Headline.co.id, Jakarta ~ Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan risiko ketergantungan anak terhadap kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) di tengah meningkatnya penggunaan teknologi digital. Peringatan itu disampaikan dalam Peluncuran Kelas Pengasuhan Digital di Jakarta Selatan, Jumat (16/10/2026). Menurut Nezar, pendampingan orang tua diperlukan agar anak dapat menggunakan teknologi secara aman tanpa kehilangan kepribadian dan kemampuan berpikir kritis. Ia juga mendorong kolaborasi pemerintah, platform digital, dan keluarga untuk membangun ekosistem digital yang sehat bagi anak.
“Jangan sampai anak kita menjadi tergantung dengan artificial intelligence sehingga mereka kehilangan kepribadiannya sendiri, mereka kehilangan kemampuan berpikir kritis. Ini yang saya kira paling berisiko buat generasi kita ke depan,” ujar Nezar.
Risiko ketergantungan AI terhadap anak
Nezar menyebut sekitar 70 juta anak Indonesia akan tumbuh dalam ekosistem digital yang semakin kompleks, termasuk dengan kehadiran AI. Situasi tersebut membuat peran orang tua menjadi penting untuk memastikan pemanfaatan teknologi berlangsung secara aman dan sehat.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Selain risiko ketergantungan terhadap AI, Nezar mengingatkan sejumlah ancaman dalam interaksi digital anak. Risiko itu meliputi kontak dengan orang asing, paparan konten yang tidak sesuai, ancaman terhadap data pribadi, serta kecanduan digital.
Karena itu, pengasuhan digital perlu dilakukan melalui komunikasi terbuka dan pendampingan aktif. Orang tua juga perlu memahami fitur keamanan yang tersedia pada platform digital agar dapat mendampingi anak secara tepat.
Pendampingan tersebut tidak hanya ditujukan untuk membatasi penggunaan teknologi. Orang tua juga diharapkan dapat membantu anak memahami perlindungan data pribadi, etika berkomunikasi, serta penggunaan AI secara bijak dan kreatif.
PP TUNAS menjadi landasan perlindungan anak
Pemerintah telah menghadirkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS). Peraturan itu menjadi landasan untuk membangun ruang digital yang lebih aman dan sehat bagi anak.
Nezar mengatakan perlindungan anak di ruang digital merupakan tanggung jawab yang besar. Pemerintah, menurut dia, perlu memastikan anak-anak mendapatkan ruang yang aman dan sehat dalam ekosistem digital.
“Kita punya tanggung jawab yang cukup besar bagaimana menjamin ruang yang aman dan sehat buat anak-anak kita itu. Itu sebabnya pemerintah membuat PP TUNAS dalam rangka membangun ruang aman dan sehat bagi anak di dalam ekosistem digital. Melindungi anak kita adalah melindungi peradaban,” tegas Nezar.
Kolaborasi pemerintah, platform digital, dan orang tua dinilai diperlukan karena tantangan yang dihadapi anak di ruang digital terus berkembang. Pengasuhan digital menjadi salah satu cara untuk memperkuat pemahaman keluarga mengenai risiko sekaligus manfaat teknologi.
WhatsApp perkenalkan fitur Parental Control
Dalam kegiatan tersebut, WhatsApp memperkenalkan fitur Parental Control untuk membantu orang tua mendampingi aktivitas digital anak remaja. Fitur itu memungkinkan orang tua melihat informasi mengenai grup dan kanal yang terhubung dengan akun anak.
Orang tua juga dapat mengatur sejumlah pilihan terkait konten yang dapat dilihat dan dibagikan. Selain itu, mereka bisa menerima notifikasi atas perubahan tertentu pada akun anak.
Wakil Presiden Business Operations and External Affairs WhatsApp Victoria Grant menjelaskan, fitur Parental Control dirancang untuk membantu orang tua menjaga keselamatan anak tanpa harus membaca percakapan pribadi mereka.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjaga keseimbangan perlindungan digital dan kepercayaan dalam hubungan orang tua dengan anak. Menurut Grant, pengaturan fitur sebaiknya dilakukan secara terbuka dan melibatkan anak.
“Dengan begitu, tidak ada pengaturan yang tiba-tiba muncul dan mengejutkan anak Anda. Anda dapat membuka dan mengatur fitur-fitur tersebut bersama-sama,” ungkap Grant.
Melalui Kelas Pengasuhan Digital, orang tua juga diperkenalkan pada buku saku, video, dan permainan edukatif. Materi tersebut digunakan untuk membantu orang tua mempelajari fitur Parental Control bersama anak.
Pelatihan berlanjut ke Padang dan Cirebon
Setelah dilaksanakan di Jakarta, pelatihan direncanakan berlanjut ke Padang dan Cirebon. Program ini merupakan kolaborasi WhatsApp dengan Kementerian Komunikasi dan Digital, ICT Watch, serta Keluarga Kita.
Kolaborasi tersebut ditujukan untuk memperluas literasi pengasuhan digital di kalangan keluarga Indonesia. Nezar berharap program itu dapat membantu orang tua mendampingi anak menghadapi lingkungan digital pada abad ke-21.
Ia juga berharap anak-anak Indonesia dapat tumbuh menjadi generasi yang cerdas, tangguh, kreatif, dan inovatif, sekaligus tetap aman saat menggunakan teknologi digital.
“Semoga kita bisa terus mendampingi anak-anak kita tumbuh besar dalam lingkungan baru di abad ke-21 ini menjadi generasi yang cerdas, lebih tangguh, kreatif, dan inovatif, dan yang penting mereka aman dan selamat dalam mengarungi dunia digital ini,” pungkas Nezar.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















