Headline.co.id, Jakarta ~ Istilah Londo Ireng yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto memicu perdebatan baru setelah narasi mengenai Benjamin Thomas Sigar, leluhur Prabowo dari garis keluarga ibunya, kembali beredar di media sosial. Polemik tersebut menguat pada Sabtu (25/7/2026), dua hari setelah Prabowo menggunakan istilah itu dalam puncak Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa di Jakarta Convention Center, Jakarta.
Sejumlah narasi di media sosial mengaitkan istilah Londo Ireng dengan riwayat Benjamin Thomas Sigar yang disebut pernah memimpin pasukan bantuan pribumi dalam struktur pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Analis Sosio Politik Faizal menilai kemunculan kembali informasi tersebut menarik untuk dicermati, sementara pihak Prabowo hingga kini belum memberikan tanggapan mengenai narasi sejarah keluarganya itu.
“Informasi yang menarik. Apakah sebuah kebetulan?” kata Faizal, dikutip dari unggahannya di platform X, Sabtu (25/7/2026).
Faizal kemudian menghubungkan perdebatan tersebut dengan konsep proyeksi psikologis. Menurut dia, seseorang yang melontarkan tuduhan tanpa dasar terkadang dapat memproyeksikan kondisi atau pengalaman dirinya sendiri kepada pihak lain.
“Biasanya orang yang suka menuduh tanpa dasar itu proyeksi psikologis dirinya sendiri kata Sigmund Freud,” ujar Faizal.
Narasi Benjamin Thomas Sigar Kembali Beredar
Benjamin Thomas Sigar disebut berasal dari garis keturunan Dora Marie Sigar, ibu Prabowo Subianto. Namanya kembali menjadi perhatian setelah pernyataan Prabowo mengenai Londo Ireng ramai diperbincangkan di ruang publik.
Berdasarkan narasi sejarah yang beredar, Benjamin pernah menduduki posisi sebagai Kapiten Langowan. Ia juga disebut memimpin Pasukan Tulungan, yakni pasukan bantuan yang anggotanya berasal dari masyarakat pribumi dan berada dalam struktur militer kolonial Hindia Belanda.
Pasukan tersebut dikaitkan dengan Perang Jawa yang berlangsung pada 1825 hingga 1830. Dalam sejumlah catatan lokal yang menjadi rujukan narasi itu, Benjamin disebut terlibat dalam pengiriman pasukan dari Minahasa ke Jawa pada 1829 untuk membantu pemerintah kolonial menghadapi perlawanan rakyat Jawa.
Narasi yang beredar juga menghubungkan pasukan tersebut dengan operasi terhadap pasukan Pangeran Diponegoro. Namun, informasi mengenai peran langsung Benjamin dalam penangkapan Pangeran Diponegoro masih muncul dalam bentuk catatan sejarah lokal dan klaim yang dikutip kembali oleh sejumlah pihak. Karena itu, informasi tersebut perlu ditempatkan sebagai narasi sejarah yang membutuhkan verifikasi melalui sumber primer.
Selain Benjamin, nama Frederik Laurens Sigar yang disebut sebagai kakek Prabowo dari garis ibu turut menjadi pembicaraan. Dalam bahan yang beredar, Frederik disebut pernah menjabat sebagai anggota Gemeenteraad Manado pada 1920 sampai 1922 dan Sekretaris Residen Manado pada 1922 hingga 1924.
Perhatian publik terhadap Benjamin juga dipicu oleh beredarnya kembali unggahan lama Prabowo pada 22 Desember 2012. Dalam unggahan itu, Prabowo menyertakan foto masa mudanya bersama kedua orang tuanya ketika melayat ke makam Benjamin Thomas Sigar.
“Waktu itu usia saya 17 tahun. Saya ikut melayat ke makam Opa Benyamin Thomas Sigar bersama Alm. Ayah dan Alm Bunda,” tulis Prabowo dalam unggahan tersebut.
