Headline.co.id, Jakarta ~ Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama meluncurkan lima pelatihan pesantren dalam rangka Hari Santri 2026. Seluruh pelatihan tersedia secara daring melalui platform Massive Open Online Course (MOOC) Pintar. Program tersebut ditujukan bagi santri dan pengelola pesantren di berbagai daerah untuk meningkatkan kompetensi digital serta kemampuan tata kelola pesantren. Pelatihan mencakup bidang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), pembuatan konten, administrasi pendidikan, pelaksanaan ujian, hingga akuntabilitas bantuan operasional sekolah.
Peluncuran lima pelatihan pesantren itu menjadi bagian dari upaya memperkuat keterampilan santri sekaligus meningkatkan kapasitas pengelola pesantren. Karena diselenggarakan secara online, peserta tidak perlu datang ke lokasi tertentu untuk mengikuti pelatihan.
Kepala BMBPSDM Kemenag RI Muhammad Ali Ramdhani mengatakan, penguasaan teknologi perlu berjalan beriringan dengan penguatan nilai-nilai keagamaan. Menurut dia, santri tidak hanya dituntut memiliki karakter keagamaan yang kuat, tetapi juga mampu mengaktualisasikan ilmu yang dimiliki untuk masyarakat.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Hari ini mandat yang diberikan negara kepada santri semakin berat karena pada satu dimensi harus memperkokoh fondasinya sebagai orang yang berkarakter memiliki keagamaan yang baik, tetapi pada dimensi lain harus mengaktualisasikan ilmunya pada masyarakat,” ujar Muhammad Ali Ramdhani di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Lima pelatihan pesantren di MOOC Pintar
Lima pelatihan yang disediakan melalui MOOC Pintar memiliki fokus yang berbeda. Pelatihan pertama adalah Santri Mahir Artificial Intelligence (AI), yang berkaitan dengan pemahaman dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan.
Pelatihan kedua, Santri Menjadi Content Creator, diarahkan untuk mengembangkan kemampuan santri dalam membuat konten. Dua pelatihan ini menitikberatkan pada peningkatan kompetensi digital santri di tengah perkembangan teknologi.
Tiga pelatihan lainnya berkaitan dengan administrasi dan tata kelola pesantren. Program tersebut meliputi Manajemen Data E-Ijazah Pendidikan Kesetaraan pada Pondok Pesantren Salafiyah (PKPPS), Sosialisasi Penyelenggaraan UAN PKPPS, serta Pengelolaan Akuntabilitas Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Pesantren.
Dengan cakupan tersebut, pelatihan tidak hanya membahas keterampilan teknologi. Materinya juga mencakup pengelolaan data ijazah, penyelenggaraan ujian, dan akuntabilitas pengelolaan bantuan operasional sekolah di lingkungan pesantren.
AI tidak menggantikan peran guru
Muhammad Ali Ramdhani mengingatkan agar pemanfaatan AI dalam pembelajaran agama tetap dilakukan dengan bimbingan guru. Ia menyebut AI dapat membantu pencarian informasi, tetapi tidak menggantikan peran kiai dan ustaz, khususnya ketika santri mempelajari persoalan keagamaan yang sensitif.
Menurut dia, penggunaan teknologi dalam lingkungan pesantren perlu tetap diarahkan oleh nilai-nilai keagamaan. Pemanfaatan AI harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti proses belajar bersama guru.
“Oleh karenanya, saya berharap AI kita warnai. Dan hari ini saya ingin mengingatkan, AI bisa membantu pada ruang-ruang normatif, tetapi untuk belajar hal-hal yang sensitif seperti hukum, fikih, wajib hukumnya memiliki guru,” katanya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penguatan kompetensi digital melalui pelatihan pesantren perlu disertai pendampingan dalam memahami materi keagamaan. Teknologi dapat digunakan untuk mendukung proses pencarian informasi, sedangkan pemahaman terhadap hukum dan fikih tetap memerlukan bimbingan guru.
Perkuat tata kelola pesantren
Selain meningkatkan kemampuan digital santri, lima pelatihan di MOOC Pintar dirancang untuk memperkuat tata kelola pesantren. Pengelolaan data E-Ijazah PKPPS, sosialisasi penyelenggaraan UAN PKPPS, dan akuntabilitas BOS Pesantren menjadi bagian dari materi yang berkaitan langsung dengan administrasi serta pengelolaan lembaga.
Format daring membuat pelatihan tersebut dapat menjangkau santri dan pengelola pesantren dari berbagai daerah di Indonesia. Peserta dapat mengikuti program tanpa harus hadir di tempat pelatihan tertentu.
Melalui kerja sama BMBPSDM dan Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama, program tersebut menggabungkan penguatan keterampilan digital dengan peningkatan kapasitas administrasi pesantren. Lima pelatihan itu juga menempatkan pemanfaatan teknologi dan pengelolaan pesantren sebagai bagian dari pengembangan kompetensi santri pada Hari Santri 2026.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















