Headline.co.id, Jakarta ~ Cadangan BBM nasional dipastikan aman, dengan ketahanan pasokan Pertalite mencapai 16 hingga 18 hari dan jenis BBM lainnya di atas 20 hari. Kepastian itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, setelah memimpin rapat koordinasi penanganan pasokan dan distribusi BBM nasional di Fuel Terminal Sanggaran, Denpasar, Bali, Senin (19/10/2026).
Pemerintah kini memprioritaskan perbaikan distribusi BBM ke sejumlah wilayah di Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera untuk mencegah kelangkaan di masyarakat. Langkah tersebut dilakukan karena kendala cuaca dan pendangkalan sungai menghambat kapal pengangkut berukuran besar masuk ke sejumlah wilayah, sehingga pengiriman harus dialihkan melalui jalur darat.
Bahlil menegaskan masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan kondisi cadangan BBM nasional. Menurut dia, tingkat ketahanan pasokan telah memenuhi standar minimum nasional.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“ Saya katakan bahwa cadangan nasional kita di atas 16-18 hari. Sekarang distribusinya yang kita perlancar,” ujar Bahlil.
Pemerintah, kata Bahlil, berfokus memastikan alur logistik BBM dapat berjalan lebih lancar ke seluruh daerah. Dengan demikian, ketersediaan BBM di tingkat nasional dapat disalurkan sesuai kebutuhan wilayah.
Berdasarkan pemenuhan komoditas, kebutuhan solar saat ini sepenuhnya dipenuhi dari dalam negeri tanpa impor. Sementara itu, kebutuhan Pertalite atau BBM dengan RON 90 masih sebagian dipenuhi melalui impor.
Pasokan BBM Bali Kembali Pulih
Keterlambatan pasokan yang sempat terjadi di Bali menjadi bahan evaluasi pemerintah dan PT Pertamina (Persero). Kondisi tersebut dipicu keterlambatan armada kapal dari Pulau Jawa yang menyebabkan cadangan BBM di Bali turun hingga hanya tiga sampai empat hari.
Pemerintah kemudian menambah armada kapal pengangkut untuk memulihkan pasokan di wilayah tersebut. Setelah penambahan armada dilakukan, cadangan BBM di Bali kembali meningkat menjadi 11 hingga 12 hari.
Pemulihan pasokan itu juga berdampak pada kondisi di lapangan. Antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) mulai terurai setelah distribusi kembali berjalan.
Masalah pasokan di Bali menjadi salah satu perhatian dalam rapat koordinasi yang dipimpin Bahlil di Fuel Terminal Sanggaran. Pemerintah mengevaluasi keterlambatan tersebut agar gangguan serupa tidak kembali menghambat ketersediaan BBM bagi masyarakat.
Kendala Distribusi di Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera
Selain Bali, pemerintah mengidentifikasi kendala distribusi di Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera. Cuaca menyebabkan pendangkalan sungai di sejumlah wilayah, sehingga kapal pengangkut berukuran besar tidak dapat masuk.
Akibatnya, pengiriman BBM harus dialihkan melalui jalur darat. Namun, jalur tersebut membutuhkan waktu tempuh lebih lama dibandingkan pengiriman menggunakan kapal berukuran besar.
Perubahan jalur distribusi tersebut menjadi alasan pemerintah meminta Pertamina memperkuat armada pengangkut, baik melalui jalur darat maupun laut. Penambahan armada diharapkan dapat mempercepat pengiriman dan menjaga ketersediaan BBM di daerah yang mengalami kendala akses.
Pemerintah Minta Distribusi Dipercepat
Pemerintah memastikan upaya perbaikan distribusi terus dilakukan untuk mengantisipasi dampak kendala cuaca dan kondisi jalur pengiriman. Fokusnya bukan pada pemulihan cadangan nasional, yang dinyatakan aman, melainkan pada kelancaran penyaluran BBM ke wilayah yang menghadapi hambatan logistik.
Bahlil menyatakan pemerintah akan memaksimalkan langkah penanganan agar gangguan pasokan tidak kembali terjadi.
“Kita akan melakukan maksimal agar hal-hal yang tidak diinginkan itu tidak terjadi lagi,” kata Bahlil Lahadalia.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















