Headline.co.id, Kerentanan Perempuan Terhadap Penyakit Autoimun Terus Meningkat Setiap Tahunnya ~ terutama pada usia reproduksi. Salah satu faktor penyebabnya adalah hormon estrogen yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Ketidakseimbangan hormon ini dapat memicu penyakit autoimun, yang berisiko tinggi bagi perempuan hamil. Oleh karena itu, penting bagi perempuan yang merencanakan kehamilan untuk mewaspadai kondisi ini.
Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR, seorang pakar Reumatologi, Internis, dan Herbal dari FK-KMK UGM, menjelaskan bahwa penyakit autoimun terjadi ketika sel-sel kekebalan tubuh salah mengenali sel tubuh sendiri sebagai ancaman. Akibatnya, organ tubuh seperti kulit, ginjal, paru-paru, dan hati dapat diserang. “Jumlah penderita autoimun cukup besar. Sekitar dua persen populasi orang dewasa di Indonesia, atau sekitar empat juta orang, mengalami autoimun,” ungkap Nyoman pada Selasa (21/7).
Nyoman menambahkan bahwa meskipun faktor genetik berperan dalam penyakit autoimun, faktor lingkungan seperti polusi udara, pola makan tidak sehat, dan stres juga berkontribusi. Banyak pasien mencari informasi tentang penyakitnya melalui internet, yang seringkali menambah kecemasan dan stres mereka. “Stres dapat memperburuk kondisi autoimun,” jelasnya.
Stres merupakan salah satu faktor dominan penyebab autoimun. Nyoman menyebutkan bahwa tidak hanya pekerja, tetapi juga mahasiswa rentan terhadap stres akibat tekanan akademik. “Banyak mahasiswa yang awalnya sehat, tetapi setelah menghadapi tekanan akademik, penyakit autoimun muncul,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa faktor psikologis sangat berpengaruh.
Penyakit autoimun dibagi menjadi dua kelompok: autoimun organ spesifik dan autoimun sistemik. Autoimun organ spesifik menyerang satu organ, seperti penyakit Hashimoto pada kelenjar tiroid. Sementara itu, autoimun sistemik menyerang banyak organ sekaligus, seperti lupus. “Sekitar 80 persen penderita autoimun adalah perempuan, sedangkan 20 persen laki-laki,” tambah Nyoman.
Nyoman menyoroti beberapa pemicu utama autoimun, yaitu kelelahan, stres, dan paparan sinar matahari berlebihan. Ia menyarankan pasien untuk menjaga batas aktivitas, menghindari stres, dan melindungi diri dari sinar matahari. “Tiga hal ini penting: jangan terlalu lelah, jangan terlalu stres, dan hindari paparan sinar matahari berlebihan,” pesannya.
Ia juga menekankan pentingnya mengenali tubuh sendiri terkait makanan yang dapat memicu gejala autoimun. “Perhatikan dan catat makanan yang dikonsumsi, lalu amati apakah gejalanya kambuh,” sarannya.
Tantangan dalam penanganan autoimun termasuk pemahaman pasien terhadap penyakitnya dan penggunaan obat imunosupresan. Obat ini menekan sistem imun, tetapi juga mengurangi perlindungan tubuh terhadap infeksi. “Pendekatan ideal adalah mengembalikan sistem imun agar mampu mengenali bagian tubuh sendiri dan benda asing,” jelas Nyoman.
Nyoman tertarik mengembangkan obat herbal sebagai alternatif pengobatan autoimun. Obat kimia yang menekan sistem imun memiliki efek samping, sehingga penelitian obat herbal diharapkan dapat mengembalikan fungsi sistem imun menjadi normal. “Yang terpenting adalah menjalani hidup dengan tenang dan menikmati pekerjaan,” tuturnya.
Bagi mereka yang memiliki risiko genetik, Nyoman menyarankan untuk mengurangi faktor pemicu seperti stres, kelelahan, dan paparan sinar matahari. “Tetap jalankan pola hidup sehat, hindari rokok, alkohol, dan jaga kebersihan lingkungan,” pungkasnya.




















