Headline.co.id, Jakarta ~ Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dinilai memiliki peluang investasi jangka panjang setelah mengalami tekanan harga akibat kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali, memperkirakan potensi imbal hasil dividen atau dividend yield BMRI dapat mencapai 16 persen hingga 19 persen apabila harga saham kembali mengalami koreksi. Penilaian tersebut disampaikan Jason di Jakarta, Senin (19/10/2026), menyusul gejolak pasar saham Indonesia yang dipengaruhi sentimen negatif terhadap klasifikasi pasar oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Meski menawarkan potensi keuntungan dari dividen, investor disarankan melakukan pembelian secara bertahap untuk mengantisipasi risiko penurunan harga lebih lanjut.
Peluang dividend yield BMRI yang meningkat muncul ketika harga saham perbankan berkapitalisasi besar mengalami tekanan jual. Penurunan harga saham membuat persentase imbal hasil dividen berpotensi meningkat, terutama apabila perusahaan mampu mempertahankan besaran dividen yang dibagikan kepada pemegang saham.
Menurut Jason, fundamental BMRI tidak serta-merta mengalami perubahan hanya karena harga saham mengalami penurunan tajam dalam waktu singkat. Ia menilai pergerakan pasar saat ini lebih banyak dipengaruhi perubahan sentimen investor dibandingkan penurunan kinerja fundamental perusahaan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Fundamental bank juga tidak berubah dalam semalam, karena yang bergerak liar adalah sentimen, bukan kinerja,” ungkap Jason di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Analis Perkirakan Dividend Yield BMRI Bisa Mencapai 19 Persen
Jason memperkirakan potensi dividend yield saham Bank Mandiri berada di kisaran 16 persen berdasarkan kondisi harga saham yang telah terkoreksi.
Persentase tersebut bahkan berpotensi meningkat menjadi sekitar 19 persen apabila harga BMRI kembali turun hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB), yakni batas maksimal penurunan harga saham dalam satu hari perdagangan sesuai ketentuan bursa.
Dividend yield merupakan rasio antara dividen per saham dan harga pembelian saham. Ketika harga saham turun, persentase imbal hasil dividen dapat meningkat apabila nilai dividen yang dibagikan tetap sama.
Kondisi tersebut membuat saham perusahaan yang rutin membagikan dividen menjadi perhatian investor jangka panjang, terutama saat pasar mengalami koreksi besar.
Namun, estimasi dividend yield hingga 19 persen bukan merupakan kepastian keuntungan bagi investor. Besarnya dividen pada masa mendatang tetap bergantung pada kinerja keuangan, kebijakan pembagian laba, serta keputusan perusahaan.
Selain itu, investor tetap menghadapi risiko kerugian apabila harga saham turun lebih dalam setelah pembelian dilakukan.
Dividen BMRI Berpotensi Kembalikan Modal Investasi?
Salah satu daya tarik yang disoroti analis adalah kemungkinan investor memperoleh kembali nilai investasi awal melalui akumulasi dividen tanpa harus menjual saham yang dimiliki.
Dalam simulasi dengan asumsi dividen per saham tetap stabil, imbal hasil mendekati 19 persen per tahun secara teoretis memungkinkan akumulasi dividen mendekati nilai modal pembelian dalam waktu sekitar lima tahun.
Sebagai ilustrasi, dividend yield sebesar 19 persen setiap tahun akan menghasilkan akumulasi dividen setara 95 persen dari modal awal selama lima tahun, sebelum memperhitungkan pajak dan biaya terkait.
Apabila imbal hasil tersebut konsisten, investor tetap memiliki sahamnya meskipun telah menerima pembayaran dividen secara berkala.
Namun, simulasi tersebut bergantung pada sejumlah asumsi, termasuk keberlanjutan pembayaran dividen dan besaran dividen per saham yang tidak mengalami penurunan.
Dengan demikian, potensi pengembalian modal melalui dividen tidak dapat dipastikan karena pembagian dividen setiap tahun dapat berubah.
Analis Ingatkan Risiko Membeli Saham BMRI Sekaligus
Di balik peluang peningkatan imbal hasil dividen, Jason mengingatkan investor agar tetap memperhitungkan risiko volatilitas pasar.
Ia tidak menyarankan pembelian saham BMRI dalam jumlah besar sekaligus ketika arah pergerakan pasar masih belum stabil.
“Kami tidak menyarankan masuk sekaligus,” tegas Jason.
