Headline.co.id, Jakarta ~ Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi perhatian investor setelah indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam pada pekan lalu. Pengusaha Jusuf Hamka atau Babah Alun bersama sejumlah pengusaha melirik saham BMRI karena dinilai memiliki fundamental kuat dan menawarkan potensi imbal hasil dividen yang menarik. Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali, pada Senin (19/10/2026), turut menyoroti peluang investasi jangka panjang di tengah penurunan harga saham perbankan. Namun, investor diingatkan tetap berhati-hati karena gejolak pasar dan tekanan jual asing masih berpotensi memengaruhi pergerakan harga saham.
Peluang investasi BMRI mencuat setelah IHSG anjlok 11,57 persen dalam sehari hingga perdagangan sempat dihentikan sementara. Penurunan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI), dari emerging market menjadi standalone market.
Meski tekanan pasar masih berlangsung, BMRI dinilai memiliki daya tarik bagi investor yang mengutamakan pendapatan dividen. Jason memperkirakan potensi dividend yield atau imbal hasil dividen saham Bank Mandiri mencapai sekitar 16 persen dan dapat meningkat menjadi 19 persen apabila harga saham kembali menyentuh batas auto rejection bawah (ARB).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Analis Nilai Fundamental BMRI Tidak Berubah akibat Gejolak Pasar
Jason Gozali menilai koreksi harga saham perbankan berkapitalisasi besar dapat menjadi peluang bagi investor jangka panjang. Menurut dia, penurunan harga saham dalam waktu singkat tidak selalu mencerminkan perubahan kondisi fundamental perusahaan.
“Fundamental bank juga tidak berubah dalam semalam, karena yang bergerak liar adalah sentimen, bukan kinerja,” ungkap Jason di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Ia menjelaskan bahwa penurunan harga saham dapat meningkatkan persentase imbal hasil dividen apabila besaran dividen per saham tetap terjaga.
Dengan perkiraan dividend yield BMRI sekitar 16 persen, investor berpotensi memperoleh pendapatan dividen yang relatif besar dibandingkan harga pembelian saham. Bahkan, potensi tersebut diperkirakan meningkat menjadi sekitar 19 persen apabila harga saham mengalami koreksi lebih lanjut.
Dalam simulasi dengan asumsi dividen per saham tetap stabil dan tidak ada perubahan harga pembelian, akumulasi dividen pada tingkat imbal hasil mendekati 19 persen secara teoretis dapat mendekati nilai modal awal dalam waktu sekitar lima tahun.
Namun, perhitungan tersebut merupakan simulasi dan bukan jaminan keuntungan. Besaran dividen yang dibagikan perusahaan pada masa mendatang dapat berubah mengikuti kebijakan serta kinerja keuangan perseroan.
Jason juga mengingatkan investor agar tidak terburu-buru membeli saham dalam jumlah besar sekaligus karena ketidakpastian pasar masih cukup tinggi.
“Kami tidak menyarankan masuk sekaligus,” tegasnya.
Menurut pandangan Pluang Maju Sekuritas, pembelian saham secara bertahap dengan pengaturan porsi investasi lebih bijaksana dibandingkan berupaya menebak titik terendah harga saham.
Jusuf Hamka Lirik BMRI, BBRI, BBNI, dan BBCA
Ketertarikan terhadap saham BMRI juga disampaikan pengusaha Jusuf Hamka. Pria yang akrab disapa Babah Alun tersebut melihat peluang investasi pada sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar setelah mengalami penurunan harga.
Selain Bank Mandiri, saham perbankan yang menjadi perhatiannya meliputi PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
“Karena saya lihat banyak saham-saham blue chip yang memberikan dividen cukup baik. Kita lihat ada Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BCA,” ujar Jusuf.
Ia menilai sejumlah saham bank besar memiliki fundamental yang kuat dan mampu membagikan dividen secara rutin. Penurunan harga saham juga membuat potensi imbal hasil dividen menjadi lebih menarik.
Sebagai contoh, Jusuf menyebut saham BMRI sebelumnya pernah diperdagangkan pada kisaran Rp6.000 hingga Rp7.000 per saham. Namun, berdasarkan pengamatannya, harga saham tersebut telah turun ke rentang Rp3.300 hingga Rp3.400.
