Headline.co.id, Kemunculan Puluhan Titik Api Di Sebuah Rumah Warga Di Seyegan ~ Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menarik perhatian para pakar dan peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Tim dari Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM mengunjungi lokasi tersebut akhir pekan lalu untuk menyelidiki penyebab fenomena tersebut. Setelah melakukan tiga kali observasi, hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa gas hidrogen menjadi pemicu utama, yang dihasilkan dari proses fermentasi limbah organik pemotongan ayam.
Tim PKPE UGM yang dipimpin oleh Prof. Ir. Alva Edy Tontowi, Ph.D., menemukan bahwa gas hidrogen menjadi pemicu utama setelah menemukan sebuah baju yang terbakar pada observasi kedua, Senin (1/6). Akumulasi hidrogen di titik terbakarnya baju tersebut sangat tinggi, mencapai 0,40. “Tim juga mendapati adanya akumulasi hidrogen di kamar mandi, yakni sebesar 0,11, yang tergolong cukup tinggi,” ujar Alva, Jumat (5/6).
Berdasarkan temuan tersebut, pada observasi kedua, tim mengambil sampel air dari beberapa titik, seperti aliran pipa, sumur, dan air limbah rumah. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui akumulasi gas hidrogen yang dihasilkan oleh air limbah. “Tim berpandangan kunci untuk mengetahui penyebab adalah dengan mengenali gas yang diduga kuat disebabkan oleh limbah cair atau gas tanah akibat pemotongan ayam,” jelas Alva.
Uji laboratorium masih terus dilakukan untuk menggali faktor-faktor pemicu munculnya titik api. Pada Kamis (4/6), tim melakukan penggalian dangkal di beberapa titik untuk mengukur keberadaan gas hidrogen. Selain hidrogen, tim juga mengasumsikan adanya gas fosfin dari fosfat (tulang dan bulu ayam) yang dapat memicu kebakaran ketika keluar bersamaan dengan hidrogen. Gas fosfin (PH3), yang diduga terbentuk dari material kaya fosfat seperti tulang dan bagian keras dari bulu ayam, sangat mungkin memicu terbakarnya gas hidrogen ketika muncul bersamaan. “Sayangnya, gas fosfin tidak mudah terdeteksi dan akan habis terbakar jika bertemu oksigen. Besar kemungkinan, gas fosfin tersebut yang memicu terbakarnya gas hidrogen ketika muncul bersamaan,” tambahnya.
Sambil menunggu hasil analisis laboratorium lebih lanjut mengenai sumber dari limbah cairan, Tim PKPE FT UGM merekomendasikan beberapa tindakan untuk mengurangi kemungkinan akumulasi gas yang lebih besar. Tim menyarankan agar sirkulasi udara dalam rumah dibuka selebar-lebarnya dan memasang kipas angin untuk mencegah rembesan gas berkumpul dalam kadar yang cukup untuk memantik api. Tim juga merekomendasikan pemilik rumah untuk mengeluarkan barang-barang yang mudah terbakar dari dalam rumah. “Tim UGM akan membantu melakukan penjenuhan cairan basa (air kapur) pada tanah dan lantai rumah, untuk menekan kemungkinan adanya bakteri Clostridium yang berperan dalam menghasilkan gas hidrogen,” pungkasnya.























