Headline.co.id, Jogja ~ Fenomena self-reward semakin akrab dengan keseharian Generasi Z, di mana makanan favorit menjadi pilihan utama dibandingkan barang mewah. Penelitian yang dilakukan oleh tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkap bahwa 42 persen dari 384 responden Generasi Z memilih makanan sebagai bentuk penghargaan diri. Sementara itu, 33,5 persen memilih membeli barang, dan 24,5 persen memilih bentuk self-reward yang tidak melibatkan pembelian barang. Penelitian ini merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) UGM.
Tim peneliti yang terdiri dari Rodiyyah Nurul Adawiyyah, Anggita Rasya Ananta, Ardhia Revalina Asyifa, Kadja Elyoenai Kale Lado, dan Zahrotuz Zakiyah, menggunakan konsep intertemporal choice untuk memahami keputusan konsumsi Gen Z. Anggita Rasya Ananta menjelaskan bahwa penelitian ini berangkat dari kebiasaan sederhana yang dapat menunjukkan bagaimana seseorang membuat keputusan konsumsi. “Kami tertarik melihat self-reward sebagai bagian dari keseharian Gen Z dan memahami bagaimana keputusan untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri berkaitan dengan kondisi keuangan serta pilihan konsumsi,” ujarnya pada 8 September 2026.
Kemudahan transaksi digital turut mempengaruhi keputusan pembelian cepat, di mana rekomendasi produk dan promosi sering muncul di media sosial. Meskipun literasi keuangan penting, penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ini tidak selalu mencegah pembelian impulsif. Anggita menekankan pentingnya kemampuan mengendalikan dorongan untuk mendapatkan kepuasan cepat. “Literasi keuangan memberi dasar bagi seseorang untuk memahami konsekuensi dari keputusan finansial, tetapi dalam praktiknya kita juga perlu melihat bagaimana seseorang mengendalikan dorongan ketika ada keinginan untuk mendapatkan kepuasan secara langsung,” jelasnya.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Penelitian juga menemukan bahwa kondisi emosional mempengaruhi praktik self-reward. Rasa lelah, stres, atau kebahagiaan setelah pencapaian dapat mendorong konsumsi sebagai bentuk penghargaan diri. Anggita menambahkan bahwa keputusan self-reward sering kali muncul sebagai respons terhadap perasaan yang dialami, sehingga penting untuk memahami konteks emosional dalam perilaku konsumsi. Meski self-reward tidak selalu bermasalah, penting untuk mempertimbangkan kemampuan finansial dan prioritas masa depan. “Self-reward tetap boleh dilakukan, tetapi bentuknya perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing,” pungkasnya.

