Dengan asumsi pembagian dividen sekitar Rp450 per saham dan harga pembelian Rp3.500, Jusuf memperkirakan potensi imbal hasil dividen berada pada kisaran 12 persen. Secara matematis, asumsi tersebut menghasilkan dividend yield sekitar 12,86 persen.
“Ini lebih bagus daripada deposito. Dan, Bank Mandiri banknya pemerintah. Enak makan, enak tidur kita,” ujar dia.
Meskipun demikian, investasi saham memiliki risiko perubahan harga dan ketidakpastian pembagian dividen yang berbeda dari karakteristik simpanan deposito.
Konsorsium Jusuf Hamka Siapkan Dana hingga Rp5 Triliun
Ketertarikan Jusuf Hamka terhadap saham perbankan muncul ketika pasar modal Indonesia menghadapi tekanan jual yang cukup besar.
Pada pekan lalu, IHSG mengalami penurunan 11,57 persen dalam sehari. Kondisi tersebut disertai penghentian sementara perdagangan akibat tekanan pasar.
Gejolak dipengaruhi sentimen negatif terkait konsultasi MSCI mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Tekanan tersebut turut mendorong investor asing melakukan penjualan saham. Nilai jual bersih investor asing tercatat sekitar Rp3,4 triliun dalam sehari, sedangkan akumulasi jual bersih sepanjang tahun mencapai Rp114 triliun di pasar reguler.
Di tengah kondisi tersebut, Jusuf Hamka bersama konsorsium pengusaha menyatakan kesiapan membeli saham di bursa dengan nilai mencapai Rp5 triliun.
Jason menilai rencana pembelian tersebut menunjukkan adanya investor domestik yang mulai melihat peluang investasi setelah harga sejumlah saham mengalami penurunan tajam.
Dukungan pasar juga berpotensi datang dari Danantara yang disebut memiliki kesiapan dana sekitar Rp17,89 triliun.
Namun, Jason mengingatkan bahwa keberadaan dana domestik belum tentu mampu menjamin pemulihan pasar saham secara berkelanjutan.
Menurut dia, dukungan pembelian dari investor dalam negeri berpotensi membantu meredam tekanan dalam jangka pendek. Sementara itu, pemulihan kepercayaan investor asing tetap bergantung pada keberhasilan reformasi pasar modal sebelum MSCI mengambil keputusan mengenai klasifikasi pasar Indonesia.
Bank Mandiri Klarifikasi Kredit Jhonlin Baratama
Di luar perkembangan harga saham BMRI, Bank Mandiri juga memberikan penjelasan mengenai fasilitas kredit yang melibatkan perusahaan terafiliasi dengan grup usaha milik pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam.
Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 16 Oktober 2026, Bank Mandiri menjelaskan penggunaan saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) sebagai bagian dari jaminan fasilitas kredit.
Klarifikasi tersebut disampaikan setelah BEI meminta penjelasan terkait dugaan penggunaan kredit PT Jhonlin Baratama untuk mengakuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN).
Bank Mandiri menegaskan bahwa fasilitas kredit kepada Jhonlin Baratama ditujukan untuk pengembangan usaha dan kebutuhan operasional, bukan untuk pembelian saham di pasar modal.
Senior Vice President Bank Mandiri, Adhika Vista, menjelaskan bahwa fasilitas pembiayaan tersebut mencakup belanja modal, kebutuhan perusahaan dan grup usaha, serta kegiatan bisnis di sektor batu bara beserta industri pendukungnya.
“Fasilitas kredit yang ditujukan dalam rangka pengembangan usaha meliputi capex serta kebutuhan pembiayaan Perusahaan dan Group Usaha di industri Batu Bara dan Penunjangnya,” ujar Adhika dalam keterbukaan informasi yang dikutip pada 18 Oktober 2026.
Menurut Adhika, keputusan pemberian kredit mempertimbangkan kebutuhan pendanaan, kelayakan usaha, serta kemampuan debitur memenuhi kewajiban pembayaran.
Bank Mandiri juga melakukan analisis berdasarkan tiga pilar kualitas kredit sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yakni prospek usaha, kinerja keuangan, dan kemampuan membayar.
Posisi Jhonlin Baratama sebagai perusahaan operasional yang menghasilkan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi atau EBITDA turut menjadi pertimbangan.
Selain itu, Bank Mandiri memperhitungkan hubungan bisnis dalam ekosistem Jhonlin Group serta potensi pendapatan dari anak perusahaan.
