dengan penyakit kanker juga berpotensi mengalami hal serupa.” tambahnya.

Sitokin sendiri sebetulnya bukan protein yang jahat. Ia membantu tubuh berkoordinasi melawan kuman yang akan menginfeksi.

baca juga: Presiden Jokowi Ucapkan Terimakasih Kepada Penerbang Garuda Flight dan Nusantara Flight, Ada Apa?

Sayangnya, jika jumlah sitokin terlalu banyak, maka kondisi tubuh justru akan rusak akibat peradangan.

Bukannya menyerang kuman, sel cytokine menyerang organ dan jaringan tubuh yang sehat, sehingga gagal berfungsi.

Kegagalan fungsi organ tersebut pada akhirnya menyebabkan pasien meninggal dunia. Sejumlah gejala biasanya dirasakan terlebih dulu oleh pasien, misalnya:

Demam.
Sesak napas.
Lemas.
Sakit kepala.
Napas jauh lebih cepat.
Kejang dan susah mengendalikan gerakan.
Tekanan darah rendah.
Penggumpalan darah.
Linglung dan berhalusinasi. 
Muncul ruam kulit.
Nyeri otot.
Mual muntah. 
Batuk.
Tungkai bengkak.

Baca juga: Asus Rilis Kartu Grafis AMD Radeon RX 6600 XT, Ini Spesifikasi, Fitur dan Harga Terbarunya

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *