Headline.co.id, Jakarta ~ Stok nasional Pertalite (RON 90) turun dari sebelumnya di atas 20 hari menjadi 16-18 hari. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan penurunan stok Pertalite terjadi karena konsumen beralih dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi. Pergeseran konsumsi itu dipicu disparitas harga Pertamax (RON 92) dan Pertalite. Bahlil menyampaikan kondisi tersebut melalui keterangan resmi pada Jumat (16/10/2026).
Menurut Bahlil, lonjakan permintaan Pertalite terjadi setelah harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026. Kenaikan harga tersebut mendorong sebagian masyarakat yang sebelumnya menggunakan Pertamax beralih ke Pertalite.
Bahlil mengatakan penurunan stok Pertalite tidak berarti persediaan BBM tersebut berada di bawah standar minimal. Pemerintah, kata dia, tengah mempercepat proses blending atau pencampuran BBM untuk memproduksi Pertalite di fasilitas kilang.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Secara stok nasional kita, BBM itu di 16–18 hari. Yang terjadi pergeseran dari 16–18 hari itu adalah RON 90 (Pertalite). Tapi di 16–18 hari itu kan bukan berarti kita kekurangan standar minimal. Untuk mencapai di angka 20 hari itu ya kita butuh waktu seminggu, seminggu selesai,” ujar Bahlil.
Stok Pertalite Diproyeksikan Kembali ke 20 Hari
Bahlil optimistis stok Pertalite secara nasional dapat kembali ke level normal, yakni sekitar 20 hari, dalam waktu kurang lebih satu pekan. Percepatan blending dilakukan untuk merespons tingginya permintaan terhadap BBM beroktan 90 tersebut.
Sementara itu, kondisi BBM jenis lain dilaporkan tetap aman. Biosolar, Pertamax Green, dan Pertamax Turbo disebut tidak mengalami kendala dalam penyaluran.
Pemerintah menilai perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi faktor utama yang memengaruhi ketersediaan Pertalite. Konsumen yang sebelumnya menggunakan BBM nonsubsidi beralih ke BBM bersubsidi karena perbedaan harga yang cukup besar.
Data BPH Migas Catat Konsumsi Pertalite Naik
Data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menunjukkan konsumsi Pertalite meningkat setelah harga Pertamax mengalami kenaikan pada 10 Juni 2026.
Pada pertengahan Juni 2026, penyaluran Pertalite naik 9,19 persen menjadi 82.760 kiloliter (KL) per hari. Kenaikan konsumsi tersebut kemudian berlanjut hingga Juli 2026.
Pada Juli, penyaluran Pertalite mencapai titik tertinggi dengan kenaikan 12,92 persen atau sebesar 85.589 KL per hari. Angka itu meningkat dibandingkan rata-rata konsumsi awal yang berada di level 75.795 KL per hari.
Konsumsi Pertalite kemudian turun menjadi 84.368 KL per hari pada Agustus 2026. Namun, jumlah tersebut masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata awal konsumsi Pertalite.
Pergeseran Konsumsi Terjadi karena Selisih Harga
Bahlil menegaskan, perbedaan harga Pertamax dan Pertalite menjadi penyebab utama pergeseran konsumsi. Setelah harga Pertamax meningkat menjadi Rp16.250 per liter, permintaan terhadap Pertalite meningkat karena sebagian konsumen memilih BBM bersubsidi.
Pergeseran tersebut berdampak langsung terhadap stok nasional Pertalite yang sebelumnya berada di atas 20 hari. Kini, stoknya berada pada kisaran 16-18 hari.
Meski demikian, Bahlil memastikan kondisi tersebut masih berada dalam batas standar minimal. Dengan percepatan proses blending di kilang, stok Pertalite diperkirakan kembali mencapai sekitar 20 hari dalam waktu satu pekan.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















