Headline.co.id, Jakarta ~ BBRI menjadi saham dengan nilai pembelian bersih investor asing terbesar di pasar reguler sepanjang perdagangan 18-21 Agustus 2026. Dalam periode tersebut, investor asing membukukan net buy saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp745,3 miliar, ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak di atas level psikologis 6.500.
Akumulasi asing terhadap BBRI semakin menonjol karena nilainya jauh melampaui saham-saham lain yang masuk jajaran pembelian bersih terbesar. Saham BBRI juga menguat 2,87 persen menjadi Rp3.230 pada penutupan Jumat (21/8/2026) dan memberikan kontribusi 14,01 poin terhadap pergerakan IHSG.
Arus masuk ke BBRI tidak hanya terlihat dalam hitungan beberapa hari perdagangan. Dalam periode satu bulan hingga Senin (24/8/2026), investor asing tercatat mengakumulasi saham bank BUMN tersebut dengan net buy mencapai Rp1,53 triliun, menunjukkan kuatnya minat terhadap saham perbankan berkapitalisasi besar di tengah rebound pasar.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
BBRI Ungguli BBCA dalam Net Buy Asing
Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun dari Stockbit dalam bahan artikel, BBRI menempati posisi pertama saham dengan net buy asing terbesar di pasar reguler selama 18-21 Agustus 2026.
Nilai pembelian bersih BBRI mencapai Rp745,3 miliar.
Posisi kedua ditempati PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan net buy Rp409,1 miliar, disusul PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar Rp329,1 miliar.
Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) berada di posisi keempat dengan net buy Rp251,2 miliar, sedangkan PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) mencatat Rp133,6 miliar.
Besarnya selisih antara BBRI dan saham lain memperlihatkan saham BRI menjadi salah satu tujuan utama dana asing selama periode tersebut.
Daftar 10 Saham yang Paling Banyak Diborong Asing
Berikut daftar saham dengan net buy asing terbesar di pasar reguler sepanjang 18-21 Agustus 2026 berdasarkan data dalam bahan:
- Bank Rakyat Indonesia (BBRI) — Rp745,3 miliar
- Bank Central Asia (BBCA) — Rp409,1 miliar
- Amman Mineral Internasional (AMMN) — Rp329,1 miliar
- Aneka Tambang (ANTM) — Rp251,2 miliar
- J Resources Asia Pasifik (PSAB) — Rp133,6 miliar
- Timah (TINS) — Rp125,1 miliar
- Bumi Resources Minerals (BRMS) — Rp88,6 miliar
- Barito Pacific (BRPT) — Rp40,1 miliar
- Bank Negara Indonesia (BBNI) — Rp38,6 miliar
- Vale Indonesia (INCO) — Rp37,3 miliar
Daftar tersebut memperlihatkan dua kelompok saham yang banyak menjadi tujuan dana asing, yakni perbankan berkapitalisasi besar serta saham berbasis komoditas dan pertambangan.
BBRI Jadi Penopang IHSG
Akumulasi asing pada BBRI terjadi bersamaan dengan penguatan harga sahamnya.
Pada perdagangan Jumat (21/8/2026), BBRI ditutup di level Rp3.230 per saham setelah menguat 2,87 persen.
Kenaikan itu membuat BBRI disebut menjadi salah satu penopang utama IHSG dengan kontribusi sebesar 14,01 poin.
IHSG pada hari yang sama berakhir di posisi 6.525,69, naik 0,37 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan tersebut memperkuat gambaran bahwa saham-saham berkapitalisasi besar kembali menjadi salah satu motor penguatan indeks.
Ada Apa dengan Saham BRI?
Besarnya pembelian asing pada BBRI dapat dilihat dari pola umum investor global ketika pasar mulai pulih setelah mengalami koreksi.
Dalam bahan Bareksa disebutkan bahwa dana asing yang keluar lebih dahulu ketika sentimen memburuk biasanya juga menjadi pihak yang kembali lebih cepat ketika kondisi pasar membaik.
“Dana asing yang keluar duluan saat sentimen memburuk, biasanya juga yang masuk duluan saat sentimen membaik,” demikian disebutkan dalam materi Bareksa.
Investor global dalam kondisi seperti itu cenderung memilih saham berkapitalisasi besar dan memiliki likuiditas tinggi.
“Bagi investor global, pilihan pertama cenderung masuk ke saham-saham besar dan likuid, bukan saham lapis kedua atau ketiga,” tulis Bareksa.
BBRI termasuk dalam kelompok saham tersebut bersama sejumlah bank besar lainnya.
Likuiditas menjadi faktor penting karena investor asing yang mengelola dana besar membutuhkan saham yang dapat dibeli maupun dijual dalam jumlah signifikan tanpa terlalu banyak mengganggu harga pasar.
Koreksi Harga Membuat Valuasi Kembali Diperhatikan
Selain faktor likuiditas, valuasi juga menjadi salah satu pertimbangan.
Bahan Bareksa menyebutkan, koreksi pasar pada awal tahun sempat menekan harga sejumlah saham berkapitalisasi besar dari level sebelumnya.
Ketika pasar mulai mengalami rebound, saham-saham yang telah terkoreksi dapat kembali menarik perhatian karena valuasinya tidak lagi berada pada posisi setinggi ketika harga berada di puncak.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong investor kembali melihat saham-saham bank besar.
