Headline.co.id, Banjarbaru ~ KALIMANTAN SELATAN — Dalam upaya mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan, Polri bekerja sama dengan TNI, pemerintah daerah, BPBD, Manggala Agni, serta berbagai instansi dan masyarakat. Mereka kini mengadopsi teknologi canggih untuk mendeteksi dan mendinginkan bara yang tersembunyi di bawah permukaan tanah gambut. Polda Kalimantan Selatan memanfaatkan kombinasi drone thermal, sistem pipa undercooling, dan cairan pemadam berbahan dasar Methyl Ester Sulfonate (MES) yang dikembangkan oleh Bidlabfor Polda Kalsel.
Salah satu lokasi penerapan teknologi ini adalah di kawasan Pengayuan, Banjarbaru. Di sini, karakteristik lahan gambut memungkinkan panas dan bara bertahan di bawah permukaan meskipun api di atas tanah telah padam. Untuk itu, sebanyak 3.030 personel Polda Kalsel bergabung dengan 11.681 personel gabungan lainnya untuk menangani karhutla di wilayah ini. Di Pengayuan sendiri, sekitar 350 personel dari berbagai instansi bekerja dalam tiga shift untuk memastikan proses pemadaman, pembasahan, pendinginan, dan pemantauan berlangsung secara berkelanjutan.
Sistem pipa undercooling digunakan dengan menancapkan pipa hingga dua meter ke dalam lapisan gambut, kemudian cairan pemadam diinjeksi langsung ke bagian bawah permukaan yang masih menyimpan panas. Sementara itu, pemadaman dan pembasahan dari permukaan tetap dilakukan dengan metode konvensional. Dengan pendekatan ini, penanganan dilakukan dari dua arah: memadamkan api dari atas dan mendinginkan sumber panas dari bawah.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Deteksi titik panas dilakukan menggunakan drone thermal milik Ditintelkam Polda Kalsel. Pemantauan dilakukan sebelum dan sesudah proses penanganan untuk mengetahui kondisi temperatur di lokasi. Pada salah satu titik pengujian, suhu tanah gambut awalnya terdeteksi mencapai 120 derajat Celsius. Setelah pembasahan permukaan dan injeksi cairan melalui sistem pipa undercooling selama satu menit, suhu turun ke kisaran 30 derajat Celsius, dan titik panas tidak lagi terdeteksi.
Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko, Karo Penmas Divhumas Polri, menyatakan bahwa teknologi ini membantu petugas memahami kondisi karhutla secara lebih menyeluruh. “Pemanfaatan teknologi ini tidak menggantikan metode pemadaman yang sudah ada, melainkan menambah kemampuan petugas, terutama dalam menghadapi karakteristik lahan gambut,” ujar Trunoyudo. Cairan yang digunakan dalam sistem undercooling merupakan formula berbahan dasar MES yang dapat dicampurkan dengan 12.000 liter air dalam satu kolam bioflok portable, mendekatkan sumber air ke lokasi penanganan.


















