Headline.co.id, Jogja ~ Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan inovasi dalam penghantaran obat tuberkulosis (TB) dengan menggunakan metode inhalasi. Inovasi ini bertujuan untuk mengoptimalkan pengiriman antibiotik levofloksasin langsung ke paru-paru, yang merupakan lokasi utama infeksi TB. Penelitian ini merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE) 2026 dan didampingi oleh Dr.rer.nat. Ronny Martien, M.Si. dari Fakultas Farmasi UGM.
Tim yang menamakan diri mereka Levocross, terdiri dari Alphatar Magnus Jonathan Tambunan, Emeliana Putri Ayu Ningsih, dan Ernestus Revan Yogantara Arjuna dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, serta Desrika Dwi Handayani dan Fatharani Hasya Tsabita dari Fakultas Farmasi. Mereka memadukan levofloksasin dengan teknologi pembawa berukuran nano dan asam hialuronat untuk meningkatkan efektivitas penghantaran obat melalui saluran pernapasan.
Alphatar Magnus Jonathan Tambunan menjelaskan bahwa penelitian ini berfokus pada cara penghantaran obat yang mempertimbangkan lokasi infeksi dan sel target pada tuberkulosis. “Penelitian ini masih terus berjalan sehingga berbagai pengujian yang kami lakukan menjadi bagian penting untuk mengetahui formulasi yang paling optimal,” ujarnya pada Senin (31/8). Dalam prosesnya, levofloksasin dimasukkan ke dalam sistem pembawa menggunakan metode hot emulsification-ultrasonication, di mana campuran bahan diproses dengan gelombang ultrasonik hingga terbentuk partikel berukuran nano, kemudian ditambahkan asam hialuronat.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Pengujian lebih lanjut dilakukan untuk mengevaluasi karakteristik dan kemampuan formulasi dalam membawa obat. Pengujian ini meliputi ukuran dan keseragaman partikel, jumlah obat yang berhasil dimuat, kestabilan, hingga pelepasan levofloksasin. Formulasi juga diuji menggunakan nebulizer untuk menilai kemampuannya menghasilkan aerosol. Saat ini, tim Levocross masih dalam tahap pengumpulan dan analisis data, termasuk pengujian in vitro untuk melihat interaksi formulasi dengan sel. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan sistem penghantaran obat untuk terapi tuberkulosis.




















