Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada mengembangkan Lingo, media belajar literasi anak usia dini berbasis teknologi pengenalan ucapan tanpa menggunakan layar gawai. Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karya Inovatif (PKM-KI) dan diperkenalkan pada 11 September 2026. Lingo dirancang untuk membantu anak mengenali abjad, melatih pengucapan suku kata, serta menstimulasi kemampuan motorik dan auditori dalam proses belajar membaca. Pengembangan alat ini dilakukan untuk menjawab tantangan ketersediaan alat permainan edukatif yang interaktif di tengah penggunaan gawai sebagai sarana belajar.
Lingo merupakan singkatan dari Literasi Interaktif Non-Gawai Berbasis Teknologi Pengenalan Ucapan sebagai Permainan Edukatif Pra dan Awal Sekolah Guna Meningkatkan Kecerdasan Linguistik Anak. Perangkat ini memadukan aktivitas bermain dengan teknologi pengenalan suara agar anak dapat belajar literasi secara langsung melalui alat.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Lingo Beri Umpan Balik Audio Saat Anak Berlatih
Dosen pendamping tim, Dina Fitriana Rosyada, SKM., MKL, mengatakan Lingo dirancang sebagai alternatif pembelajaran literasi yang tidak bergantung pada gawai. Menurut dia, pendekatan berbasis permainan dapat membantu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif bagi anak usia dini.
“Kami ingin menghadirkan pengalaman belajar literasi yang interaktif melalui permainan, sehingga anak dapat berlatih tanpa harus bergantung pada gawai,” ujar Dina.
Tim pengembang Lingo terdiri atas Dina serta empat mahasiswa UGM, yakni Miftahul Khaira, Billy Rizky Ramadhan, Rozaqiya Hanifa, dan Aphrodity Nirmala Putri. Perangkat tersebut memanfaatkan sensor keypad membrane, mikrofon INMP441, speaker, DFMiniplayer, dan mikrokontroler ESP32-S3.
Komponen itu digunakan untuk mendukung proses pengenalan dan evaluasi pelafalan anak. Ketika anak mengucapkan suku kata, sistem memproses suara yang diterima kemudian memberikan umpan balik audio secara real-time.
“Ketika anak mencoba mengucapkan suku kata, sistem akan memproses suara yang diterima dan memberikan umpan balik sehingga anak dapat mengetahui respons dari latihan yang dilakukan,” tutur Dina.
Pemantauan Perkembangan Terhubung Situs Web
Selain merespons pelafalan, Lingo terhubung dengan sistem pemantauan berbasis situs web melalui teknologi Internet of Things (IoT). Sistem ini memungkinkan riwayat belajar dan nilai evaluasi anak dicatat secara real-time.
Data tersebut dapat dipantau oleh guru maupun orang tua untuk melihat perkembangan latihan anak secara bertahap. Informasi hasil latihan juga dapat digunakan sebagai bahan untuk menentukan pendampingan yang sesuai.
“Data hasil latihan dapat menjadi bahan bagi guru dan orang tua untuk melihat perkembangan literasi anak dan menentukan pendampingan yang sesuai,” ungkap Dina.
Fitur pemantauan itu menjadi bagian dari rancangan Lingo sebagai media belajar sekaligus pendukung pendampingan literasi anak. Dengan demikian, proses latihan tidak hanya berlangsung melalui interaksi anak dengan perangkat, tetapi juga dapat diikuti oleh guru dan orang tua melalui catatan perkembangan.
Diuji di TK Budi Mulia Al Bayaan
Menurut Miftahul Khaira, pengembangan Lingo diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran anak pada masa awal perkembangan. Tim merancang aktivitas dalam perangkat agar melibatkan kemampuan bahasa, pendengaran, dan gerak melalui kegiatan bermain.
“Kami merancang Lingo sebagai media yang dapat membuat proses belajar membaca terasa seperti bermain, sehingga anak tetap mendapatkan stimulasi sambil berinteraksi langsung dengan alat,” kata Miftahul.
Untuk menilai kesesuaian rancangan dan fungsi perangkat, tim telah melakukan pengujian interaksi lapangan di TK Budi Mulia Al Bayaan. Pengujian tersebut dilakukan dengan melihat pola interaksi anak usia dini saat menggunakan Lingo secara langsung.
Pengujian itu juga menjadi bahan bagi tim untuk mengevaluasi rancangan perangkat. “Pengujian di lapangan membantu kami melihat bagaimana anak berinteraksi dengan Lingo sekaligus menjadi bahan untuk menyempurnakan desain dan fungsinya,” ujar Miftahul.
Prototipe Lingo dalam Pengajuan HKI
Saat ini, prototipe Lingo sedang dalam proses pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa Desain Industri. Pengajuan tersebut ditujukan untuk melindungi karya yang dikembangkan tim sekaligus membuka peluang pemanfaatan inovasi dalam pendidikan anak usia dini.
Pengembangan Lingo sejalan dengan perhatian terhadap penguatan pendidikan, sains, dan teknologi, serta program Transisi PAUD ke SD dan Gerakan Literasi Nasional. Tim UGM berharap integrasi teknologi pengenalan ucapan, umpan balik audio, dan IoT dapat terus dikembangkan untuk mendukung guru dan orang tua dalam mendampingi literasi dasar anak.




















