Headline.co.id, Kementerian Pendidikan ~ Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong perguruan tinggi untuk menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) menyusul penyebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Erupsi yang terjadi pada Sabtu, 5 September 2026, ini berdampak pada lima provinsi di Indonesia. Langkah ini diambil untuk memastikan keselamatan dan kesehatan mahasiswa serta staf pengajar di tengah kondisi udara yang memburuk.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Prof. Nizam, menyatakan bahwa keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai penyebaran abu vulkanik. “Kami mengimbau seluruh kampus di wilayah terdampak untuk segera beralih ke PJJ guna menghindari risiko kesehatan,” ujar Prof. Nizam. Ia menambahkan bahwa kesehatan dan keselamatan civitas akademika menjadi prioritas utama.
Selain itu, Kemdiktisaintek juga berkoordinasi dengan pihak kampus untuk memastikan kesiapan infrastruktur teknologi informasi yang mendukung pelaksanaan PJJ. Prof. Nizam menekankan pentingnya kesiapan teknis agar proses belajar mengajar tetap berjalan lancar meski dilakukan secara daring. “Kami siap memberikan dukungan teknis dan pelatihan bagi dosen dan mahasiswa untuk memaksimalkan penggunaan platform digital,” tambahnya.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Sementara itu, BMKG terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik Anak Krakatau dan menyampaikan informasi terkini kepada masyarakat. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti arahan dari pihak berwenang. “Kami akan terus memberikan update terkait kondisi cuaca dan penyebaran abu vulkanik,” jelas Dwikorita. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan dampak negatif dari erupsi dapat diminimalisir dan kegiatan akademik tetap berlangsung dengan aman.


















