Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan penguatan mutu pendidikan pesantren harus tetap mempertahankan kekhasan dan tradisi keilmuannya. Penegasan itu disampaikan dalam Forum Majelis Masyayikh Masa Khidmat 2026–2031 di Jakarta Pusat, Senin (2/11/2026). Menag mengingatkan, penerapan model pendidikan modern secara tidak tepat dapat menggerus kepribadian dan nilai yang menjadi fondasi pesantren. Karena itu, pengembangan pendidikan pesantren perlu dilakukan dengan merumuskan fondasi keilmuan secara sistematis tanpa menghilangkan tradisi yang telah menjadi cirinya.
“Jangan sampai nanti pondok pesantren itu dipaksa untuk ikut-ikutan dengan sistem pendidikan non pesantren, justru nanti itu akan menggerus kepribadian pesantrennya sendiri. Jadi penguatan mutu tetap jaga kekhasan dan tradisi pesantren,” tegas Menag.
Pendidikan pesantren memiliki fondasi berbeda
Nasaruddin menjelaskan pendidikan umum, pendidikan Islam, dan pendidikan pesantren memiliki perbedaan, termasuk dalam aspek ontologi dan epistemologi. Menurut dia, pendidikan umum cenderung menggunakan pendekatan rasional yang mengandalkan deduksi akal serta terikat dengan sistem pendidikan modern.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Perbedaan tersebut, kata Menag, perlu menjadi perhatian ketika pesantren mengembangkan mutu pendidikannya. Pesantren tidak dapat hanya meniru sistem pendidikan nonpesantren tanpa mempertimbangkan nilai dan tradisi keilmuan yang menjadi identitasnya.
Menag mencontohkan pendekatan accelerated learning yang berorientasi pada percepatan target pendidikan. Ia mengingatkan agar pendekatan tersebut tidak diterapkan begitu saja dalam pendidikan pesantren, terutama bila pelaksanaannya menghilangkan unsur pembelajaran yang dianggap tidak relevan dengan target.
“Hemat saya harus hati-hati dengan istilah ini, karena kalau accelerated learning semua hal yang tidak dianggap relevan digunting, jangan dimasukkan sebagai bagian struktur pendidikan kita,” ujarnya.
Menurut Menag, pendidikan yang terlalu berorientasi pada kecepatan berisiko membuat pesantren kehilangan prinsip penting dalam tradisi pendidikannya. Salah satu yang ia contohkan adalah keberadaan ilmu-ilmu fardu ain dan fardu kifayah yang menjadi bagian dari pembelajaran di pesantren.
Majelis Masyayikh didorong rumuskan fondasi
Dalam forum tersebut, Menag mendorong Majelis Masyayikh ikut merumuskan fondasi pendidikan pesantren secara lebih terpola. Rumusan itu mencakup aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi, sekaligus memperjelas referensi kitab turats yang menjadi bagian dari tradisi keilmuan pesantren.
“Jadi saya mohon, mari kita membantu teman-teman pimpinan pondok kita, mencoba untuk merumuskan secara terpola, ontologinya pesantren apa, epistemologinya apa, dan aksiologinya apa,” kata Menag.
Ia menilai perumusan tersebut penting untuk memperjelas perbedaan pendidikan pesantren dengan pendidikan umum maupun pendidikan Islam. Dengan fondasi yang jelas, pengembangan pendidikan pesantren tidak hanya berfokus pada aspek kelembagaan, tetapi juga dapat menjaga kedalaman tradisi keilmuannya.
Dorongan itu sekaligus diarahkan kepada pimpinan pondok pesantren agar penguatan mutu tidak berhenti pada penyesuaian terhadap sistem pendidikan modern. Menurut Menag, pengembangan pesantren harus tetap berpijak pada nilai, tradisi, dan struktur keilmuan yang membentuk kekhasannya.
Pesantren sebagai ruang pertemuan rasionalitas dan spiritualitas
Menag menggambarkan pesantren sebagai ruang pertemuan epistemologi Barat yang mengandalkan rasionalitas dan epistemologi Timur yang mengandalkan spiritualitas. Ia mengaitkan gagasan tersebut dengan konsep Majma’ al-Bahrain, yakni pertemuan dua lautan.
Dalam pandangannya, pesantren diharapkan mampu melahirkan sosok yang tidak hanya mengandalkan kemampuan berpikir rasional, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual. Karena itu, tradisi keilmuan pesantren perlu terus dirawat dan dikembangkan seiring upaya menjawab tantangan zaman.
“Tantangan kita ke depan, bagaimana melalui posisi kita sekarang ini, kita kembalikan posisi divine knowledge, dan itu diwariskan lagi kepada generasi kita akan datang,” ujarnya.
Melalui arahan tersebut, Menag mengajak Majelis Masyayikh memikirkan dan merumuskan kembali fondasi pendidikan pesantren. Langkah itu diharapkan membuat pesantren mampu memperkuat mutu pendidikan tanpa kehilangan nilai, tradisi, dan kedalaman spiritual yang menjadi kekhasannya.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















