Headline.co.id, Jakarta ~ KONI Pusat mendorong diplomasi olahraga sebagai strategi untuk memperkuat hubungan antarnegara sekaligus memperjuangkan pencak silat masuk dalam Olimpiade Los Angeles 2028. Upaya tersebut disampaikan Wakil VI Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat Josef Adreanus Nae Soi dalam diskusi “Global Sport Governance: Peran KONI Pusat dalam Diplomasi” bersama mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Universitas Jayabaya, Jakarta. Dalam diskusi itu, Josef menjelaskan peran KONI dalam membangun kerja sama olahraga bilateral melalui pertukaran atlet, pelatih, pengetahuan, serta budaya. Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan pers yang diterima pada Jumat (30/10/2026).
Josef mengatakan olahraga tidak hanya berfungsi sebagai arena kompetisi dan perebutan medali. Menurut dia, olahraga juga dapat digunakan sebagai sarana diplomasi untuk memperluas kerja sama, memperkuat komunikasi, dan memperkenalkan budaya Indonesia di tingkat internasional.
Diplomasi olahraga, lanjut Josef, merupakan bagian dari hubungan internasional karena melibatkan negosiasi, kerja sama kelembagaan, serta pertukaran pengetahuan dan budaya antarnegara.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Inti dari hubungan internasional adalah negosiasi, ini yang bicara praktisi,” ujar Josef.
Peran KONI dalam Diplomasi Olahraga
Josef menerangkan, Global Sport Governance merupakan sistem aturan, norma, dan kelembagaan yang mengatur penyelenggaraan olahraga lintas negara. Sistem tersebut melibatkan pemerintah, organisasi olahraga internasional, dan lembaga multilateral yang turut memengaruhi kebijakan olahraga dunia.
Dalam konteks itu, KONI Pusat menjalankan diplomasi olahraga bilateral melalui kerja sama dengan sejumlah negara. Kerja sama tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan prestasi atlet, tetapi juga membangun hubungan dan persahabatan antarbangsa.
“Peran KONI adalah bilateral Sport Diplomacy,” katanya.
Salah satu contoh kerja sama dilakukan KONI Pusat dengan Korea Selatan melalui nota kesepahaman pada 2018. Kerja sama itu mencakup pertukaran atlet dan pelatih serta latihan bersama.
KONI Pusat juga bekerja sama dengan Brunei Darussalam melalui pengiriman pelatih polo Indonesia. Sementara dengan Timor-Leste, kerja sama dilakukan melalui program pembelajaran olahraga petanque di Nusa Tenggara Barat.
Pertukaran tersebut memberikan kesempatan bagi atlet dan pelatih untuk meningkatkan kompetensi, bertukar pengalaman, dan mempelajari metode pembinaan olahraga dari negara lain.
Pencak Silat Didorong Masuk Olimpiade Los Angeles 2028
Dalam diskusi tersebut, Josef menyoroti upaya KONI Pusat bersama Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (PB IPSI) untuk mendorong pencak silat memperoleh tempat di Olimpiade Los Angeles 2028.
Ia menilai pencak silat memiliki potensi sebagai instrumen diplomasi budaya karena merupakan seni bela diri yang tumbuh dari tradisi Indonesia. Karena itu, pengenalan pencak silat di berbagai negara dinilai penting untuk memperluas penerimaan dan partisipasi internasional.
Sejumlah strategi yang dibahas mencakup peningkatan kualitas pelatih melalui sertifikasi internasional, kerja sama dengan perguruan tinggi di berbagai negara, serta sosialisasi dan demonstrasi pencak silat di tingkat global.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem pencak silat di luar negeri sekaligus memperkenalkan nilai-nilai budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.
Upaya membawa pencak silat ke Olimpiade juga membutuhkan dukungan dan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan olahraga internasional. Pengenalan cabang olahraga itu di berbagai negara menjadi bagian penting untuk memperluas basis penggemar dan partisipasinya.
Mahasiswa Susun Strategi Diplomasi Olahraga
Diskusi bersama mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Universitas Jayabaya itu juga membahas olahraga dari perspektif diplomasi dan kebijakan internasional. Para mahasiswa diarahkan menyusun policy brief berjudul “Strategi KONI agar Pencak Silat Masuk Olimpiade Los Angeles 2028: Perspektif Diplomasi HI”.
Melalui tugas tersebut, mahasiswa diajak menganalisis tantangan pengembangan olahraga Indonesia di tingkat global, memahami peran organisasi olahraga internasional, serta merumuskan rekomendasi kebijakan dengan pendekatan hubungan internasional.
Rombongan KONI Pusat dalam kegiatan tersebut turut didampingi Kepala Bidang Luar Negeri Gudadi Bambang Sasongko, Kepala Bidang Sport Intelligence Eman Sungkowo, Kepala Bidang Media dan Humas Tirto Prima Putra, Staf Ahli Hamka Handaru, Wakil Kepala Bidang Media dan Humas Martinez dos Santos, serta Wakil Kepala Bidang Sport Intelligence Syarif Hidayat.
Sementara itu, rombongan Universitas Jayabaya dipimpin Ketua Program Studi Hubungan Internasional Laila Indriyanti Fitria bersama dosen Nina Widyaswasti Aisha.
Pengalaman Sanksi FIFA Jadi Pelajaran
Josef juga menjadikan pengalaman Indonesia menghadapi sanksi FIFA pada 2015–2016 sebagai contoh pentingnya tata kelola dan koordinasi dalam olahraga internasional.
Kasus tersebut bermula dari pembekuan PSSI oleh pemerintah yang kemudian diikuti sanksi FIFA. Akibatnya, partisipasi Indonesia dalam sejumlah kegiatan sepak bola internasional dibatasi. Sanksi itu dicabut pada Mei 2016 setelah Indonesia memenuhi persyaratan yang ditetapkan FIFA.
Menurut Josef, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kebijakan olahraga nasional tidak dapat dipisahkan dari aturan dan hubungan kelembagaan di tingkat internasional. Koordinasi pemerintah, organisasi olahraga nasional, dan federasi internasional diperlukan untuk menjaga keberlanjutan partisipasi Indonesia dalam kompetisi dunia.
Melalui diplomasi bilateral, kerja sama multilateral, dan pengenalan budaya, olahraga dapat menjadi jembatan bagi Indonesia untuk memperkuat hubungan antarbangsa. Upaya itu juga membuka peluang peningkatan kualitas pembinaan dan prestasi olahraga nasional serta memperkenalkan identitas budaya Indonesia kepada masyarakat dunia.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















