Headline.co.id, Jawa Tiimur ~ Penanganan kasus santri keracunan MBG Sidoarjo terus berlangsung setelah jumlah pasien yang mendapatkan layanan medis tercatat mencapai 500 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 320 pasien telah diperbolehkan pulang, 65 pasien masih menjalani rawat inap, sedangkan 115 pasien lainnya berada dalam tahap observasi di sejumlah rumah sakit di Kabupaten Sidoarjo. Para santri sebelumnya mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo.
Perkembangan santri keracunan MBG Sidoarjo menunjukkan sebagian besar pasien telah meninggalkan rumah sakit setelah mendapatkan penanganan medis. Namun, puluhan pasien masih membutuhkan rawat inap dan lebih dari seratus lainnya tetap dipantau tenaga kesehatan untuk memastikan kondisi mereka stabil sebelum diperbolehkan pulang.
Kasus santri keracunan MBG Sidoarjo tersebut ditangani di delapan rumah sakit. RSUD Notopuro Sidoarjo menjadi fasilitas kesehatan dengan jumlah pasien terbanyak, sementara sejumlah rumah sakit lain juga masih memberikan perawatan dan observasi kepada santri sesuai kondisi masing-masing.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
320 Santri Sudah Diperbolehkan Pulang
Berdasarkan data penanganan medis terbaru, total pasien yang mendapatkan layanan kesehatan mencapai 500 orang.
Sebanyak 320 pasien telah diperbolehkan keluar dari rumah sakit atau KRS setelah menjalani pemeriksaan dan perawatan. Sementara itu, 65 pasien masih menjalani rawat inap atau MRS dan 115 pasien lainnya masih dalam observasi.
Besarnya jumlah pasien yang telah diperbolehkan pulang menunjukkan sebagian santri telah mengalami perbaikan kondisi setelah mendapatkan penanganan medis.
Meski demikian, tenaga kesehatan masih memantau pasien yang membutuhkan observasi maupun rawat inap.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina sebelumnya mengatakan observasi diperlukan untuk memantau perkembangan kesehatan para santri.
“Ya tentunya butuh perawatan, untuk observasi ya, diobservasi dulu. Karena saya masih belum lihat ke sana,” ujar Lakhsmie saat ditemui, Selasa, 1 September 2026.
RSUD Notopuro Tangani Pasien Terbanyak
RSUD Notopuro Sidoarjo menjadi rumah sakit yang menerima jumlah pasien paling banyak dalam penanganan kasus tersebut.
Sebanyak 334 santri mendapatkan penanganan di rumah sakit itu. Dari jumlah tersebut, 239 pasien sudah diperbolehkan pulang, 92 masih menjalani observasi, dan tiga pasien masih dirawat inap.
Jumlah tersebut membuat RSUD Notopuro menjadi fasilitas kesehatan dengan beban penanganan terbesar dibandingkan rumah sakit lainnya.
Selain RSUD Notopuro, RS Siti Hajar menangani 74 pasien. Dari jumlah tersebut, 29 pasien masih menjalani rawat inap, 40 telah diperbolehkan pulang, dan lima lainnya masih dalam observasi.
RSU Aisyiyah Siti Fatimah juga menerima 47 pasien. Sebanyak delapan pasien menjalani rawat inap, sementara 39 pasien lainnya telah diperbolehkan pulang.
Delapan Santri Masih Dirawat di RS Bhayangkara Pusdik Porong
RS Delta Surya menangani 20 pasien dengan rincian 15 pasien masih menjalani rawat inap, satu pasien telah diperbolehkan pulang, dan empat pasien masih dalam observasi.
Sementara itu, RS Pusura menangani 13 pasien yang seluruhnya masih menjalani observasi.
RS Pusdik Bhayangkara Porong menerima delapan santri dan seluruh pasien tersebut masih menjalani rawat inap.
Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Pusdik Porong, Zaid, mengonfirmasi kondisi tersebut.
“Sampai pagi ini masih ada 8 santri yang menjalani rawat inap,” ujar Zaid.
Selain itu, RS Arafah Anwar Medika menangani tiga pasien. Dua di antaranya masih menjalani rawat inap dan satu pasien telah diperbolehkan pulang.
Adapun RS Anwar Medika menangani satu pasien yang masih berada dalam tahap observasi.
Jumlah Pasien Sempat Tercatat 293 Orang
Sebelum data terbaru menunjukkan jumlah pasien mencapai 500 orang, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo sempat mencatat sebanyak 293 santri membutuhkan penanganan medis.
Data tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina pada Selasa, 1 September 2026.
“Terakhir 293,” ungkap Lakhsmie.
Saat itu, ia mengatakan pasien tersebar di delapan rumah sakit di wilayah Sidoarjo.
“Ada delapan. Delapan rumah sakit,” ujarnya.
Menurut Lakhsmie, beberapa fasilitas kesehatan yang menerima pasien antara lain RSUD Notopuro, RS Islam Siti Hajar, RS Bhayangkara Pusdik Porong, RS Delta Surya, dan RSU Aisyiyah Siti Fatimah.
“Notopuro, Siti Hajar, RS Bhayangkara Pusdik Porong, Delta Surya, kemudian Fatimah, dan ada beberapa rumah sakit lain,” katanya.
Perkembangan data kemudian menunjukkan jumlah pasien yang mendapatkan pelayanan medis bertambah hingga 500 orang.
Keluhan Mual dan Pusing Muncul Setelah Ashar
Insiden bermula setelah sejumlah santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam mengeluhkan kondisi kesehatan seusai melaksanakan shalat Ashar.
Keluhan yang dirasakan antara lain kepala pusing dan perut mual.
Setelah Maghrib, jumlah santri yang mengalami keluhan bertambah sehingga ratusan santri dibawa ke sejumlah rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Menu MBG yang disajikan saat itu berupa nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu bali, tumis buncis baby corn, dan apel.
Konsumsi Ditelusuri dari SPPG Kalitengah
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan terdapat kesamaan sumber konsumsi pada korban yang berasal dari Pondok Pesantren Manbaul Hikam maupun sejumlah sekolah lain.
Menurut Emil, makanan tersebut berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.
“Nah, memang juga ada data yang menunjukkan selain dari pondok pesantren Manbaul Hikam ada juga dari sekolah-sekolah lain itu juga mengalami keluhan. Jadi, kesamaannya adalah konsumsi dari SPPG yang sama, SPPG Tanggulangin Kalitengah,” ujar Emil.
Meski sumber konsumsi telah diketahui, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para santri masih dalam proses penelusuran oleh Badan Gizi Nasional.
SPPG Kalitengah diketahui telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi atau SLHS.
“SPPG ini sudah memperoleh SLHS. Catatan asesmen menunjukkan sarana prasarananya memadai, tenaga penjamah makanan juga sudah mengikuti sertifikasi, termasuk sertifikasi halal,” jelas Emil.
Emil menegaskan kepemilikan sertifikat tidak otomatis menutup kemungkinan terjadinya persoalan dalam proses operasional.
“Tetap saja dengan sarana prasarana dan sistem, masih ada ruang kalau misalnya bahan makanannya dari awal, atau timing pelaksanaan menyimpang dari SOP yang diverifikasi, itu bisa menyebabkan masalah,” jelasnya.
Hingga kini, fokus penanganan tetap diarahkan pada pemulihan pasien. Sebanyak 320 santri telah diperbolehkan pulang, sementara 65 pasien masih menjalani rawat inap dan 115 lainnya tetap dalam observasi tenaga kesehatan.

















