Headline.co.id, Jakarta ~ Di tengah maraknya penggunaan teknologi digital yang menyita perhatian anak dan orang tua, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mengajak keluarga untuk meluangkan waktu satu jam tanpa gawai. Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat hubungan keluarga melalui program Satu Jam Berkualitas Bersama Keluarga atau SatuJamKu.
Eko Novi Ariyanti Rahayu Damayanti, Asisten Deputi Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Pemenuhan Hak Anak Wilayah II Kemen PPPA, menyatakan bahwa tantangan pengasuhan saat ini tidak hanya terkait pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga menjaga kualitas interaksi orang tua dan anak. “Di era digital, kedekatan dalam keluarga menjadi tantangan tersendiri. Padahal, keluarga adalah tempat pertama dan utama bagi anak untuk tumbuh dan berkembang,” ujarnya dalam kegiatan sosialisasi Gerakan Nasional Satu Jam Berkualitas Bersama Keluarga di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Eko Novi menjelaskan bahwa penggunaan gawai yang semakin meningkat sering kali mengurangi interaksi langsung dalam keluarga. Meskipun berada dalam satu ruang, anak dan orang tua sering kali terpisah oleh layar masing-masing. Oleh karena itu, kehadiran waktu berkualitas menjadi penting. “Anak belajar dari apa yang dilihat. Ketika orang tua hadir secara utuh, anak pun akan merasakan nilai kebersamaan itu,” tambahnya.
Selain keluarga, lingkungan sekitar juga berperan penting dalam mendukung pengasuhan. Komunitas, kelompok orang tua, dan layanan seperti Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) dapat menjadi tempat berbagi dan memperkuat praktik pengasuhan. Sejak diperkenalkan melalui program Ramadan Ramah Anak pada 2024, gerakan ini terus dikembangkan untuk membangun ketahanan keluarga di tengah perubahan zaman.
Pendekatan yang diusung sederhana dan dapat dilakukan tanpa biaya besar, namun dampaknya dinilai signifikan dalam membangun kembali komunikasi, kepercayaan, dan kedekatan emosional dalam keluarga. “Kadang yang dibutuhkan anak bukan sesuatu yang mahal, tetapi waktu dan perhatian dari orang tuanya,” tutur Eko Novi. Di tengah dunia yang semakin cepat dan serba digital, satu jam tanpa gawai bersama keluarga menjadi pengingat bahwa rumah tetaplah ruang paling penting untuk tumbuh, belajar, dan merasa dicintai.





















