Headline.co.id, Berawal Dari Kekhawatiran Terhadap Limbah Styrofoam Yang Sulit Terurai Dan Berbahaya Bagi Lingkungan ~ sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan alternatif kemasan ramah lingkungan. Inovasi ini menggunakan miselium jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) sebagai bahan utama, yang tidak hanya bebas mikroplastik tetapi juga mendukung ekonomi sirkular dengan memanfaatkan limbah pertanian.
Proyek ini merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) 2026. Tim yang dipimpin oleh Divo Cahaya Fikri dari Teknik Nuklir, Fakultas Teknik, terdiri dari Nasyawana Ladita Agustine (Kimia, FMIPA), Umi Muthoharoh (Akuntansi, FEB), Reyhan Abelard Fikri (Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak, Sekolah Vokasi), dan Balqhis Naila Andini (Filsafat). Mereka didampingi oleh Choirunnisa Arifa, S.E., M.Sc., Ph.D., Ak., CA., dosen Departemen Akuntansi FEB UGM, dalam proses riset hingga uji kelayakan usaha.
Divo menjelaskan bahwa inovasi yang dinamakan Mushfoam ini berawal dari keprihatinan terhadap limbah styrofoam yang menumpuk dan sulit terurai. “Kami ingin memanfaatkan limbah pertanian yang mudah terurai sebagai pengganti polistirena, guna mengurangi limbah styrofoam sekaligus memaksimalkan potensi limbah pertanian yang belum banyak dimanfaatkan,” ujarnya. Mushfoam memanfaatkan ampas tebu sebagai serat penguat dan tongkol jagung giling sebagai pengisi massa, yang dicampur dengan dedak padi dan kalsium karbonat sebelum diinokulasi dengan bibit jamur.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Umi Muthoharoh menambahkan bahwa tantangan utama adalah memastikan produk ini tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan diterima pasar. “Kami perlu menghitung biaya produksi dan menentukan harga yang terjangkau bagi calon pengguna, sekaligus memastikan usaha ini dapat terus berkembang,” katanya. Uji kelayakan usaha menunjukkan proyeksi ROI sebesar 46,24 persen dan B/C Ratio 1,42 pada kuartal pertama penjualan, dengan target awal 400 unit produk.
Tim merencanakan penetrasi pasar awal melalui skema business to business, dengan memberikan sampel gratis dan edukasi langsung kepada calon mitra, sebelum ekspansi ke marketplace digital secara nasional. Mereka juga menyusun peta jalan usaha dalam lima tahap, dengan target jangka panjang mengembangkan varian Mushfoam berstandar food grade dan mengurus hak paten atas produk dan prosesnya.



















