Headline.co.id, Jakarta ~ Wakil Menteri Agama Romo Syafi’i meminta aparatur sipil negara (ASN) Kementerian Agama mengutamakan kepentingan bangsa dan negara dalam menjalankan tugas. Pesan itu disampaikan saat ia menjadi inspektur upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di halaman kantor Kementerian Agama, Jakarta, Rabu (28/10/2026). Wamenag mengaitkan semangat Sumpah Pemuda dengan tanggung jawab ASN dalam memberikan pelayanan publik, termasuk dengan menghindari konflik kepentingan yang mengutamakan kepentingan pribadi maupun keluarga.
Menurut Romo Syafi’i, nilai Sumpah Pemuda harus diwujudkan melalui sikap dan perilaku aparatur negara, bukan hanya dipahami sebagai bagian dari sejarah. Ia menyebut terdapat tiga kesadaran penting yang lahir melalui Sumpah Pemuda, yakni kesadaran akan pentingnya persatuan, kesadaran berkebangsaan, dan kesadaran untuk memperjuangkan tujuan bersama.
Tiga Kesadaran dari Sumpah Pemuda
Wamenag menjelaskan, kesadaran pertama adalah pentingnya persatuan dalam perjuangan mencapai kemerdekaan. Sebelum persatuan menguat, perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah berlangsung secara terpisah di berbagai daerah.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Ada tiga kesadaran yang lahir lewat Sumpah Pemuda ini. Pertama adalah kesadaran akan pentingnya persatuan. Sejak 1596, rakyat Indonesia berjuang melawan penjajah, tetapi sifatnya masing-masing, sporadis dan parsial,” ujar Wamenag.
Ia mengatakan, perjuangan yang dilakukan secara sendiri-sendiri belum mampu mewujudkan kemerdekaan. Persatuan yang ditegaskan para pemuda melalui Sumpah Pemuda pada 1928 menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan bangsa menuju Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Kesadaran kedua, lanjut Romo Syafi’i, adalah kesadaran berkebangsaan. Para pemuda pada 1928 dinilai berani melampaui perbedaan daerah, etnis, suku, dan agama untuk menyatakan diri sebagai satu bangsa, yaitu Bangsa Indonesia.
“Yang kedua adalah kesadaran berkebangsaan. Sebenarnya sudah mulai ada cikal bakal pemikiran akan melahirkan satu bangsa, tapi kemudian itu baru dikonstruksi oleh para pemuda kita. Dengan berani, mereka menyatakan dirinya sebagai satu bangsa,” kata Wamenag.
Ia menilai keberagaman tidak harus menjadi penghalang bagi persatuan. Perbedaan dapat menjadi kekuatan bangsa ketika seluruh elemen masyarakat memiliki kesadaran kebangsaan yang sama dan menjunjung semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Adapun kesadaran ketiga adalah tujuan bersama. Menurut Wamenag, persatuan dan identitas kebangsaan perlu diarahkan pada cita-cita yang jelas, yakni kemerdekaan Indonesia.
“Yang ketiga adalah kesadaran untuk satu tujuan bersama, merdeka. Mereka sadar persatuan tidak akan selamanya bisa dipertahankan, perasaan kebangsaan bisa kapan saja tercabik-cabik kalau kita belum merdeka. Karena itu, tidak ada jalan lain, dengan persatuan dan kesadaran berbangsa, kita harus mengkristalisasi tujuan yang sama: Indonesia harus merdeka,” tuturnya.
ASN Kemenag Harus Menjaga Integritas
Romo Syafi’i kemudian menghubungkan tiga kesadaran tersebut dengan pelaksanaan tugas ASN Kementerian Agama. Ia menegaskan, semangat kebangsaan perlu tercermin dalam pengabdian aparatur dan pelayanan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.
ASN, kata dia, harus menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi maupun keluarga. Amanah sebagai aparatur negara juga harus dijalankan dengan menjunjung integritas serta menghindari penyalahgunaan tanggung jawab untuk keuntungan kelompok atau keluarga.
“Kalau perasaan itu ada, semangat Sumpah Pemuda masih ada dalam diri kita. Tapi kalau semangat itu tidak ada, kita hanya memanfaatkan perasaan satu bangsa, padahal itu hanya untuk kepentingan diri kita dan keluarga kita. Ini pengkhianatan terhadap Sumpah Pemuda,” tegas Wamenag.
Peringatan Hari Sumpah Pemuda, menurut pesan tersebut, menjadi pengingat bagi ASN Kementerian Agama agar tidak memisahkan nilai sejarah dari tanggung jawab pemerintahan. Persatuan, kesadaran sebagai satu bangsa, dan tujuan bersama perlu diterapkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
Dengan demikian, peringatan Sumpah Pemuda tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang perjuangan generasi terdahulu. Bagi ASN Kementerian Agama, momentum itu juga menjadi kesempatan untuk memperkuat komitmen pengabdian, menjaga persatuan, serta menjalankan amanah negara secara bertanggung jawab.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















