Headline.co.id, Jakarta ~ Pendidikan anak merupakan fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas di Indonesia. Namun, menciptakan lingkungan yang ramah anak menjadi tantangan tersendiri untuk mendukung tumbuh kembang mereka secara optimal. Hampir 30 persen dari populasi Indonesia adalah anak-anak, menjadikan mereka elemen strategis bagi masa depan bangsa. “Anak adalah investasi masa depan yang kelak akan memasuki usia produktif dan menjadi penopang keberlanjutan kehidupan masyarakat,” ujar Basilica Dyah Putranti, M.A., Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM, dalam podcast bertajuk “Anak Sebagai Penduduk Masa Depan: Kerentanan dan Ketangguhan” pada Jumat (24/7).
Basilica, yang akrab disapa Lica, mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini menghadapi tantangan perubahan struktur demografi. Jika sebelumnya Indonesia menghadapi ledakan penduduk, kini terjadi peningkatan jumlah penduduk lanjut usia dan penurunan angka kelahiran. “Nah kalau kita lihat trennya di Indonesia, tantangannya sekarang terkait perubahan demografi. Dulu kita menghadapi ledakan penduduk, sekarang jumlah penduduk usia lanjut semakin meningkat, dan malah jumlah penduduk usia muda atau angka kelahiran justru menurun,” jelasnya.
Menanggapi tantangan tersebut, Lica menekankan bahwa anak tidak seharusnya hanya dipandang sebagai angka dalam statistik, melainkan sebagai human capital yang potensinya harus dikembangkan. “Ia harus kita pandang sebagai seseorang yang punya keahlian, dan potensinya yang harus diasah untuk menjadi manfaat bagi keberlanjutan,” tuturnya.
Lica menilai kondisi anak perlu dilihat secara komprehensif, mencakup aspek kesehatan, psikososial, pendidikan, hingga dukungan sosial. Berdasarkan penelitian di Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), prevalensi stunting di kedua wilayah tersebut masing-masing mencapai 17,2 persen dan 17,4 persen. “Nggak jauh berbeda karena kita tahu bahwa kedua kota tersebut sudah memiliki layanan kesehatan yang cukup baik. Sama seperti angka kematian bayi, itu sudah jauh menurun,” ungkapnya.
Meskipun demikian, Lica mengingatkan bahwa masih ada tantangan dalam pemerataan akses layanan kesehatan di berbagai wilayah di Indonesia. “Masih ada kendala lain, misalnya jaminan kesehatan yang belum bisa dinikmati semua anak, terutama dalam hal ini anak-anak yang ada di daerah tertinggal,” tandasnya.
Dari aspek pendidikan, Lica menjelaskan bahwa angka partisipasi sekolah di Jakarta dan DIY tergolong tinggi. Namun, terdapat titik rawan pada kelompok usia sekolah menengah atas, yaitu 16–18 tahun, di mana angka partisipasi sekolah menurun hingga sekitar 88 persen. “Kalau kita lihat data secara keseluruhan di Indonesia, angka partisipasi sekolah itu 74 persen. Ini harus kita waspadai, karena justru saat anak-anak memasuki usia produktif, mereka malah tidak cukup mendapatkan ruang untuk mengembangkan dirinya melalui akses pendidikan,” imbaunya.
Kondisi ini, menurut Lica, perlu menjadi perhatian karena akses pendidikan pada jenjang tersebut berperan penting dalam mempersiapkan anak memasuki usia produktif. Rendahnya partisipasi sekolah berpotensi menghambat pengembangan kapasitas anak sebagai sumber daya manusia yang berkualitas di masa depan.
Di akhir perbincangan, Lica menekankan pentingnya membangun sistem sosial yang menerapkan prinsip inklusivitas terhadap anak. Inklusivitas tidak hanya berarti memenuhi kebutuhan anak, tetapi juga memberikan ruang bagi mereka untuk berpartisipasi, mengembangkan potensi, dan menyampaikan pandangannya dalam berbagai proses pengambilan keputusan. “Misalnya untuk mendesain kota ramah anak, ya sudah seharusnya anak-anak itu dilibatkan dalam forum, tidak kemudian hanya dijadikan sasaran saja,” ujarnya.
Lica mengaitkan hal tersebut dengan kampanye GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) yang menekankan pentingnya kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial. Ia menyarankan agar prinsip tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama oleh orang tua dan para pengambil kebijakan dengan memberi ruang untuk mendengarkan suara serta memahami kebutuhan anak. “Poin kita dalam memaknai inklusivitas adalah bagaimana kemudian kita dapat memperhatikan apa yang dipikirkan oleh anak-anak,” tutupnya.



















