Headline.co.id, Jogja ~ Tradisi berbuka puasa dengan makanan manis telah menjadi kebiasaan di Indonesia selama bulan Ramadhan. Hidangan dengan kadar gula tinggi sering kali mendominasi meja makan sebagai pelepas lapar dan dahaga setelah berpuasa selama 12-14 jam. Kondisi ini menyebabkan kadar gula darah menurun, sehingga otak mengirimkan sinyal untuk mencari sumber energi dengan cepat. Namun, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa konsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan dapat menimbulkan risiko gangguan kesehatan.
Dr. Ali Baswedan, Sp. PD, KEM-D, seorang Dokter Spesialis Penyakit Dalam Sub Endokrin Metabolik dari RSA UGM, menjelaskan bahwa meskipun konsumsi makanan manis saat berbuka tidak sepenuhnya salah, kuantitas dan jenis makanan yang dikonsumsi harus diperhatikan. “Gula darah dapat meningkat dengan cepat dan kemudian turun lagi dengan cepat, yang membuat tubuh mudah lelah dan cepat lapar kembali,” ujarnya pada Kamis (5/3).
Lonjakan gula darah yang cepat ini disebabkan oleh makanan dengan Indeks Glikemik (IG) tinggi, seperti nasi putih, roti, dan minuman berpemanis. Makanan tersebut memicu lonjakan insulin secara mendadak. Ali menjelaskan bahwa konsumsi nasi dalam porsi besar saat berbuka akan membuat tubuh mengeluarkan hormon insulin dalam jumlah tinggi. “Porsi nasi sebaiknya tidak berlebihan dan harus dikombinasikan dengan lauk berprotein dan sayur berserat untuk menstabilkan penyerapan gula,” jelasnya.
Risiko ini lebih serius bagi individu dengan diabetes atau pradiabetes. Menjaga stabilitas gula darah selama Ramadhan menjadi prioritas utama bagi kelompok ini. Ali menyarankan agar masyarakat mengatur pola makan selama Ramadhan untuk menjaga stabilitas gula darah. Ia menyarankan berbuka dengan air putih dan makanan ringan seperti kurma atau buah, menghindari minuman manis, dan mengonsumsi makanan seimbang setelah sholat Maghrib.
Untuk sahur, ia menganjurkan memilih karbohidrat kompleks seperti nasi merah, roti gandum, kentang, kacang-kacangan, ubi, dan jagung, serta menambah protein dan sayur agar energi bertahan lebih lama. “Dengan pola tersebut, diharapkan gula darah lebih stabil sepanjang hari puasa,” katanya.
Selain jenis makanan, jumlah konsumsi gula tambahan sering kali melebihi batas yang direkomendasikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan konsumsi gula tambahan tidak lebih dari 50 gram atau sekitar 4-10 sendok teh per hari. Namun, batasan ini sering kali dilampaui. Ali menegaskan bahwa masyarakat sering tidak menyadari batasan konsumsi gula harian. “Satu gelas minuman sirup atau teh manis bisa mengandung 20-30 gram gula. Tanpa disadari, batasan WHO sudah dilanggar hanya dari satu gelas minuman,” tegasnya.
Ali menyatakan bahwa Ramadhan adalah kesempatan untuk memperbaiki pola makan, baik bagi penderita diabetes maupun masyarakat umum. Ia berpesan agar masyarakat tidak berlebihan dalam mengonsumsi gula dan mengutamakan keseimbangan menu karbohidrat kompleks, protein, sayur, dan buah. Dengan pola makan yang tepat, manfaat rohani dan kesehatan fisik dapat diraih hingga hari kemenangan tiba. “Jika pola makan saat buka dan sahur dijaga dengan benar, puasa bukan sekadar ibadah, tetapi juga dapat meningkatkan kesehatan tubuh dengan menjaga stabilitas berat badan, mengontrol gula darah, dan kadar kolesterol,” tutupnya.



















