Headline.co.id, Jogja ~ Kasus perundungan di lingkungan pendidikan masih menjadi masalah serius yang sering kali diabaikan. Data survei nasional menunjukkan bahwa perundungan, baik secara verbal, fisik, maupun sosial, masih banyak terjadi di sekolah dan kampus. Dampak dari perundungan ini dapat memicu stres sosial kronis, yang berpotensi merusak struktur dan fungsi otak, khususnya hipokampus, bagian otak yang penting untuk memori. Menanggapi hal ini, tim mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan penelitian mengenai potensi daun kelor (Moringa oleifera) dalam mengatasi stres sosial kronis.
Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) UGM yang terdiri dari Nisrina Rahma Ardihapsari dan Hanin Izdihar dari Fakultas Biologi, Maryam Izzati Muthmainnah dari Fakultas Psikologi, Lakshinta Hasna Hapsari dari Fakultas Farmasi, serta Syakira Fauzia Fatoni dari Fakultas Kedokteran, menggunakan metode Chronic Social Defeat Stress (CSDS) untuk meneliti efek daun kelor. Penelitian ini dilakukan dengan menginduksi stres pada mencit melalui interaksi berulang dengan mencit agresor, meniru dinamika perundungan di kehidupan nyata. “Kondisi ini digunakan sebagai representasi biologis dari dampak bullying jangka panjang pada manusia,” jelas Nisrina.
Daun kelor dipilih karena kandungan bioaktifnya, yaitu kuersetin, yang berfungsi sebagai antioksidan untuk menangkal stres oksidatif. Syakira menjelaskan bahwa stres oksidatif merupakan salah satu mekanisme yang berperan dalam kerusakan neuron akibat stres kronis. “Kuersetin pada daun kelor membantu menetralkan stres oksidatif,” tambahnya. Selain itu, daun kelor mudah ditemukan dan relatif murah, menjadikannya solusi neuroprotektif yang terjangkau.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Dosen pembimbing, drh. Retno Murwanti, M.P., Ph.D., berharap penelitian ini dapat mengungkap potensi dan efektivitas ekstrak daun kelor sebagai agen neuroprotektan pada mencit. Efektivitas ini diukur melalui kadar malondialdehida (MDA), histopatologi neuron hipokampus, serta pemulihan fungsi memori spasial. Penelitian ini diharapkan dapat membuka jalan bagi pengembangan solusi berbasis bahan alam yang terjangkau untuk mendukung kesehatan mental generasi muda.


