Menurut pandangan Pluang Maju Sekuritas, strategi pembelian bertahap dengan pengaturan porsi investasi lebih tepat diterapkan dalam menghadapi ketidakpastian pasar.
Strategi tersebut memungkinkan investor membagi dana pembelian ke dalam beberapa transaksi, sehingga tidak seluruh modal ditempatkan pada satu tingkat harga.
Pembelian bertahap juga menjadi alternatif dibandingkan berupaya memperkirakan titik terendah harga saham yang sulit dipastikan ketika volatilitas masih tinggi.
Meski demikian, pembelian secara bertahap tidak menghilangkan risiko kerugian apabila harga saham terus mengalami penurunan.
Pluang Maju Sekuritas tetap mempertahankan pandangan positif terhadap BMRI sebagai salah satu saham dividen untuk investasi jangka panjang, dengan tetap memperhatikan pengelolaan risiko.
IHSG Anjlok 11,57 Persen, Tekanan Investor Asing Jadi Perhatian
Potensi investasi saham BMRI tersebut muncul setelah pasar modal Indonesia mengalami tekanan besar pada pekan lalu.
IHSG tercatat anjlok 11,57 persen dalam sehari hingga aktivitas perdagangan sempat dihentikan sementara.
Gejolak tersebut dipengaruhi kekhawatiran investor terhadap konsultasi MSCI mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Kemungkinan perubahan klasifikasi tersebut meningkatkan ketidakpastian pasar dan mendorong tekanan penjualan saham.
Investor asing tercatat melakukan jual bersih sekitar Rp3,4 triliun dalam sehari. Sementara itu, akumulasi jual bersih investor asing sepanjang tahun mencapai Rp114 triliun di pasar reguler.
Tekanan jual tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor sebelum mengambil keputusan pembelian saham, termasuk saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BMRI.
Jason menilai dukungan dana investor domestik berpotensi membantu meredam tekanan pasar dalam jangka pendek. Namun, pemulihan pasar yang berkelanjutan masih bergantung pada kepercayaan investor, khususnya investor asing.
Keberhasilan reformasi pasar modal Indonesia sebelum MSCI mengambil keputusan juga menjadi faktor penting dalam menentukan arah pemulihan kepercayaan tersebut.
Jusuf Hamka Turut Melirik Saham Bank Mandiri
Di tengah penurunan harga saham perbankan, pengusaha Jusuf Hamka atau Babah Alun juga menyampaikan ketertarikannya terhadap saham Bank Mandiri.
Selain BMRI, ia mencermati sejumlah saham bank besar lainnya, yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
“Karena saya lihat banyak saham-saham blue chip yang memberikan dividen cukup baik. Kita lihat ada Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BCA,” ujar Jusuf.
Menurut pengamatannya, saham BMRI pernah berada pada kisaran Rp6.000 hingga Rp7.000 sebelum mengalami penurunan ke rentang Rp3.300 hingga Rp3.400.
Jusuf memperhitungkan bahwa dengan asumsi dividen sekitar Rp450 per saham dan harga pembelian Rp3.500, imbal hasil dividen dapat berada pada kisaran 12 persen.
“Ini lebih bagus daripada deposito. Dan, Bank Mandiri banknya pemerintah. Enak makan, enak tidur kita,” ujar dia.
Perhitungan Jusuf tersebut menggunakan asumsi harga dan dividen yang berbeda dari estimasi dividend yield yang disampaikan Jason. Karena itu, kedua angka tidak dapat dibandingkan secara langsung tanpa mengetahui dasar perhitungan masing-masing.
Jusuf bersama konsorsium pengusaha juga menyatakan kesiapan membeli saham di bursa dengan nilai hingga Rp5 triliun sebagai respons terhadap peluang yang muncul setelah koreksi pasar.
Bagi investor jangka panjang, penurunan harga saham BMRI membuka peluang memperoleh imbal hasil dividen lebih tinggi dibandingkan ketika harga saham berada pada level sebelumnya.
Meski demikian, estimasi dividend yield hingga 19 persen tetap perlu dipandang sebagai proyeksi, bukan jaminan hasil investasi. Perubahan harga saham, ketidakpastian pasar, dan kemampuan perusahaan mempertahankan pembayaran dividen menjadi risiko yang perlu diperhitungkan sebelum berinvestasi.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















