Headline.co.id, Jakarta ~ Dalam rangka memperingati Hari Malaria Sedunia 2026, Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, mengingatkan pentingnya upaya melawan malaria di Indonesia. Acara yang berlangsung di Jakarta pada Selasa (28/7/2026) ini menyoroti bahwa meskipun Indonesia menargetkan bebas malaria pada 2030, penyakit ini masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat di daerah endemis.
Wamenkes Dante mengungkapkan bahwa secara global, pada tahun 2024, tercatat sekitar 282 juta kasus malaria dengan 610 ribu kematian. Di Indonesia sendiri, sepanjang tahun 2025, terdapat sekitar 700 ribu kasus malaria dengan 120 kematian, yang berarti rata-rata satu kematian terjadi setiap tiga hari.
Malaria telah menjadi musuh lama bagi Indonesia, bahkan sejak zaman kolonial Belanda (1928–1938), ketika penyakit ini menjadi wabah terbesar di Hindia Belanda, khususnya di Batavia. Presiden pertama RI, Soekarno, juga pernah beberapa kali mengidap malaria, termasuk sebelum pembacaan naskah Proklamasi pada 17 Agustus 1945. Pada 12 November 1959, Soekarno meresmikan penyemprotan massal Dichloro Diphenyl Trichloroethane (DDT) di Desa Kalasan, DI Yogyakarta, yang kini diperingati sebagai Hari Kesehatan Nasional.
Hingga Juli 2026, Indonesia mencatat kemajuan signifikan dengan 414 kabupaten/kota atau 94,1 persen dari target telah mencapai status eliminasi malaria. Pada peringatan tahun ini, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sumatra Selatan, bersama tujuh kabupaten lainnya, menerima sertifikat eliminasi malaria. Keberhasilan ini dicapai melalui strategi TOKEN: Temukan, Obati, dan Kendalikan. Strategi ini melibatkan kader dan tenaga kesehatan untuk memeriksa warga, memastikan pasien positif meminum obat hingga tuntas, dan mengendalikan vektor dengan tidur menggunakan kelambu serta menghilangkan genangan air.
Namun, tantangan masih ada di wilayah timur Indonesia, terutama Papua yang menyumbang 95 persen dari total kasus malaria nasional. Papua, Nusa Tenggara Timur, dan beberapa wilayah di Maluku tetap menjadi prioritas utama. Tantangan geografis di daerah pelosok menuntut kerja keras dari tenaga kesehatan dan kader yang terus melakukan pengawasan dan pelayanan pengobatan dasar.
Peran tenaga ahli teknologi laboratorium medik juga sangat penting dalam upaya ini. Kecepatan dan ketepatan diagnosis menjadi garis depan pertahanan. Tahun ini, Leni Apriana dari Puskesmas Segala Mider, Kota Bandar Lampung, berhasil meraih juara pertama dalam Kejuaraan Nasional Mikroskopis Malaria, yang menjadi simbol dedikasi ribuan tenaga medis dalam mendeteksi parasit malaria sejak dini.
Dengan tema yang diusung tahun ini, Indonesia berada pada jalur yang optimis namun tetap waspada. Ketegasan para kepala daerah dalam menjaga wilayah yang sudah bebas dari malaria menjadi jaminan agar tidak terjadi re-importasi. Wamenkes menutup dengan pesan agar Indonesia terus bergerak dan bersinergi untuk terbebas dari malaria.