Namun, bahan yang tersedia tidak mencantumkan rasio valuasi khusus BBRI maupun target harga tertentu.
Dengan demikian, tingginya net buy asing tidak dapat dibaca sebagai kepastian harga BBRI akan terus mengalami kenaikan.
Ekspektasi Suku Bunga Jadi Sentimen Saham Perbankan
Faktor lain yang ikut memengaruhi minat terhadap saham perbankan adalah ekspektasi arah suku bunga.
Menurut bahan Bareksa, saham bank berpotensi memperoleh manfaat ketika ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter menguat.
Biaya dana yang lebih rendah dapat menjadi salah satu faktor pendukung bisnis perbankan.
Pada saat yang sama, aktivitas ekonomi yang membaik berpotensi mendorong permintaan kredit.
Kombinasi tersebut membuat saham perbankan menjadi salah satu sektor yang diperhatikan investor ketika ekspektasi terhadap penurunan suku bunga mulai muncul.
Net Buy BBRI Sebulan Capai Rp1,53 Triliun
Minat asing terhadap saham BRI tidak terbatas pada periode 18-21 Agustus.
Dalam sebulan hingga 24 Agustus 2026, investor asing membukukan net buy BBRI sebesar Rp1,53 triliun.
Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan net buy asing pada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang mencapai Rp180,07 miliar dalam periode yang sama.
Menariknya, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) justru mengalami kondisi berlawanan.
Investor asing membukukan net sell BMRI sebesar Rp1,53 triliun dalam satu bulan.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa investor global tidak memperlakukan seluruh saham bank BUMN dengan strategi yang sama.
BBRI mendapatkan akumulasi besar, BBNI masih memperoleh net buy dengan nilai lebih kecil, sementara BMRI menghadapi tekanan jual asing.
Asing Masuk Rp2,23 Triliun ke Pasar Saham Indonesia
Akumulasi saham BBRI juga menjadi bagian dari derasnya aliran dana asing ke pasar saham domestik.
Sepanjang perdagangan 18-21 Agustus 2026, investor asing mencatat pembelian bersih sebesar Rp2,23 triliun di seluruh pasar.
Jumlah tersebut terdiri dari net buy Rp548,58 miliar di pasar reguler dan Rp1,68 triliun di pasar negosiasi dan tunai.
Arus dana tersebut berlangsung ketika IHSG melanjutkan pemulihan setelah sebelumnya mengalami tekanan.
Pada Juli 2026, IHSG disebut mencatat kenaikan bulanan sekitar 10 persen, menjadi penguatan bulanan terbaik sejak September 2010 berdasarkan bahan artikel.
Pada periode itu, dana asing juga masuk sekitar Rp1,3 triliun ke BBCA dan sekitar Rp400 miliar ke TINS.
Pola tersebut memperlihatkan kecenderungan investor asing kembali mengakumulasi saham likuid dan berkapitalisasi besar ketika optimisme terhadap pasar meningkat.
Saham Tambang Ikut Diburu
Meski BBRI memimpin pembelian bersih, dana asing tidak hanya terkonsentrasi pada saham perbankan.
Sektor komoditas dan pertambangan juga mencatat arus masuk cukup besar.
AMMN membukukan net buy Rp329,1 miliar, ANTM Rp251,2 miliar, PSAB Rp133,6 miliar, dan TINS Rp125,1 miliar.
Selain itu, BRMS memperoleh net buy Rp88,6 miliar dan INCO Rp37,3 miliar.
Komposisi tersebut menunjukkan investor asing memilih sejumlah saham besar dari sektor keuangan maupun komoditas dalam menangkap momentum penguatan pasar.
Pasar Masih Dibayangi Sentimen Eksternal
Besarnya net buy asing pada BBRI belum serta-merta menjamin tren tersebut akan berlanjut.
Dalam bahan artikel disebutkan, pasar masih mencermati sejumlah faktor eksternal, termasuk eskalasi konflik Amerika Serikat-Iran, pergerakan yield US Treasury, dan risalah FOMC terkait arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Perubahan pada faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi selera risiko investor global dan aliran dana menuju negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari dalam negeri, investor juga menunggu data Neraca Pembayaran Indonesia dan transaksi berjalan kuartal II-2026 dari Bank Indonesia.
Data tersebut menjadi salah satu indikator untuk melihat kemampuan Indonesia mempertahankan arus modal asing.
Net Buy Besar Jadi Sinyal Minat, Bukan Jaminan Harga
Pembelian bersih BBRI sebesar Rp745,3 miliar selama 18-21 Agustus 2026 memperlihatkan kuatnya minat asing terhadap saham BRI pada periode tersebut.
Tren yang sama terlihat dalam periode lebih panjang dengan net buy mencapai Rp1,53 triliun dalam sebulan hingga 24 Agustus 2026.
Likuiditas yang tinggi, status sebagai saham berkapitalisasi besar, valuasi setelah koreksi, serta ekspektasi terhadap arah suku bunga menjadi sejumlah faktor yang dapat menjelaskan mengapa saham perbankan seperti BBRI kembali menjadi perhatian investor global.
Namun, arus dana asing dapat berubah mengikuti perkembangan sentimen makroekonomi dan kondisi pasar. Karena itu, net buy asing lebih tepat dipahami sebagai indikator minat investor pada periode tertentu, bukan sebagai jaminan bahwa harga saham BBRI akan terus naik.

