Prabowo Singgung Londo Ireng dalam Harlah PKB
Polemik bermula dari pidato Prabowo dalam puncak Harlah ke-28 PKB di Jakarta Convention Center pada Kamis (23/7/2026). Dalam pidatonya, Prabowo semula membahas program perbaikan sekolah yang dijalankan pemerintah.
Prabowo mengatakan telah menginstruksikan agar jumlah sekolah yang diperbaiki pada 2027 mencapai lebih dari 100.000 unit. Program tersebut menyasar sekolah-sekolah yang menurutnya sudah bertahun-tahun tidak mendapatkan perbaikan.
“Tahun 2027, saya instruksikan harus lebih 100.000 sekolah yang sekian belas tahun tidak disentuh,” kata Prabowo.
Menurut Prabowo, pemerintah telah memperbaiki puluhan ribu sekolah. Namun, dia menilai masih terdapat media yang lebih memilih memberitakan sekolah yang belum tersentuh perbaikan daripada mengangkat hasil program pemerintah secara keseluruhan.
“Ada juga media yang walaupun kita sudah perbaiki 67.000 sekolah, dia cari sekolah yang belum diperbaiki. Dia foto besar, taruh di halaman pertama,” ujarnya.
Prabowo tidak mengungkapkan nama media yang dimaksud. Dia hanya mengatakan akan menyebutkannya pada waktu yang dianggap tepat.
“Aduh. Dia kira kita enggak ngerti. Saya enggak sebutlah media mana itu, pada saatnya akan saya sebut,” kata Prabowo.
Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara demokrasi dan pemerintah tidak menolak kritik. Namun, dia meminta kritik disampaikan secara bertanggung jawab dan tidak digunakan untuk menggoyahkan kepercayaan masyarakat.
“Kalian sudah tahu kita negara demokrasi, kita tidak anti kritik, tapi kita bukan anak kecil,” ujarnya.
Istilah Londo Ireng Dikaitkan dengan Jurnalis dan LSM
Prabowo kemudian menggunakan istilah Londo Ireng untuk menyebut pihak-pihak yang menurutnya lebih memilih mengabdi kepada kepentingan bangsa lain daripada kepentingan Indonesia.
“Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng, ya,” ungkap Prabowo.
Prabowo menjelaskan, istilah tersebut pada masa lalu merujuk pada orang-orang yang membantu pemerintah kolonial Belanda melawan bangsanya sendiri. Menurut dia, kelompok semacam itu masih ada, tetapi muncul dalam bentuk dan profesi yang berbeda.
“Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada, hanya dia sekarang pakai baju lain, kan, wartawan, jurnalis, apa itu pengamat, apa itu LSM,” kata Prabowo.
Dia juga mempertanyakan sumber pembiayaan sejumlah jurnalis, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat yang dinilainya terus menyampaikan narasi negatif mengenai kondisi Indonesia.
“Yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa? Cari pekerjaan susah. Kita tahu, kan,” ujarnya.
Prabowo menilai terdapat kampanye besar yang berulang kali menggambarkan Indonesia akan mengalami keruntuhan. Menurut dia, prediksi mengenai Indonesia kolaps terus disampaikan setiap bulan, tetapi tidak terbukti.
“Jadi saudara-saudara, kita paham ada kampanye besar untuk kita goyah. Indonesia kolaps. Bulan April lewat enggak kolaps, Mei lewat enggak kolaps, bulan Juli akan kolaps. Tiap bulan akan kolaps,” ucap Prabowo.
Pernyataan tersebut kemudian memicu perdebatan, terutama karena istilah Londo Ireng diarahkan kepada profesi jurnalis, pengamat, dan LSM. Di tengah polemik itu, narasi mengenai Benjamin Thomas Sigar kembali diangkat untuk mempertanyakan konsistensi penggunaan istilah tersebut.
Meski demikian, keterkaitan antara riwayat Benjamin dan istilah Londo Ireng masih berupa interpretasi serta narasi yang berkembang di media sosial. Hingga artikel ini disusun, belum terdapat tanggapan dari Prabowo maupun pihak terkait mengenai tudingan yang menghubungkan sejarah leluhurnya dengan istilah tersebut.




















