Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendorong masyarakat membudayakan pemeriksaan dan perawatan gigi sejak dini untuk mencegah masalah kesehatan gigi dan mulut. Imbauan tersebut disampaikan Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, dalam peringatan Hari Kesehatan Gigi Nasional (HKGN) 2026 di Gedung Prof. Siwabessy, Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (14/10/2026). Menurut Kemenkes, pencegahan perlu dilakukan melalui kebiasaan membersihkan gigi secara teratur, membatasi makanan dan minuman tinggi gula, serta menjalani pemeriksaan berkala tanpa menunggu rasa sakit.
Dorongan tersebut disampaikan karena tingginya masalah gigi dan mulut di Indonesia belum diimbangi kesadaran masyarakat untuk mencari pengobatan. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 56,9 persen penduduk berusia 3 tahun ke atas mengalami masalah gigi dan mulut.
Pada kelompok anak, prevalensi karies usia 5–9 tahun mencapai 84,8 persen. Namun, hanya 11,2 persen masyarakat yang mengalami masalah gigi dan mulut mencari pengobatan dari tenaga medis.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Hal itu menunjukkan bahwa kita perlu bergerak lebih kuat dan tidak sekadar mengobati ketika masalah sudah terjadi. Kita perlu membangun kebiasaan sejak dini, memperkuat pemeriksaan dan deteksi dini, memastikan masalah yang ditemukan ditindaklanjuti, serta menjaga kesehatan gigi dan mulut secara konsisten,” ujar Andi dalam sambutannya.
Perawatan gigi dimulai dari kebiasaan anak
HKGN 2026 mengusung tema “Gigi Kuat, Senyum Sehat, Indonesia Hebat” dengan subtema “Periksa, Tindak Lanjuti, Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut”. Peringatan tersebut menekankan tiga hal, yakni pemeriksaan berkala, tindak lanjut atas masalah yang ditemukan, serta perawatan gigi dan mulut secara konsisten.
Melalui kegiatan edukatif dan interaktif Smile Generation, anak-anak diajak memahami bahwa gigi berlubang dapat dicegah. Pencegahan dilakukan dengan membersihkan gigi secara teratur serta membatasi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula.
“Anak perlu memahami bahwa gigi berlubang dapat dicegah, gigi perlu dibersihkan secara teratur, makanan dan minuman tinggi gula perlu dibatasi, dan pemeriksaan gigi tidak perlu ditunggu sampai muncul rasa sakit,” kata Andi.
Kemenkes menilai kebiasaan tersebut perlu dibangun sejak anak-anak agar perawatan gigi tidak hanya dilakukan ketika gangguan kesehatan sudah muncul. Pemeriksaan juga perlu menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan gigi dan mulut secara berkelanjutan.
Skrining di sekolah harus ditindaklanjuti
Kemenkes mendorong kerja sama sektor kesehatan dan pendidikan untuk menanamkan kebiasaan hidup sehat di lingkungan sekolah. Edukasi kesehatan gigi dan kegiatan sikat gigi bersama diharapkan dapat berlangsung secara rutin, bukan hanya saat peringatan tertentu.
Selain edukasi, hasil skrining kesehatan gigi dan mulut di sekolah perlu ditindaklanjuti sesuai kebutuhan pelayanan. Anak yang memerlukan penanganan harus diarahkan untuk memperoleh layanan kesehatan, termasuk di Puskesmas.
Dengan demikian, pemeriksaan tidak berhenti pada pencatatan hasil skrining. Temuan yang membutuhkan penanganan harus dihubungkan dengan layanan kesehatan sesuai kebutuhannya.
“Dengan pola tersebut, sekolah, keluarga, dan fasilitas kesehatan menjadi satu ekosistem yang saling menguatkan. Setiap temuan perlu ditindaklanjuti sesuai kebutuhan pelayanan,” tutur Andi.
Peran keluarga, sekolah, dan fasilitas kesehatan
Dalam peringatan HKGN 2026, Kemenkes mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, jajaran dinas kesehatan dan pendidikan, Puskesmas, organisasi profesi, guru, serta anggota Pramuka Saka Bakti Husada dalam mendukung peningkatan kesehatan gigi dan mulut.
Anggota Saka Bakti Husada diharapkan dapat menjadi teladan dalam menerapkan perilaku hidup sehat, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Peran tersebut diharapkan turut memperkuat edukasi mengenai pentingnya merawat gigi secara teratur.
Andi juga mengajak anak-anak menjadikan perawatan gigi sebagai kebiasaan mandiri. Kebiasaan itu diharapkan membantu menjaga kesehatan gigi dan mulut sekaligus meningkatkan kepercayaan diri.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















