Highlight Berita:
Headline.co.id, Rabat ~ Menjelang pemilu parlemen Maroko pada Rabu, 23 September 2026, keterlibatan politik anak muda menjadi salah satu sorotan setelah gelombang protes Gen Z pada tahun sebelumnya. Sejumlah pemuda yang sebelumnya turun ke jalan kini mencoba membawa tuntutan mengenai layanan kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan akuntabilitas ke jalur politik formal melalui kampanye dan partai. Pemilu tersebut akan menentukan seluruh 395 kursi di House of Representatives dengan lebih dari 15,8 juta pemilih terdaftar. Namun, kelompok usia 18 hingga 24 tahun hanya mencakup sekitar empat persen dari daftar pemilih yang difinalisasi pada Juli. Al Jazeera
Salah satu sosok muda yang beralih dari aksi jalanan ke arena elektoral adalah Hamza El Kharroubi, 28 tahun. Hampir setahun setelah ikut berunjuk rasa, pengusaha lingkungan itu berkampanye di Tetouan untuk meraih kursi parlemen setelah mendirikan Environment and Sustainability Party. Ia melihat gelombang protes sebelumnya telah mendorong lebih banyak anak muda terlibat dalam partai politik dan kegiatan kampanye. Al Jazeera
'Protes Gen Z sebelumnya telah memicu lebih banyak keterlibatan anak muda dalam partai politik. Kami memperkirakan tahun ini akan ada partisipasi luar biasa dari anak muda, baik dalam pemungutan suara maupun kampanye,' kata El Kharroubi. Al Jazeera
Protes Gen Z Dorong Sebagian Anak Muda Masuk Politik Formal
Gelombang demonstrasi nasional bermula pada 27 September 2025 setelah kemarahan terkait layanan kesehatan publik, pendidikan, pekerjaan, dan kondisi hidup meluas dari protes sebelumnya di Agadir. Ketegangan meningkat setelah delapan perempuan meninggal usai menjalani operasi sesar di sebuah rumah sakit publik di kota bagian selatan, yang kemudian menjadi titik pemicu keluhan lebih luas mengenai pelayanan publik. Setidaknya tiga orang tewas dalam kerusuhan pada Oktober 2025. Al Jazeera
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Gerakan tanpa pemimpin bernama GenZ 212 mengorganisasi dukungan terutama melalui Discord, TikTok, dan Instagram. Gerakan itu menuntut layanan kesehatan dan pendidikan publik yang lebih baik, peluang kerja yang lebih luas, serta penghentian korupsi dan belanja publik yang oleh para pengunjuk rasa dinilai salah sasaran. Meski protes menunjukkan besarnya kekecewaan, pemilu 2026 juga memperlihatkan tantangan lain, yakni masih jauhnya sebagian anak muda dari politik formal. Al Jazeera
Pemilih Muda Masih Menjadi Bagian Kecil Daftar Pemilih
Komposisi daftar pemilih menunjukkan kesenjangan antargenerasi. Dari lebih dari 15,8 juta pemilih terdaftar, hanya sekitar empat persen berusia 18 hingga 24 tahun. Sebaliknya, pemilih berusia 60 tahun ke atas mencapai lebih dari 29 persen, sementara kelompok usia 35 hingga 44 tahun mencakup 21 persen. Pada pemilu 2021, tingkat partisipasi pemilih tercatat sedikit di atas 50 persen. Al Jazeera
Az-el Arab Hilmi, 32 tahun, yang bekerja bersama sekretariat Federation of the Democratic Left atau FGD di Tifelt, menilai protes Gen Z memperlihatkan perubahan tuntutan politik generasi muda. Menurut dia, anak muda tidak lagi puas dengan wacana politik tradisional atau janji umum, tetapi menginginkan hasil yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Al Jazeera
'Ada generasi yang ingin melihat hasil nyata dalam kehidupan sehari-hari: pendidikan yang baik, layanan kesehatan publik yang menjaga martabat, peluang kerja nyata, dan keadilan dalam pembagian kesempatan,' kata Hilmi. Al Jazeera
Tuntutan Anak Muda Berpusat pada Layanan Publik dan Lapangan Kerja
Hilmi berpendapat partai politik tidak dapat menunggu masa kampanye untuk merespons persoalan tersebut. Ia menilai anak muda perlu mendapatkan ruang bukan hanya di barisan depan kampanye, tetapi juga dalam perdebatan, pengambilan keputusan, dan tanggung jawab politik. Keterlibatannya sendiri dalam politik dimulai pada 2016 ketika ia bergabung dengan FGD setelah tertarik pada kampanye parlemen Omar Balafrej, yang ketika itu menjadi salah satu tokoh partai. Al Jazeera
Moubarak Toumi, 18 tahun, yang bergabung dengan sekretariat regional Socialist Union of Popular Forces di Casablanca-Settat tiga tahun lalu, melihat jarak antara anak muda dan politik sebagian diwariskan dari generasi sebelumnya. Ia menyebut nasihat untuk menjaga profil rendah dan menghindari masalah turut membentuk sikap tersebut, bersamaan dengan praktik yang dikaitkan dengan pemberian uang tunai kepada pemilih. Menurut Toumi, pola pikir itu perlu diubah melalui keterlibatan yang lebih aktif. Al Jazeera
Persoalan ekonomi juga menjadi latar kuat ketidakpuasan. Tingkat pengangguran resmi Maroko pada 2025 tercatat 13 persen, tetapi angkanya mencapai 37,2 persen untuk kelompok usia 15 hingga 24 tahun berdasarkan High Commission for Planning. Toumi mengaitkan rendahnya keterlibatan sebagian anak muda dengan frustrasi terhadap janji mengenai kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan yang menurutnya belum terpenuhi. Al Jazeera
Pemilu Dipandang sebagai Awal Akuntabilitas Politik
Pemilu 2026 sekaligus menjadi ujian mengenai ruang perubahan yang dapat ditempuh melalui politik formal. Sistem politik Maroko memberikan monarki peran institusional yang sentral, sementara pemerintah terpilih bertanggung jawab atas kebijakan publik dan legislasi. Bagi Hilmi, kondisi itu membuat pemilih muda perlu membedakan janji partai dengan hal yang secara realistis dapat dilaksanakan ketika mereka memegang tanggung jawab. Al Jazeera
'Tidak ada partai yang dapat memperbaiki setiap masalah segera setelah mencapai dewan atau posisi tanggung jawab, tetapi kita dapat mengharapkan sesuatu yang mendasar: partai berkomitmen pada apa yang dikatakannya, menjelaskan kepada masyarakat apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan, serta menjalankan politik secara bertanggung jawab dan transparan,' ujar Hilmi. Al Jazeera
Hilmi memandang suara dalam pemilu bukan sebagai akhir partisipasi warga, melainkan awal hubungan antara masyarakat dan wakil yang dipilih. Ia menekankan pentingnya anak muda tetap memantau, bertanya, mengkritik, dan menuntut pertanggungjawaban setelah pemungutan suara. 'Pemilu bukan cek kosong,' katanya. Al Jazeera
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















