Headline.co.id, Medan ~ Kanker payudara merupakan isu kesehatan utama dengan tingkat insiden tinggi di Indonesia. Berdasarkan data GLOBOCAN 2022, tercatat 66.271 kasus baru dan 22.598 kematian terkait kanker ini. Menanggapi persoalan tersebut, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menciptakan sebuah inovasi yaitu Breast Cancer Integrated Theranostics (BREIT)—sebuah perangkat elektronik cerdas yang bertujuan memetakan karakteristik jaringan payudara dan eksplorasi terapi pendukung. Produk inovatif ini merupakan hasil dari Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC) tahun 2026 yang mengintegrasikan teknologi Electrical Impedance Tomography (EIT), kecerdasan buatan (AI), dan sistem digital.
Pengembangan ini melibatkan kolaborasi mahasiswa Fakultas Teknik dan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM. Tim terdiri dari Alfito Putra, Muhammad Nafal, Bryan Alvinnov, Muhammad Zufar, dan Mirza Evrizqo Timmerman, dibawah bimbingan Ir. Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D. Mereka memfokuskan pada integrasi perangkat keras, elektronika, AI, dan sistem web. “Perangkat keras, elektronika, AI, dan sistem web tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Justru integrasi itulah yang menjadi fokus utama kami,” jelas Alfito, ketua tim.
EIT, teknologi utama dalam BREIT, memungkinkan perangkat ini membaca karakteristik listrik jaringan payudara melalui stimulasi listrik intensitas rendah. Data hasil stimulasi tersebut kemudian diolah oleh AI untuk menciptakan gambaran distribusi jaringan yang lebih mudah dianalisis. “Secara sederhana, EIT memungkinkan kita membuat semacam peta karakteristik listrik jaringan,” ujar Mirza, anggota tim pengembangan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Sementara itu, komponen wearable vest pada BREIT ditujukan untuk menguji Electro-Capacitive Cancer Therapy (ECCT), memanfaatkan medan listrik untuk terapi kanker tambahan. Meski demikian, tim menyatakan bahwa BREIT masih dalam tahap pengembangan dan belum dimaksudkan sebagai pengganti metode diagnosis klinis yang sudah ada. Penyelidikan berlanjut untuk menentukan apakah ECCT dapat memberikan efek biologis yang terukur.
Ke depan, tim berencana menyempurnakan prototipe ini melalui penelitian lanjutan yang mencakup pengembangan perangkat, pengolahan data, serta pengujian sistem. Mereka juga menyadari bahwa inovasi kesehatan memerlukan uji klinis dan regulasi yang ketat sebelum aplikasi praktis. Dengan visi menjadi bagian penting dalam pemecahan masalah kesehatan, mahasiswa UGM melalui proyek BREIT berupaya menghadirkan solusi mendalam melalui sinergi teknologi dan ilmu kesehatan.

















