Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Kesehatan RI menemukan konsentrasi partikulat PM2,5 di atas batas normal di sekitar Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Keadaan ini berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan peningkatan risiko kesehatan. Pada Rabu lalu, Wakil Menteri Kesehatan, Prof. Dante Saksono Harbuwono, memantau kualitas udara di lokasi tersebut.
Hasil pengukuran menunjukkan konsentrasi PM2,5 mencapai 63 µg/m³, lebih tinggi dari batas aman 25 µg/m³. Meski penerbangan telah beroperasi normal berdasarkan tes keselamatan, kualitas udara tetap memerlukan perhatian. Pemantauan menggunakan particulate counter menjadi elemen kunci untuk mendeteksi partikulat yang tidak terlihat.
**Dampak pada Kesehatan Masyarakat**
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Konsentrasi PM2,5 yang tinggi di Bandara Soekarno-Hatta turut berdampak pada kesehatan masyarakat di area terdampak abu vulkanik. Berdasarkan catatan Kemenkes, telah terjadi 16.759 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di 25 daerah. Peningkatan ini signifikan dibanding tahun lalu, dengan kelompok usia anak-anak dan dewasa paling terpengaruh.
Prof. Dante menekankan pentingnya alat proteksi diri seperti masker untuk mengurangi paparan. “Penggunaan masker perlu dilanjutkan, terutama bagi mereka yang beraktivitas di luar,” jelasnya, mengingat tingginya konsentrasi partikulat PM2,5.
**Pemantauan dan Tindakan Lebih Lanjut**
Kemenkes, bekerja sama dengan Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan, terus memantau kualitas udara dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Langkah ini merupakan bagian dari upaya perlindungan kesehatan di tengah paparan abu vulkanik.
“Masyarakat, terutama kelompok rentan, dianjurkan untuk mengurangi kegiatan di luar ruangan hingga kualitas udara kembali normal. Kami juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan medis jika muncul gejala pernapasan,” tambah Prof. Dante.
**Imbauan kepada Masyarakat**
Masyarakat diminta merespons situasi dengan tetap di rumah jika memungkinkan atau memakai masker saat ke luar. Prof. Dante mengingatkan pentingnya tindakan pencegahan sebagai tanggung jawab bersama untuk mengatasi dampak polusi udara akibat erupsi Anak Krakatau.


















