Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat terhadap kondisi kering di Indonesia yang dipicu El Nino berintensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada Oktober 2026. Peringatan itu disampaikan BMKG dalam keterangan di Jakarta, Jumat (16/10/2026), menyusul masih berlangsungnya kedua fenomena iklim tersebut. Kondisi ini berpotensi mengurangi pembentukan awan hujan dan meningkatkan risiko kekeringan, terutama di wilayah yang masih mengalami musim kemarau.
BMKG mencatat sekitar 76 persen zona musim di Indonesia masih berada dalam periode kemarau, sementara 8 persen lainnya telah memasuki musim hujan. Meski kondisi kering meluas, hujan lokal dengan intensitas sedang hingga lebat tetap berpeluang terjadi akibat dinamika atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan.
Headline.co.id, Jakarta ~
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Kondisi kering Indonesia berpotensi memperpanjang kekeringan
Kondisi kering tersebut berpotensi memperpanjang kekeringan meteorologis di Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan dan Sulawesi, Maluku, serta Papua Selatan.
Berdasarkan pantauan citra satelit, BMKG mendeteksi 1.297 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Sebagian besar titik panas itu berada di Sumatra dan Kalimantan.
Pengamatan BMKG juga menunjukkan adanya sebaran asap di sebagian besar wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Situasi tersebut perlu diwaspadai, khususnya di daerah yang mengalami defisit hujan dan memiliki vegetasi kering karena dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
BMKG mengingatkan kondisi panas dan kering berlangsung bersamaan dengan potensi cuaca ekstrem di wilayah lain. Pada 12–13 Oktober 2026, suhu udara maksimum tercatat di atas 37 derajat Celsius.
Suhu tertinggi mencapai 38,2 derajat Celsius di Lampung. Selanjutnya, suhu maksimum 37,8 derajat Celsius tercatat di Jawa Barat dan Jawa Tengah, sedangkan Kalimantan Selatan dan Papua Selatan masing-masing mencapai 37,4 derajat Celsius.
Kondisi panas tersebut dipengaruhi posisi semu matahari yang berada di selatan ekuator serta minimnya tutupan awan. Akibatnya, radiasi matahari mencapai permukaan bumi secara maksimal, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan.
Hujan lebat masih terjadi di tengah pengaruh El Nino
Di tengah kondisi kering, hujan lebat hingga ekstrem tetap terjadi di sejumlah wilayah. Pada 13–15 Oktober 2026, BMKG mencatat curah hujan harian mencapai 187 mm di Aceh, 95 mm di Sumatra Utara, 69 mm di Sumatra Barat, dan 63 mm di Papua Barat Daya.
Menurut BMKG, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby ekuatorial, dan gelombang Kelvin masih berpotensi mendukung pembentukan awan hujan secara lokal. Pertemuan dan perlambatan kecepatan angin serta suhu muka laut yang hangat di sejumlah wilayah juga menjadi faktor yang dapat memicu pertumbuhan awan hujan.
Dengan demikian, kondisi kering akibat El Nino sangat kuat dan IOD positif tidak berarti seluruh wilayah Indonesia terbebas dari hujan lebat, angin kencang, atau cuaca ekstrem. Perbedaan kondisi atmosfer di setiap wilayah tetap dapat memunculkan hujan dengan intensitas tinggi secara lokal.
Prakiraan cuaca 16–22 Oktober 2026
Untuk periode 16–18 Oktober 2026, cuaca di Indonesia diprakirakan didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat hingga sangat lebat di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Papua Barat Daya, dan Papua.
Potensi angin kencang juga perlu diwaspadai di Lampung, Banten, dan Jawa Barat.
Sementara itu, pada periode 19–22 Oktober 2026, cuaca diprakirakan masih didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Hujan lebat hingga sangat lebat berpotensi terjadi di Aceh dan Sumatra Barat.
Angin kencang berpotensi terjadi di Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, dan Papua Selatan. Masyarakat di wilayah-wilayah tersebut diminta memperhatikan informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG.
BMKG minta masyarakat hemat air dan hindari pembakaran
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat dan pemangku kepentingan untuk menjaga kesehatan serta menghemat penggunaan air. Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah karena kondisi vegetasi kering dapat meningkatkan risiko kebakaran.
Informasi mengenai prakiraan cuaca dan peringatan dini dapat dipantau melalui aplikasi Info BMKG, laman http://www.bmkg.go.id, serta media sosial @infobmkg.
BMKG menegaskan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca tetap diperlukan. Kondisi kering di sebagian wilayah Indonesia tidak meniadakan potensi hujan lebat, angin kencang, maupun cuaca ekstrem di wilayah lainnya.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















