Headline.co.id, Jogja ~ Tim peneliti dari Pusat Studi Sumberdaya dan Teknologi Kelautan Universitas Gadjah Mada (UGM) telah mengembangkan produk kosmetik inovatif berupa lulur mandi berbasis garam laut dan bahan alami lainnya. Produk ini, yang diberi nama Lumare atau Cahaya dari Laut, menggunakan garam pantai selatan sebagai bahan baku utama. Garam ini dikenal memiliki kualitas yang bersih dan alami.
Prof. Ir. Leni Sophia Heliani, S.T., M.Sc., D.Sc., IPU., yang memimpin tim peneliti, menyatakan bahwa tujuan dari pengembangan produk ini adalah untuk meningkatkan nilai tambah komoditas garam rakyat melalui diversifikasi produk bernilai ekonomi tinggi. “Dalam inovasi produk kosmetik ini, garam berperan untuk proses eksfoliasi mengangkat sel-sel kulit mati dan menghilangkan kotoran dari permukaan kulit,” ujar Leni kepada wartawan pada Kamis (23/7).
Dosen Teknik Geodesi UGM ini juga menjelaskan bahwa Lumare hadir dalam varian Kopi yang berfungsi untuk mengembalikan energi tubuh dan kesegaran kulit, serta varian Matcha yang bermanfaat untuk detoksifikasi total dan ketenangan jiwa. “Dua kebaikan alam, satu solusi kulit berkilau khas Jogja,” tambahnya.
Pengembangan produk ini merupakan respons terhadap anjuran Pemerintah melalui Perpres No. 17 Tahun 2025 yang mendorong hilirisasi garam nasional menjadi produk bernilai tambah, termasuk kosmetik. Pemilihan garam pantai selatan sebagai bahan baku dinilai tepat karena kualitasnya yang baik dan proses produksinya yang bersih dan alami, menjadikannya berpotensi sebagai bahan baku kosmetik premium.
Leni menambahkan bahwa pengembangan Lumare tidak hanya berfokus pada inovasi produk kosmetik, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas garam rakyat melalui diversifikasi produk bernilai ekonomi tinggi, terutama untuk produk kosmetik. “Tren konsumen semakin mengarah pada produk perawatan tubuh yang alami, aman, dan ramah lingkungan,” jelasnya.
Produk Lumare Salt Body Scrub menggunakan garam laut berkualitas tinggi yang diproduksi oleh petani garam Pantai Selatan sebagai bahan utama eksfoliasi alami untuk membantu mengangkat sel-sel kulit mati. “Produk ini telah melalui uji iritasi kulit atau dermatologically tested untuk memastikan keamanan penggunaan pada kulit,” ungkap Leni.
Dalam pengembangan produk ini, tim peneliti mengadakan Focus Group Discussion (FGD) Riset Pasar dan Validasi Produk Lumare pada Sabtu (11/7) di Fakultas Teknik UGM. FGD ini merupakan bagian dari rangkaian penelitian untuk mendapatkan masukan dari berbagai pemangku kepentingan mengenai potensi pasar, strategi pengembangan, serta validasi produk sebelum memasuki tahap hilirisasi dan komersialisasi.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta, R. Hery Sulistio Hermawan, S.Pi., M.T., mengapresiasi upaya tim peneliti dalam mengembangkan inovasi berbasis garam lokal. Ia menekankan pentingnya sinergi berbagai pihak untuk mendukung keberlanjutan hasil penelitian. “Kolaborasi berbagai pihak perguruan tinggi, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat berperan penting dalam mendorong hilirisasi hasil penelitian agar bermanfaat bagi masyarakat luas,” ujarnya.
Kegiatan FGD ini dipandu oleh Dr. Arif Akhyat, M.A., Dosen Departemen Sejarah FIB UGM, dan dibagi dalam tiga sesi. Pada sesi pertama, peserta mendiskusikan potensi pasar produk kosmetik berbasis garam lokal serta mekanisme pasar yang berkembang saat ini. Hasil diskusi menunjukkan bahwa produk perawatan tubuh, khususnya lulur, masih memiliki peluang pasar yang cukup besar seiring meningkatnya tren penggunaan produk berbahan alami. Kesadaran masyarakat terhadap lulur berbahan garam laut masih relatif terbatas, sehingga diperlukan edukasi sekaligus penguatan identitas produk agar Lumare memiliki posisi yang berbeda dibandingkan produk sejenis di pasaran. “Pada sesi terakhir, peserta diarahkan untuk melakukan validasi produk Lumare melalui uji coba langsung. Selanjutnya peserta memberikan masukan pada aspek kualitas produk, desain kemasan, aroma, target konsumen, serta strategi pemasaran,” pungkas Leni.


















