Headline.co.id, Jakarta ~ Nilai tukar rupiah naik tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu, 9 September 2026, hingga mencetak posisi terkuat dalam hampir empat bulan terakhir. Di pasar spot, rupiah menguat Rp121 atau 0,69 persen menjadi Rp17.511 per dolar AS, sementara data Refinitiv mencatat penutupan di level Rp17.500 per dolar AS atau menguat 0,71 persen. Penguatan tersebut terjadi seiring masuknya arus modal ke pasar obligasi pemerintah dan melemahnya dolar AS di pasar global.
Nilai tukar rupiah telah bergerak positif sejak awal perdagangan dengan penguatan 0,31 persen ke level Rp17.570 per dolar AS. Mata uang Garuda kemudian melanjutkan penguatan hingga sempat menyentuh Rp17.490 per dolar AS sepanjang sesi perdagangan.
Penguatan nilai tukar rupiah kali ini menjadi salah satu yang paling kuat dalam beberapa bulan terakhir. Rupiah mencatatkan penguatan selama lima hari perdagangan berturut-turut dan mencapai posisi terbaik sejak pertengahan Mei 2026.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Rupiah Menguat Rp121 di Pasar Spot
Di pasar spot, rupiah ditutup pada level Rp17.511 per dolar AS atau menguat Rp121 dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.632 per dolar AS.
Penguatan 0,69 persen tersebut menjadi penguatan harian rupiah paling tajam sejak 11 Agustus 2026.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR Bank Indonesia juga menunjukkan penguatan. JISDOR tercatat berada di level Rp17.552 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.618 per dolar AS atau menguat Rp66.
Pergerakan tersebut memperlihatkan penguatan rupiah tidak hanya terjadi di pasar spot, tetapi juga tercermin pada kurs referensi Bank Indonesia.
Arus Modal Masuk ke Obligasi Pemerintah Jadi Penopang
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyebut faktor domestik berperan penting dalam penguatan rupiah, khususnya arus modal masuk ke pasar obligasi pemerintah.
“Rupiah pada perdagangan hari ini menguat dipengaruhi oleh faktor domestik arus modal masuk yang deras ke pasar obligasi pemerintah,” kata Rully di Jakarta, Rabu.
Arus modal yang masuk ke pasar obligasi tercatat naik sebesar 90,5 juta dolar AS.
Masuknya dana tersebut dipengaruhi oleh membaiknya defisit anggaran dan penerimaan pajak. Selain itu, spread yield obligasi pemerintah Indonesia dinilai masih lebar dibandingkan obligasi pemerintah negara lain.
Kondisi tersebut membuat pasar obligasi domestik tetap memiliki daya tarik bagi investor di tengah perubahan sentimen global.
Dolar AS Melemah, Rupiah Dapat Ruang Menguat
Penguatan rupiah juga terjadi ketika dolar AS berada di bawah tekanan.
Indeks dolar AS atau DXY yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia tercatat melemah 0,15 persen ke posisi 98,642 pada pukul 15.00 WIB.
DXY bahkan sempat turun ke level 98,630, menjadi posisi terendah dalam hampir tiga pekan.
Pelemahan dolar AS dipengaruhi oleh penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta penguatan yen Jepang.
Penurunan imbal hasil obligasi AS mengurangi daya tarik aset berdenominasi dolar. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.
Rupiah Pimpin Penguatan Mata Uang Asia
Rupiah juga menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terbaik di kawasan Asia pada perdagangan tersebut.
Selain rupiah, yen Jepang menguat 0,33 persen terhadap dolar AS. Won Korea naik 0,20 persen, peso Filipina 0,19 persen, dolar Taiwan 0,16 persen, dan baht Thailand 0,09 persen.
Dolar Singapura menguat 0,03 persen, sedangkan yuan China naik 0,02 persen.
Di sisi lain, rupee India melemah 0,25 persen terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia turun 0,18 persen dan dolar Hong Kong melemah 0,01 persen.
Kinerja rupiah yang lebih kuat dibandingkan mayoritas mata uang Asia terjadi ketika indeks dolar AS berada dalam tekanan selama tiga hari perdagangan terakhir.
Keyakinan Konsumen Indonesia Ikut Membaik
Sentimen domestik juga mendapat dukungan dari peningkatan keyakinan konsumen.
Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen atau IKK naik menjadi 118,5 pada Agustus 2026 dari 116,8 pada Juli.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebesar 117 dan menunjukkan konsumen Indonesia masih berada dalam zona optimistis.
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini atau IKE meningkat menjadi 109,4 dari 107,9. Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen atau IEK naik menjadi 127,6 dari sebelumnya 125,7.
Masyarakat juga meningkatkan porsi pendapatan untuk konsumsi. Rasio konsumsi terhadap pendapatan naik menjadi 74,2 persen pada Agustus dari 72,7 persen pada bulan sebelumnya.
Membaiknya keyakinan konsumen dinilai dapat menopang konsumsi rumah tangga serta prospek pertumbuhan ekonomi nasional. Kondisi tersebut turut memperkuat sentimen terhadap aset keuangan domestik dan mendukung pergerakan rupiah.
Meski rupiah mencetak penguatan tajam, pelaku pasar masih mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat pada Kamis, 10 September 2026.
Inflasi AS secara bulanan dan tahunan diperkirakan masing-masing berada di level 0,4 persen dan 0,2 persen. Sementara inflasi inti tahunan diproyeksikan sekitar 2,4 persen.
Rully mengatakan perkembangan inflasi tersebut dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.
“Dengan angka-angka inflasi tersebut di atas membuat tidak nyaman bagi The Fed, dan berakibat ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga minggu depan menjadi 60 persen lebih tinggi dari sebelumnya 35 persen,” ungkap Rully.
Pasar juga mengamati perkembangan harga minyak yang masih berada pada level tinggi. Minyak Brent kontrak November 2026 naik 2,74 persen menjadi 100,60 dolar AS per barel, sementara minyak WTI kontrak Oktober 2026 menguat 2,24 persen menjadi 95,11 dolar AS per barel.
Dengan penguatan selama lima hari perdagangan berturut-turut dan posisi kurs yang kembali ke level terkuat sejak pertengahan Mei 2026, pergerakan rupiah selanjutnya akan tetap dipengaruhi arus modal domestik, arah dolar AS, data inflasi Amerika Serikat, serta ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed dan Bank of Japan.


















