Headline.co.id, Jogja ~ Kemenyan Indonesia masih banyak dijual dalam bentuk getah mentah dan diekspor untuk diolah di luar negeri. Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM, Prof. Dr. Ganis Lukmandaru, S.Hut., M.Agr., mendorong hilirisasi kemenyan agar nilai tambah komoditas tersebut dapat dinikmati di dalam negeri. Menurut Ganis, pengolahan dapat dilakukan bertahap, mulai dari getah menjadi minyak, parfum, hingga pemisahan senyawa tunggal. Langkah itu dinilai penting untuk meningkatkan pendapatan petani sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya kemenyan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2024 menunjukkan, Sumatera Utara dapat menghasilkan sekitar 5.000 hingga 8.000 ton kemenyan. Sebagian besar komoditas tersebut diekspor untuk diolah di India, Singapura, dan Uni Eropa.
Hilirisasi kemenyan berpotensi tingkatkan nilai ekonomi
Ganis menjelaskan, kemenyan Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dari kemenyan yang berasal dari kawasan Turki dan Arab. Kemenyan Indonesia berasal dari genus Styrax, sedangkan kemenyan dari wilayah tersebut berasal dari genus Boswellia.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Salah satu keunggulan kemenyan Indonesia berada pada aromanya yang cenderung menyerupai madu. Karakter itu berkaitan dengan keberadaan asam sinamat yang menjadi salah satu senyawa utama dalam kemenyan Indonesia.
“Keunggulannya di Indonesia ini bau madunya. Baunya itu agak kayak permen gitu. Itu keunggulannya,” ujar Ganis, Senin (14/9).
Karakter aroma dan kandungan kimia tersebut membuka peluang pengembangan kemenyan untuk berbagai produk, termasuk minyak, parfum, serta produk untuk keperluan pengobatan dan pangan. Salah satu proses yang dapat dilakukan adalah distilasi getah padat menjadi minyak kemenyan.
Dalam proses itu, getah dipanaskan untuk memisahkan komponen yang mudah menguap. Komponen tersebut kemudian didinginkan hingga menghasilkan minyak.
“Getah padat ini dipanaskan. Jadi, kalau dipanaskan, ada yang menguap, ada yang tertinggal. Yang menguap ini didinginkan jadi minyak. Ini namanya minyak kemenyan,” jelas Ganis.
Menurut dia, nilai minyak kemenyan dapat mencapai hingga 20 kali lipat dibandingkan getah mentah. Nilai tersebut masih dapat meningkat apabila minyak diolah menjadi parfum atau diproses lebih lanjut untuk mendapatkan senyawa tertentu.
“Menjadi minyak ini sudah dipisah yang mudah menguap dan yang tidak. Menjadi parfum itu sudah produk lagi. Apalagi dipisah sampai level senyawa tunggal, itu lebih mahal lagi. Visinya ke sana,” tuturnya.
Belajar dari pengolahan getah pinus
Ganis menilai pengembangan kemenyan dapat mencontoh pengolahan getah pinus. Komoditas tersebut telah dikembangkan dari produk dasar seperti gondorukem dan terpentin menjadi berbagai produk turunan dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Menurut Ganis, pola serupa dapat diterapkan pada kemenyan secara bertahap. Pengolahan dapat dimulai dari getah, kemudian minyak, produk turunan seperti parfum, hingga senyawa tunggal.
“Nanti harusnya kemenyan juga kayak pinus gitu. Ending-nya itu. Kita sudah punya contohnya. Getah pinus itu,” ujarnya.
Pengolahan kemenyan, kata Ganis, tidak harus selalu diawali pembangunan pabrik berskala besar. Distilasi dapat dilakukan di tingkat petani atau rumah tangga dengan menghimpun hasil produksi dan menggunakan peralatan pengolahan secara bersama.
Ia mencontohkan pengolahan minyak kayu putih dan minyak kenanga yang dapat dilakukan dalam skala rumah tangga. Pola tersebut dinilai memungkinkan diterapkan pada kemenyan karena teknologi dasar distilasi telah diperkenalkan melalui pelatihan dan percontohan.
“Kalau sekadar mendistilasi, yang paling mudah. Dari getah menjadi minyak, dipanaskan, itu sudah mudah. Ini sudah banyak penyuluhan dari kolega-kolega dari BRIN. Mereka sudah training, memberi percontohan, dan sebagainya,” ujarnya.
Pasokan dan keberlanjutan masih menjadi tantangan
Pengembangan hilirisasi kemenyan tetap menghadapi persoalan di tingkat hulu. Industri membutuhkan bahan baku yang tersedia secara berkelanjutan, baik dari sisi jumlah maupun mutu.
Ganis menyebut pemerintah telah memiliki standar kualitas kemenyan. Pada era 1980-an terdapat enam kelas kualitas, sedangkan saat ini standar tersebut disederhanakan menjadi tiga kelas. Namun, standar itu belum sepenuhnya menjadi acuan dalam perdagangan.
“Jadi, kalau ingin mendirikan pabrik, mereka butuh pasokan yang kontinu, dengan mutu yang standar. Itu bisa dipenuhi tidak oleh para penyadap kemenyan? Mungkin memenuhi kuantitas bisa, tapi memenuhi standar bisa tidak?” katanya.
Tantangan lain adalah regenerasi penyadap. Sebagian besar penyadap kemenyan saat ini merupakan generasi yang lebih tua. Di sejumlah wilayah, masyarakat juga mulai mempertimbangkan komoditas lain yang dinilai lebih menjanjikan secara ekonomi, seperti kopi.
Kondisi itu memunculkan kekhawatiran terjadinya konversi lahan kemenyan. Jika tanaman kemenyan diganti dengan komoditas lain, luas areal dan ketersediaan bahan baku untuk industri dapat terus berkurang.
Kemenyan Indonesia saat ini terkonsentrasi di Sumatera Utara, terutama Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan. Tanaman tersebut tumbuh di wilayah dengan ketinggian sekitar 800 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut. Luas areal kemenyan secara keseluruhan berada di kisaran 23.000 hektare.
Ganis menekankan, hilirisasi harus berjalan bersama perlindungan sumber daya. Peningkatan permintaan yang tidak sebanding dengan kemampuan sumber daya dapat mendorong eksploitasi berlebihan.
“Permintaan terlalu tinggi, tidak sesuai dengan potensinya, mau tidak mau akan terjadi eksploitasi. Itu sangat merugikan. Ini nggak cuma kemenyan saja. Ini apapun produknya di hutan, seperti itu, entah kayu dan nonkayu,” jelas Ganis.
Ia menilai peningkatan nilai tambah dapat membantu menjaga keberlanjutan karena petani tidak harus memanen lebih banyak untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi.
“Kalau nilai tambahnya tinggi, dengan jumlah produk yang sama, pendapatan yang diperoleh bisa lebih besar. Jadi, harapannya, petani tidak perlu memanen dalam jumlah banyak untuk mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi,” papar Ganis.
Ganis berharap pengembangan kemenyan dilakukan secara berkesinambungan dari hulu hingga hilir. Di tingkat hulu, areal kemenyan perlu dijaga dari konversi lahan. Sementara di hilir, pengolahan dikembangkan bertahap dari getah menjadi minyak, parfum, hingga senyawa tunggal.



