“Pemberian fasilitas kredit juga mempertimbangkan realisasi bisnis ekosistem Jhonlin Group di berbagai industri dengan Bank, potensi bisnis kedepan, termasuk pengenaan pricing mempertimbangkan profitabilitas Bank,” ujar Adhika.
Saham JARR dan PGUN Dijadikan Agunan Kredit
Bank Mandiri menjelaskan bahwa jaminan pembiayaan tidak hanya berupa saham, tetapi juga mencakup aset tetap, aset tidak tetap, serta rekening perusahaan.
Penilaian saham sebagai agunan mengacu pada Pasal 4 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 40/POJK.03/2017 dan kebijakan internal Bank Mandiri.
“Agunan saham merupakan sumber pelunasan sekunder atau second way out dan dinilai secara konservatif,” ujar Adhika.
Dengan demikian, saham yang dijaminkan berfungsi sebagai sumber pelunasan cadangan apabila sumber pembayaran utama tidak mencukupi.
Berdasarkan keterbukaan informasi pada 7 Oktober 2026, tiga pemegang saham PGUN telah menjaminkan seluruh kepemilikannya sebagai jaminan fasilitas kredit perusahaan terafiliasi.
PT Araya Agro Lestari (AAL) menjaminkan sebanyak 2.205.667.896 saham PGUN. Sementara itu, PT Citra Agro Raya (CAR) menjaminkan 2.194.718.786 saham dan PT Baramega Citra Mulia Persada (BCMP) menjaminkan 900.000.250 saham.
Ketiga perusahaan tersebut menyatakan bahwa penggadaian saham dilakukan untuk menjamin fasilitas pembiayaan yang diperoleh perusahaan terafiliasi.
“Sebagai jaminan atas fasilitas kredit yang diperoleh afiliasi Perseroan,” demikian keterangan tujuan penggadaian saham dalam keterbukaan informasi tersebut.
Sementara itu, PT Eshan Agro Sentosa selaku pengendali utama JARR juga melakukan pengikatan jaminan pada 30 September 2026.
Perusahaan tersebut menggadaikan seluruh kepemilikannya sebanyak 7.997.556.204 saham JARR sebagai tambahan jaminan atas fasilitas kredit yang diterima JARR dari Bank Mandiri.
Direktur Utama JARR, Indra Irawan, menjelaskan bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari pengikatan jaminan atas fasilitas pembiayaan perseroan.
“Penandatangan Akta Gadai Saham milik PT Eshan Agro Sentosa, yang merupakan pengendali dari perseroan dalam rangka bagian dari pengikatan jaminan atas fasilitas kredit yang diperoleh perseroan dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk,” ujar Indra dalam keterbukaan informasi pada 7 Oktober 2026.
Meski telah memberikan penjelasan mengenai tujuan kredit dan mekanisme penjaminan, Bank Mandiri tidak mengungkapkan nilai fasilitas kredit kepada Jhonlin Baratama maupun estimasi nilai saham yang dijadikan agunan.
Bank Mandiri Tegaskan Prinsip Kehati-hatian dalam Pembiayaan
Bank Mandiri menyatakan bahwa pemberian kredit tetap dilaksanakan dengan mempertimbangkan kelayakan usaha, kemampuan membayar debitur, kecukupan jaminan, serta penerapan manajemen risiko.
Perseroan juga melakukan pemantauan berkala terhadap kualitas kredit untuk menjaga kesehatan keuangan dan kualitas aset.
“Perseroan juga akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kualitas kredit secara berkala sebagai bagian dari komitmen menjaga kualitas aset, kesehatan keuangan, serta kepercayaan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Adhika.
Penjelasan tersebut menjadi bagian dari respons Bank Mandiri terhadap permintaan klarifikasi BEI mengenai penggunaan agunan saham dan tujuan fasilitas pembiayaan.
Sementara itu, dari sisi perdagangan saham, BMRI tetap menjadi salah satu emiten perbankan yang diperhatikan investor setelah penurunan tajam IHSG.
Potensi dividen yang dinilai menarik oleh Jusuf Hamka dan Jason Gozali menjadi salah satu pertimbangan investasi jangka panjang. Namun, ketidakpastian pasar, perubahan harga saham, dan keberlanjutan pembagian dividen tetap menjadi faktor risiko yang perlu diperhitungkan sebelum mengambil keputusan investasi.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















