Headline.co.id, Jogja ~ Daun pegagan (Centella asiatica) dan kencur (Kaempferia galanga) dikenal sebagai tanaman herbal yang sering digunakan dalam pengobatan tradisional. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kombinasi dari kedua tanaman ini dapat mengatasi gangguan penglihatan akibat radang saraf mata. Dr. Indra Tri Mahayana, Ph.D., Sp.M., FRSPH., dari Departemen Ilmu Kesehatan Mata FK-KMK UGM, menyatakan bahwa tim peneliti sedang mengeksplorasi khasiat senyawa dari kedua tanaman ini. Penelitian ini didorong oleh potensi besar tanaman herbal lokal yang dikombinasikan dengan pembuktian ilmiah.
Dr. Indra menjelaskan bahwa kombinasi kencur hitam dan daun pegagan dapat menjadi terapi pendamping bagi penderita neuritis optik. “Kencur hitam merupakan salah satu tanaman herbal khas Yogyakarta yang berpotensi dikembangkan menjadi produk unggulan yang dapat meningkatkan nilai ekonomi,” ujarnya dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Wedang Sahaja: Formulasi Daun Pegagan dan Kencur Hitam sebagai Suplemen Pasien Saraf Mata melalui Pemberdayaan UMKM dan Komunitas Difabel di Kota Yogyakarta” pada Rabu (22/7) di Mal Pelayanan Publik (MPP) Pemerintah Kota Yogyakarta.
Dr. Muhammad Taufiq Hidayat dari Departemen Ilmu Kesehatan Mata FK-KMK UGM menambahkan bahwa terapi utama untuk neuritis optik akut saat ini adalah pemberian kortikosteroid dosis tinggi. Namun, penelitian ini bertujuan menemukan terapi pendamping yang memberikan efek neuroprotektif. “Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kencur hitam dan daun pegagan berpotensi memberikan manfaat yang sebanding dengan vitamin B12 dalam membantu mempertahankan fungsi penglihatan pada pasien neuritis optik akut,” jelasnya.
Rika Fatimah P.L., S.T., M.Sc., Ph.D., pendiri dan konseptor Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur sekaligus dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, menekankan pentingnya edukasi konsumen untuk mengonsumsi produk lokal yang dihasilkan UMKM. Menurutnya, produk lokal memiliki karakteristik dan kapasitas produksi yang berbeda dari industri besar, sehingga memerlukan ekosistem pasar yang mendukung pertumbuhan dan keberlanjutannya.
Rika menambahkan bahwa penelitian ini tidak hanya diarahkan pada inovasi kesehatan berbasis bukti ilmiah, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan rantai nilai yang bermanfaat bagi petani, UMKM, komunitas difabel, akademisi, pemerintah, hingga konsumen. “Keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh besarnya omzet, tetapi juga oleh kemampuan membangun keunikan produk, menjaga kesejahteraan pelaku usaha, serta menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.


















